AKHLAKAL-QUR'ANCERAMAHMUTIARA QOLBURAMADHAN

Rangkuman Ceramah Tarawih Malam ke-12 Ustaz Zainal Syah: Memaafkan

Ustaz Zainal Syah, yang merupakan Kepala SMA IT Al-Wahdah Bombana membawakan ceramah tarawih pada malam ke-12 ini atau tepat pada Sabtu (23/03/2024).

Judul yang disampaikan pada awal ceramah tarawih adalah Memaafkan. Pada permulaan ceramah, beliau menyampaikan bahwa manusia adalah makhluk sosial, artinya selalu butuh pertolongan orang lain.

Namun, bisa saja terjadi pertentangan, yang disebut dengan konflik sosial. Jika sudah terjadi konflik, maka akan memunculkan rasa marah.

Ketika kita menahan marah, maka kita bisa sakit. Ibaratnya, paku yang ditancapkan di kayu. Saat dicabut, bekasnya masih ada dan susah hilang.

Penyelesaian Masalah

Masalah dapat terselesaikan dengan memaafkan. Akan tetapi, kadang kita menunggu orang tersebut, atau orang yang bersalah kepada kita, untuk meminta maaf. Lalu, kapan hal itu akan terjadi? Seharusnya kitalah yang memberikan maaf.

Tentang memaafkan ini, disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah An-Nur ayat 22.

وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dahsyatnya memaafkan terdapat dalam kisah berikut ini. Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

Dia menjawab, ‘Silakan!’

Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.

Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.

Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”

Az-Zuhdu, Ibnul Mubarak, hal. 220 (alsofwah.or.id)

Keutamaan tentang memaafkan demi persaudaraan sesama muslim disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Fussilat ayat 34:

وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

Artinya: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”

Begitu pula surah yang sama, ayat ke-35:

وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Artinya: “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”

Sampai di sini, kapan kita mau memaafkan orang lain? Bagaimana jika orang lain masuk neraka, sementara kita tenang-tenang saja? Apakah kita tidak mau menggandeng tangan saudara kita untuk sama-sama ke surga? Semoga tidak sampai seperti itu.

Wallahu ‘alam bishawab.

Sumber:

  1. https://tafsirweb.com/6150-surat-an-nur-ayat-22.html
  2. https://kisahmuslim.com/440-menjadi-penghuni-surga-karena-tidak-hasad.html
  3. https://tafsirweb.com/9016-surat-fussilat-ayat-34.html
  4. https://tafsirweb.com/9017-surat-fussilat-ayat-35.html
Jika tulisan di atas bermanfaat untuk orang lain, silakan like dan dishare, ya! Syukron wa jazakumullah khairan katsira, terima kasih.
Loading spinner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *