EVENTINFO WAHDAH

Belajar PHBS Saat Idul Kurban, DPW WI Sultra Selenggarakan Webinar Melalui Zoom

Tinggal menunggu waktu, Hari Raya Idul Adha atau yang dikenal juga dengan Idul Kurban dilaksanakan, Insya Allah. Tepatnya besok, Senin tanggal 17 Juni 2024. Apa saja yang perlu dipersiapkan?

Berbagai daerah di Indonesia, bahkan di negara-negara seluruh dunia, sudah mulai mempersiapkan Idul Qurban tersebut. Selain salat Idul Adha, ibadah yang juga penting dan sangat mulia adalah penyembelihan hewan kurban. Kalau di Indonesia itu sapi dan kambing. Sedangkan di negara Timur Tengah, juga menyembelih unta.

Menyikapi hal tersebut, sekaligus sebagai kepedulian serta sesi pembelajaran kepada seluruh kader Wahdah Islamiyah se-Sulawesi Tenggara, Departemen Kesehatan, Olahraga, dan Kefarmasian Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah (WI) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyelenggarakan Webinar Idul Qurban melalui Zoom meeting untuk sharing tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat). Pertemuan online tersebut digelar tadi malam, Sabtu (16/06/2024) pukul 20.00 WITA bertepatan pula dengan tanggal 8 Zulhijjah 1445 Hijriyah.

Dua Pembicara, Pakar di Bidang Kesehatan

Ada dua pembicara atau narasumber yang dihadirkan. Yang pertama adalah Ustaz Assoc. Prof. Ir. H. Nusran, S.TP, MM, PhD, IPM, ASEAN Eng (Dewan Syuro Wahdah Islamiyah, Direktur HIDI (Halal Industry Development Institute) Indonesia. Sedangkan yang lainnya adalah Ustaz dr. Syamsuddin Ndingu, Sp.PD (Ketua Departemen Kesehatan, Olahraga, dan Kefarmasian DPP Wahdah Islamiyah).

Ustaz Made, yang merupakan penggerak dakwah juga dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) WI Bombana, menjadi moderator pada kegiatan tadi malam itu.

Sebelum materi dimulai atau disampaikan, Ustaz Muhammad Ihwan Kapai (Ketua Dewan Pengurus Wilayah WI Sultra) memberikan sambutan. Menurut beliau, jangan sampai hewan kurban ini meninggalkan efek yang tidak baik pada diri kita.

“Penyembelihan hewan kurban termasuk ibadah yang sangat agung. Dalilnya ada dalam Surah Al-Kautsar.” Kata beliau.

Ustaz Ihwan berharap agar panitia kurban diundang semua. Sekitar pukul 20.35 WITA, Ustaz Syamsuddin memulai materinya. Berbicara kesehatan, Ustaz Syamsuddin menganjurkan setiap peserta yang hadir untuk mengenali diri sendiri.

“Ada riwayat kesehatan pribadi. Ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu: tentang saluran cerna dan penyakit metabolik. Sedangkan yang kedua adalah riwayat kesehatan keluarga. Mungkin kita merasa baik-baik saja, tetapi ada potensi penyakit dari keluarga kita, seperti hipertensi, jantung, stroke, dan lain-lain.” Ujarnya.

Ustaz Syamsuddin juga memberikan prinsip umum diet sehat harian, “Gula empat sendok makan tiap hari, garam satu sendok teh, dan lemak lima sendok makan minyak.”

Bagaimana dengan kebiasaan umum saat Idul Kurban. Ustaz tersebut juga menjelaskan, “Konsumsi karbohidrat, lemak, protein, garam, purin, cabe, jeruk, meningkat. Aktivitas relatif berkurang, makan hingga kenyang. Selain itu, makan tergesa-gesa dan habis makan, langsung tidur.”

Agar Idul Kurban menjadi menyenangkan, Ustaz Syamsuddin memberikan tips, “Bergembiralah dengan hari Id, menerapkan pola hidup sehat, dan makan minum sesuai jenis, jumlah, waktu, dan adab makan.”

Lebih Jauh Tentang Manajemen Penyembelihan Hewan Kurban

Ustaz Nusran membuat slide yang menurutnya dibuat khusus untuk Wahdah Islamiyah Sulawesi Tenggara. Kata beliau, “Hewan yang disembelih adalah hewan yang boleh dimakan. Hewan harus dalam keadaan hidup ketika disembelih, dan kondisi hewan harus memenuhi standar kesehatan hewan yang ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan.”

Dari perkataan tersebut, Ustaz Nusran menambahkan, “Jadi, babi itu tidak bisa dimakan dan tidak bisa disembelih karena tidak punya leher.”

ASUH, adalah panduan yang disampaikan Ustaz Nusran terkait penyembelihan hewan kurban. “Aman, artinya tidak mengandung bahaya-bahaya biologis, kimiawi, dan fisika. Sehat mengandung bahan-bahan yang dapat menyehatkan manusia. Utuh, artinya tidak dikurangi atau dicampur dengan bahan atau daging lain, seperti celeng. Kalau babi itu albino, sedangkan celeng itu warna hitam karena babi hutan.”

H, yang terakhir dalam ASUH, adalah Halal, sesuai dengan syariat agama Islam. Masih tentang halal juga, beliau menasihati, “Ibu-ibu harus tahu makanan halal dan tidak, karena ibu-ibu adalah garda terdepan untuk menyediakan makanan bagi keluarga.”

Selain berupa tulisan, Ustaz Nusran juga memperlihatkan beberapa video tentang penyembelihan hewan kurban. Dalam video yang benar, hewan disembelih dalam sekali tarikan saking tajamnya pisau.

Juleha

Ustaz Nusran menyampaikan tentang perlu adanya Juleha. Tentu ini tidak ada kaitannya dengan nama perempuan atau nama akhwat, tetapi merupakan akronim yang kepanjangannya juru sembelih halal. Tiap masjid, kata beliau, harus ada 5-6 orang juleha, karena tiap tahun selalu mengadakan penyembelihan hewan kurban.

Untuk penyembelihannya sendiri, hewan kurban harus terpotong tiga saluran, yaitu: saluran udara, makanan, dan darah. Pemotongannya harus pas, tidak boleh terlalu ke atas karena itu berpotensi mengiris jakun, beresiko saluran pencernaan tidak terpotong, dan berpotensi memotong percabangan arteri karotis.

“Sedangkan jika terlalu ke bawah, maka itu adalah pembuluh darah di bawah otot yang tebal, pembuluh darah akan tertarik kedalam yang berpotensi membuat pembuluh darah tersumbat,” ujar beliau.

Penyembelihan hewan kurban, lebih afdhalnya, menurut Ustaz Nusran, adalah di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). “Kalau di masjid, harusnya dibuatkan tempat yang permanen.”

Ustaz Nusran memberikan petunjuk, “Hewan itu harus diperlakukan secara patut. Sapi jangan dibuat stres, jika stres, akan mengeluarkan asam laktat. Itu bisa membuat daging jadi berbau.

Aneh Tetapi Nyata

Masih dalam pemaparan Ustaz Nusran, ditampilkan video tentang seekor sapi yang sudah disembelih, sudah menyemburkan darah, tetapi si sapi masih tetap berdiri dengan tegak.

Bagaimana dengan indikator kesempurnaan penyembelihan? Nah, ini jawabannya menurut Ustaz Nusran, “Hewan kurban tidak meronta kesakitan, tidak menendang, tenggorokan bersih, dan tidak ada memar dan sisa darah.”

Ada larangan pada hewan yang sudah disembelih tetapi belum mati. “Menyiram tubuh hewan, terutama di luka sembelihan. Menyeret, memindahkan, dan menggantung hewan. Menguliti dan memisahkan kaki serta kepala. Jadi, bisa saja hewan kurban jadi mati karena dipotong kakinya, bukan karena disembelih. Menyatukan bagian leher yang sudah tersayat dan menusuk dada untuk mempercepat pengeluaran darah. Ini tidak boleh.”

Jika memang terjadi hewan yang belum mati karena disembelih, maka perlu dipotong lagi oleh orang yang pertama tadi menyembelih, tidak boleh orang lain, atau diganti orang yang baru.

Ketika Hewan Sembelihan Sudah Mati

Ada tiga cara untuk menetapkan status kematian hewan kurban. “Cara yang pertama adalah reflek kornea mata telah hilang. Aliran darah sudah tidak deras (tidak memancur). Yang ketiga adalah napas sudah hilang,” kata Ustaz Nusran.

Alat sembelih tidak boleh dipilih sembarangan. Tips dari Ustaz Nusran, “Pisau terbuat dari bahan anti karat (stainless steel). Ukuran minimal 1,5 kali lebar leher hewan, untuk kambing 20 sentimeter dan untuk sapi 30 sentimeter. Ujung pisau melengkung keluar, dan pisau harus sangat tajam.”

Dalam penyembelihan hewan kurban, rupanya ada titik-titik kritisnya. “Ini yang perlu dipahami, yaitu: penyebaran penyakit zoonotik, pada orang yang menangani penyembelihan dan pencacahan daging, orang yang mengonsumsi daging, bibit penyakit ke lingkungan, dan menular ke masyarakat dan hewan lain. Selain itu bisa terjadi stres pada hewan, penyiksaan dan kesakitan, dan pencemaran.” Ujar beliau lagi.

Rupanya, tukang sembelih hewan kurban juga harus punya prosedur tertentu, salah satunya adalah alat pelindung diri (APD). Untuk menangani limbah darah pun tidak boleh sembarangan. “Jangan buang darah ke saluran pembuangan umum, misalnya selokan, sungai, atau danau. Tempat penyembelihan hewan dilengkapi dengan lubang penampungan darah dengan ukuran tertentu.”

Lebih bagus, menurut Ustaz Nusran, ada meja khusus untuk memotong daging. “Jangan menumpuk hewan yang telah disembelih, tetapi belum dipisahkan kulit dan jerohannya pada tempat yang panas. Itu akan menyebabkan pembusukan daging atau karkas.”

Kaitannnya dengan tips saat mendapatkan daging hewan kurban, Ustaz Nusran mengatakan, “Daging hewan kurban jangan langsung disimpan di freezer, karena itu bisa merusak protein. Ditaruh saja di bagian kulkas di bawah freezer sampai 24 jam, setelah itu bisa ditaruh di freezer.”

Daging kurban bisa diberikan pula kepada orang kaya. “Harapannya siapa tahu, pada hari kedua atau ketiga, dia mau berkurban,” ujar Ustaz Nusran.

Jika tulisan di atas bermanfaat untuk orang lain, silakan dishare, ya! Syukron wa jazakumullah khairan, terima kasih. Untuk yang menggunakan HP, jika ingin memberikan reaksi terhadap tulisan di atas, bisa klik tanda tiga garis mendatar di bawah!
Loading spinner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *