ARTIKEL ISLAM

4 Cara Mencapai Kebahagiaan

Kata seorang motivator atau pembicara publik terkenal di negeri ini, manusia itu punya dua kecenderungan, yaitu: mencari kenikmatan dan menghindari kesengsaraan.

Siapa sih orang yang mau menderita? Siapa sih orang yang mau sengsara? Bahkan orang miskin pun jika diberikan kesempatan, tidak mau miskin, kok.

Namun, yang jadi pertanyaan, kalau untuk mencari kebahagiaan, caranya bagaimana? Betapa banyak orang yang mencari kebahagiaan tersebut dengan cara-cara yang tidak benar. Misalnya, anak muda yang begadang tiap malam, nongkrong-nongkrong tidak jelas, yang penting bersama teman-teman dan melewatkan waktu, bahkan hingga pagi hari.

Apakah kebahagiaan yang betul-betul mereka dapatkan? Yang ada malah tindakan yang semakin negatif. Bahkan menjurus kepada kriminalitas. Ini yang harusnya dihindari. Masih ada cara mencapai kebahagiaan dengan cara yang jauh lebih baik. Cara yang jauh lebih mulia. Cara yang lebih disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ada 4 cara mencapai kebahagiaan yang bisa kita raih. Penjelasannya ada pada taklim malam Sabtu (14/7/2023), antara Maghrib sampai dengan Isya yang dibawakan oleh Ustadz Syahrul Bardin, SH (Mahasiswa Universitas Islam Madinah), di Masjid An-Nur, kompleks pondok pesantren Al-Wahdah Bombana putri.

cara-mencapai-kebahagiaan-1

4 Cara Mencapai Kebahagiaan

1. Mencari Ilmu Syar’i

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

 

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kehidupan ini, banyak orang yang berharta. Mereka bisa punya uang miliaran, triliunan, pokoknya sampai tujuh turunan mungkin tidak akan habis. Namun, sayangnya mereka masih merasa kurang.

Padahal, kalau mau menginginkan kebaikan, tidak selalu dengan banyaknya harta, tetapi justru dengan ilmu. Sebab, ilmu itu adalah sumber kebaikan. Apapun yang kita inginkan, diawali dari ilmu dulu.

cara-mencapai-kebahagiaan-2

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

Siapa yang ingin mendapatkan dunia, maka harus dengan ilmu. Siapa yang ingin akhirat, harus dengan ilmu. Dan, siapa yang menginginkan keduanya, maka juga harus dengan ilmu.

Memang, belajar ilmu agama itu bisa dalam satu waktu, kita semangat. Namun, di waktu yang lain merasa lemah semangat alias futur. Misalnya, tidak ikut tarbiyah dengan alasan sakit-sakit sedikit, atau ada urusan keluarga.

Ilmu ini sesuatu yang mulia, jadi tidak diberikan kepada orang yang lemah. Ibaratnya, mutiara di laut. Untuk bisa mendapatkannya butuh perjuangan. Perlu menyelam, menghadapi berbagai gangguan, dan lain sebagainya.

Orang yang belajar ilmu agama, sebenarnya bangkrut. Ada sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sampai bersafar menempuh beratus-ratus kilometer hanya untuk mempelajari satu hadits. Ada pula yang harus menjual genteng rumahnya untuk membeli kertas.

Sementara sekarang fasilitasnya sudah sangat banyak untuk mendapatkan ilmu. Jika kita merasa futur, bisa mendengarkan ceramah selama tiga puluh menit, agar semangat lagi.

Dalam hidup ini, ilmu itu bukanlah tujuan utama, melainkan wasilah untuk bermuamalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tujuan kita diciptakan Allah bukan untuk menuntut ilmu, melainkan untuk beribadah kepada-Nya.

Para penduduk dunia, ketika meninggalkan dunia ini, bisa jadi mereka belum merasakan nikmat, yaitu: mengenal Allah. Orang yang mengenal Allah, ketika orang tersebut diberikan musibah, maka dia akan selalu merasa ada kebaikan di situ. Selalu saja ada kebaikan dari semua pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kita memang harus senantiasa ada perasaan ridho dan menerima segala yang diberikan Allah. Jika kita hanya fokus kepada musibah, maka kita bisa berburuk sangka kepada Allah.

2. Menjaga Sholat

cara-mencapai-kebahagiaan-3

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Jika kita rajin sholat di masjid, maka Insya Allah, jalan-jalan kita akan dipermudah. Begitu pula Allah akan memudahkan urusan-urusan kita. Namun, sholat tidak sekadar sholat. Kita tetap harus memperbaiki sholat. Jangan cuma teringat di takbiratul ihram dan salam. “Eh, sudah selesai sholatnya?”

Allah memerintahkan kita untuk mendirikan sholat. Kita bisa mendapatkan manfaat dari sholat tergantung dari seberapa sadar kita ketika sholat. Siapa yang hidupnya berantakan, misalnya istrinya tidak mau dinasihati, anaknya nakal, maka bisa jadi itu karena bermasalah sholatnya.

Mungkin selama ini kita sholat sekadarnya saja. Padahal, dalam setiap gerakan sholat, selalu ada permintaan ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

3. Menjaga Interaksi Kita dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dari Allah dan diberkahi oleh-Nya. Jangan sampai tiada hari berlalu tanpa membaca Al-Qur’an. Ini baru level pertama, membaca Al-Qur’an. Level kedua adalah membaca arti atau terjemahannya. Level ketiga adalah membaca tafsirnya. Sedangkan level keempat adalah mentadabburinya.

4. Menjaga Hubungan Kita dengan Orang Tua

cara-mencapai-kebahagiaan-5

Sebagai anak, kita harus berusaha untuk membahagiakan orang tua. Meskipun dalam kenyataannya, belum benar-benar membahagiakan, tetapi ada niat terlebih dahulu.

Niat itu adalah perdagangannya para ulama. Mereka bisa mendapatkan pahala, meskipun belum melakukannya karena adanya niat. Jika kita berharap kepada Allah, kalau diberikan harta akan umroh, maka Insya Allah itu sudah terhitung sebagai kebaikan.

Meskipun kita terpisah jarak dengan orang tua, tetapi terus mendoakan mereka. Beri mereka uang dari harta kita. Salah satu cara untuk membahagiakan orang tua adalah dengan bercerita kepada mereka jika kita mendapatkan kebaikan. Kadang dengan cerita atau kabar dari kita, mereka senang, jadi tidak selalu mereka butuh uang dari kita.

Demikian 4 cara mencapai kebahagiaan. Semoga bisa bermanfaat dan bisa menjadi amal jariyah bagi Ustadz Syahrul Bardin, SH, yang juga merupakan alumnus Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar. Semoga jadi amal jariyah juga bagi penulisnya serta siapapun yang mengamalkan ilmu ini.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad, hanya Allah yang memberi taufik dan petunjuk.

Jika tulisan di atas bermanfaat untuk orang lain, silakan dishare, ya! Syukron wa jazakumullah khairan, terima kasih. Untuk yang menggunakan HP, jika ingin memberikan reaksi terhadap tulisan di atas, bisa klik tanda tiga garis mendatar di bawah!
Loading spinner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *