Mengulik Konsep Rezeki dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

konsep-rezeki-dalam-al-qur'an-cover

Rezeki sering menjadi perhatian orang, apalagi di jaman now. Makanya, banyak yang memberi nama usahanya dengan kata “rezeki” atau yang mirip dengan itu dan berharap hasilnya bisa banyak keuntungan.

Ada pula orang jualan, saat mendapatkan uang, dia cambuk-cambukkan ke dagangannya, masih dengan harapan agar lebih laris lagi. Memangnya hal itu efektif?

Lalu, bagaimana sih konsep rezeki dalam Al-Qur’an sebagaimana judul tulisan ini?

Selalu Dikaitkan dengan Uang

konsep-rezeki-dalam-al-qur'an-1

“Wah, lagi banyak rezeki kamu, ya, bisa beli mobil baru?”

“Lihat rumah segede gini, sholawatin dulu, ah, biar bisa punya juga!”

“Keren, kamu habis beli emas banyak! Kaya betul kamu. Padahal di rumah kan sudah ada mas, itu suamimu sendiri! Sekarang tambah lagi emas.”

Yap, rezeki memang sering dan sebenarnya selalu dikaitkan dengan uang, gaji, jabatan, keuntungan, dan hal-hal lain terkait materi atau duniawi.

Dari anggapan seperti itu, kalau ada orang yang gajinya kecil, bahkan di bawah UMR, bahkan disebut dengan UMK (Upahnya Memang Kecil), itu dianggap hidupnya pasti sempit. Rezekinya kecil.

Malah dianggap Allah sedang membencinya atau dia merasa dicuekin oleh Allah. Kasihan.

Padahal, gaji kecil tidak selalu dianggap rezekinya kecil. Begitu pula gaji besar tidak selalu dikatakan sukses dunia.

Rezeki ini adalah ketetapan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketetapan ini melalui sebab-sebab atau disebut dengan asbab. Ini tentu bukan asbab yang dicari para perokok itu. Bukan, bukan itu. Sampai kapan mereka jadi ahli hisap terus, ya?

Pada dasarnya, pembahasan tentang rezeki memang tidak dapat terlepas dari amal yang dilakukan oleh seseorang secara berulang atau disebut dengan amal istiqamah.

Begitu pula karakter atau sifat yang dia bangun dalam jangka yang cukup panjang. Allah tidak menilai dari keinginan seseorang, tetapi yang sudah dilakukan oleh orang itu dengan sebenar-benarnya.

Rezeki Berjalan di Atas Sunnatullah

Mari coba kita lihat dalil berikut ini. Tidak perlu cari Al-Qur’an dulu, bisa dilihat di bawah ini, ada hubungannya dengan konsep rezeki dalam Al-Qur’an:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا

“Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat, Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan sebagian darinya.” (QS. Asy-Syura: 20)

Mari kita coba perhatikan kata arth yang berarti ladang. Apa yang kamu tahu tentang ladang itu?
Apakah ketika seseorang menanam di ladangnya hari ini, besoknya langsung berbuah? Langsung panen? Langsung pesta pora karena mendapatkan panen itu? Kan tidak. Ya ‘kan? Ya toh? Benar ‘kan? Benar toh?
Dari ayat yang mulia itu, Allah memang tidak menyebut hasil secara instan. Namun, disebutkan tentang ladang yang harus ditanami terlebih dahulu.
Dapat dipahami bahwa rezeki adalah hasil dari sesuatu yang ditanam secara konsisten. Jadi, bukan dari semata-mata niat tanpa amal.

Rupanya, masih banyak orang yang ingin hasil besar, tetapi tidak sabar dalam menanam. Dia ingin segera terwujud keinginannya, tetapi tidak mau membangun kebiasaan kecil positif yang berulang.

Sunnatullah tidak pernah berubah. Sesuatu yang ditanam dengan disiplin, itulah yang akan tumbuh.

Konsistensi

konsep-rezeki-dalam-al-qur'an-2

Para pakar kesuksesan, termasuk juga yang tarifnya ratusan juta rupiah perjam itu, sementara masih banyak yang tarif perjamnya masih 60 menit, mengatakan bahwa konsistensi memang kunci kesuksesan.

Sifat konsistensi tersebut terwujud dari satu hal yang benar-benar difokuskan di dunia ini. Dan, manusia memang terbatas kekuatan dan kelemahannya.

Manusia biasa bukanlah Power Ranger, meskipun ke mana-mana sering bawa power bank. Dia juga bukan Ksatria Baja Hitam, meskipun kulitnya semakin menghitam digerus sinar matahari karena bekerja terus di luar rumah.

Kita bisa ingat bahwa Allah Ta’ala justru mencintai amal yang terus-menerus meskipun kecil. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6465 dan Muslim no. 783)

Dalam konteks rezeki, orang yang jujur setiap hari, ditambah dengan disiplin sedikit demi sedikit, dan menghindari pemborosan secara konsisten, serta bersedekah walau kecil, misalnya 1 juta rupiah namun rutin, dia sedang menanam benih keberkahan.

Dan sebaliknya, orang yang sesekali beramal besar tetapi hidupnya kacau, boros, dilengkapi pula dengan tidak amanah, dan tidak disiplin, maka akan sulit berharap keberkahan dalam rezekinya.

Allah Ta’ala memang menilai pola hidup, bukan pada momen sesaat pada diri seseorang.

Penundaan Rezeki

Bila berpikir secara lebih dalam, mungkin lebih dalam daripada sumur kita di rumah, terkadang Allah memang menunda rezeki karena seorang hamba belum siap secara mental, akhlak, maupun tanggung jawab.

Andaikan seseorang diberikan rezeki besar, tetapi jiwanya belum siap, maka itu justru berbahaya. Justru bisa menjadi sebab kebinasaan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ

“Jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi.” (QS. Asy-Syura: 27)

Bila semua orang di dunia ini diberikan rezeki yang besar atau kita pahami sebagai kekayaan luar biasa itu, maka dunia ini akan dipenuhi justru dengan kekacauan.

Makanya, kelapangan rezeki harus sejalan dengan kesiapan jiwa. Tugas seorang hamba bukan hanya meminta rezeki kepada Allah, tetapi juga membangun kebiasaan yang layak untuk menerima rezeki tersebut.

Sifat-sifat baik seperti disiplin, amanah, qana’ah, dan kontrol diri adalah bagian dari persiapan untuk menyambut rezeki itu. Tanpa hal-hal tersebut, maka rezeki yang besar dan diterima malah akan menjadi fitnah.

Cermin Kebiasaan dan Karakter

konsep-rezeki-dalam-al-qur'an-3

Seseorang mengharapkan rezeki, apalagi yang besar, luas, lapang, dan berlimpah memang wajar. Namun, rezeki sering kali menjadi cermin dari kebiasaan seseorang.

Meskipun dia punya cermin mahal yang dibelinya murah di pasar, eh, bagaimana ini, tetapi cerminan yang sebenarnya adalah cara dia mengatur waktunya.

Termasuk juga mengelola uang, menjaga salat lima waktu berjamaah di masjid, bersikap jujur, dan menahan hawa nafsu.

Semua itu bila dilakukan dengan baik dan konsisten akan membentuk pola yang kembali kepadanya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Perbaiki Kebiasaan, Allah Perbaiki Rezeki

Rezeki ini memang termasuk rahasia dalam kehidupan seseorang. Ada kalanya, seseorang bergaji kecil, tetapi kok hidupnya tenang, cukup, dan malah penuh keberkahan.

Hubungannya dengan istri adem ayem. Hubungan dengan anak-anak juga baik-baik saja. Istrinya tidak pernah ngomel padahal gaji suaminya kecil. Padahal, yang begitu sangat jarang lho, di dunia ini!

Sebaliknya, ada yang bergaji besar, tetapi malah selalu merasa kurang dan kurang.

Dia juga selalu merasa sempit dan gelisah. Terlebih sering lihat di media sosial tentang kehidupan orang lain, dia ingin seperti itu juga.

Akhirnya, uang yang ada di tangannya, di rekeningnya, selalu tidak pernah dinikmati dengan baik.

Maka, mari kita fokus memperbaiki yang berada dalam kendali kita, misalnya: salat tepat waktu, usaha yang jujur, pengeluaran yang terkontrol.

Lebih bagus lagi ditambah dengan sedekah rutin, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang terus dijaga.

Lalu, sisanya, serahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kebiasaan dibangun di atas ketakwaan, maka rezeki akan mengikuti.

Tentu saja dengan cara yang Allah kehendaki, nantinya pada waktu yang Allah tetapkan, dan jangan lupa, dengan keberkahan yang jauh lebih besar daripada sekadar angka.

Semoga kita bisa paham dengan konsep rezeki dalam Al-Qur’an ini dan lebih punya pandangan yang utuh tentang rezeki.

Wallāhu a‘lam.

avatar for Rizky Kurnia RahmanRizky Kurnia Rahman

Ketua Departemen Media, Komunikasi, dan Humas (Medikomhum) DPD WI Bombana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *