Wisuda Santri Al-Wahdah Bombana: Melipat Masa, Menjadi Kenangan yang Tersisa

0
96

Sebuah cerita nyata mengungkapkan, seorang anak berdialog dengan ayahnya. Anak maunya masuk di sekolah umum, tetapi sang ayah mau agar anaknya di pesantren.

Mungkin itulah bayangan pesantren yang kadang salah dipahami oleh remaja. Bayangan bahwa pesantren itu sebuah sekolah yang penuh dengan keterbatasan. Penuh dengan aturan di sana-sini. Batasan pergaulan antarlaki-laki dan perempuan, bahkan batasan pula sesama laki-laki maupun perempuan. Kadang disertai pula dengan hukuman dari para ustadz maupun ustadzah. Bayangan seperti itulah yang ada di pikiran sebagian remaja. Nyatanya, apakah benar? Ya, memang benar! Tapi, tunggu dulu!

Simbol Perjuangan

Pada masa sekarang atau masih diistilahkan dengan jaman now, zaman milenial, atau apalah namanya, manusia yang bermutu memang yang menempuh sebuah perjuangan. Bahkan, untuk hal-hal yang sederhana pun, manusia tetaplah berjuang. Misalnya, dia masih di tempat tidur. Sedang malas luar biasa. Namun, dia lapar dan haus. Maka, dia harus berjuang untuk turun dari tempat tidur, lalu mengambil makanan dan minuman yang ada.

Begitu pula dengan aktivitasnya, baik itu sekolah, kuliah, maupun bekerja. Berjuang untuk mengalahkan rasa dingin mau mandi misalnya, berjuang untuk sarapan meskipun sedang terasa malas makan, atau mengalahkan rasa kantuk setelah tadi malam menonton pertandingan sepak bola. Jika manusia tidak berjuang, maka itu bukanlah manusia yang sebenarnya. Hewan saja berjuang untuk mencari makanannya kok!

Dalam perjuangan manusia, ada usaha, ada doa. Usaha tanpa doa, nanti ujungnya tidak berpahala. Doa tanpa usaha, sia-sia belaka. Menggabungkan keduanya memang tidaklah mudah. Sebab, itu menyangkut kesungguhan ikhtiar manusia dan harapan kepada Allah Ta’ala.

Menyekolahkan anak pun bagian dari perjuangan. Bagaimana membujuk anaknya untuk bersekolah di tempat pendidikan terbaik? Bagaimana usaha orang tua untuk mencari uang masuknya? Bagaimana selama proses pendidikan itu sendiri, orang tua tidak berhenti berjuang atau berusaha untuk mencari nafkah? Plus, dalam sepertiga malam-malam terakhirnya, mereka menggaungkan doa. Mengangkat tangan kepada Rabb semesta alam. Berharap anaknya bisa lancar menempuh pendidikan. Semuanya itu terlipat dalam masa menjadi hari ini!

Sang anak juga tidak mudah untuk melewati hari demi hari menuntut ilmu. Katanya, ilmu tidak salah, kok dituntut? Menuntut ilmu memang bermakna masih banyak ilmu yang berada di luar manusia. Makanya, perlu dicari, perlu dimiliki. Tidak mudah, “membakar” diri dengan semangat. Kadang dari diri sendiri, mungkin lebih banyak dari para guru. Dan, hasilnya terlihat dan terlipat dalam masa menjadi hari ini!

Bagaimana juga seorang guru, seseorang yang disebut dengan ustadz maupun ustadzah, bersabar dan makin bersabar menghadapi murid-muridnya dengan beraneka rupa sifat, karakter, dan gaya? Mungkin guru tersebut sedang ada masalahnya sendiri, masalah dengan dirinya sendiri, belum dapat jodoh misalnya, tetapi karena panggilan jiwa dan hati, dia mesti mengajari cukup banyak muridnya. Atau yang sudah berkeluarga, anaknya sendiri mau diurusi, sekarang ditambah dengan anaknya orang lain. Tidak mudah. Sangat tidak mudah. Namun, semuanya bisa terlihat hasilnya, terlipat juga dalam masa menjadi hari ini!

Apapun yang mendukung proses pendidikan, terutama di pesantren, yang merupakan sekolah spesial, Insya Allah akan mendapatkan hasilnya. Bisa di dunia, lebih bisa lagi di akhirat.

Memetik Buahnya

Ketika Isaac Newton menemukan hukum gravitasinya gara-gara apel jatuh dari pohon, mungkin dia tidak tahu tentang pesantren. Terlebih, pesantren Al-Wahdah Bombana, dia lebih tidak tahu lagi. Namun, justru, ibarat buah apel atau buah apapun itu, dipetik dari pohonnya, itulah yang terlipat dalam masa menjadi hari ini!

Dari tadi, hari ini, hari ini, apa sih yang menarik dari hari ini? Menuliskan tentang sesuatu yang terjadi hari ini, memang berbalut dan terajut dengan sejuta perasaan. Bahagia, senang, sedih, haru, semuanya menjadi satu. Ada air mata. Namun, air mata ini memakai jubah dua sisi, bahagia sekali, atau terharu yang tidak bisa dilukiskan begitu saja di dalam hati.

Pada hari ini, tepatnya Selasa dengan kalender tercantum tanggal 15 Juni 2021 dimulai sekitar jam 09.00 WITA dan berakhir tepat di waktu Dzuhur, terwujudlah sebuah acara, buah dari memetik hasilnya dari semua pihak yang membantu. Terselenggara acara wisuda TK, SD, SMP, dan SMA Islam Terpadu Al-Wahdah Bombana. Untuk pertama kalinya diadakan di Auditorium Tanduale, satu kompleks dengan kantor Bupati Bombana.

Tidak Berhenti Sampai di Sini

Acara wisuda jenjang kelas ujung, kelas VI SD, IX SMP, dan XII SMA, ini memang tidak boleh berhenti sampai di sini. Itulah yang dikatakan wakil dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bombana. “Ukir prestasi kalian. Dunia di luar sana menuntut keuletan yang baik.”

Sambutan lain juga datang dari pihak pembina sekaligus orang yang dituakan dari pihak Pesantren Al-Wahdah Bombana, yaitu: Pajawa Tarika. Disambung juga dari Ketua Yayasan An-Nur Wahdah Islamiyah Bombana, Ustadz Akbar Jabba, S. Pd.I. Keduanya tentu mengharapkan yang terbaik dari pesantren terbesar di Bombana ini.

Ibarat dua sisi mata uang, mau itu uang logam maupun uang kertas, tanggapan juga datang dari orang tua santri yang diwisuda melalui pesan dan kesan. “Setahun yang lalu, kita belajar secara daring. Ketika itu, tidak mudah ternyata menjadi seorang pendidik. Yang saya rasakan adalah kesan mendalam terhadap ustadz dan ustadzah sekalian dan teman-teman anak saya.”

Pengungkapan perasaan cinta juga datang dari seorang wisudawan SD bernama Harvard Ramadhan. Dia mengucapkan terima kasih yang khusus kepada wali kelasnya. “Saya sering dibully di kelas. Namun, saya memilih untuk menghindar dengan tidak berkelahi. Saya tidak mau dihukum karena berkelahi. Kata wali kelas saya, saya harus bersabar. Jadikan semua ucapan itu sebagai motivasi saya untuk lebih maju.”

Masya Allah, sebuah ungkapan yang luar biasa dari seorang wisudawan SD. Begitu juga dengan salah satu santri kelas XII. Dia mengungkapkan yang selama ini terpendam, mewakili teman-temannya. Belajar dengan tidak rajin, pernah membolos, mengantuk di kelas, dan berbagai pelanggaran lainnya.

Dalam kesempatan hari ini juga, disampaikan upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bombana. “Kekerasan terhadap anak itu munculnya dari aplikasi online. Anak-anak sekarang sudah banyak mengenal aplikasi online. Untuk mencegah kekerasan terhadap anak, menjadi tanggung jawab kita semua.”

Tidak Cukup 

Menceritakan semuanya tentang acara wisuda TK, SD, SMP dan SMA Al-Wahdah Bombana, memang tidak cukup dalam sebuah berita pendek semacam ini, yang memang terbatas ruang bacanya. Kegembiraan menyaksikan anak-anak wisudawan dan wisudawati dengan membawa hafalan-hafalan Al-Qur’annya. Orang tuanya jelas terharu, karena banyak memang yang hafalannya tidak sebanyak sang anak. Namun, orang tua, Insya Allah, akan tetap mendapatkan hasil dari hafalan itu. Dipakaikan mahkota. Kalau di dunia ini, hanya berwujud mahkota plastik, tetapi kelak di akhirat, akan jauh dan jauh lebih baik daripada itu.

Begitu juga dengan kesedihan seorang ustadz maupun ustadzah menyaksikan santri-santrinya sudah lepas kembali ke orang tua, padahal semasa di pesantren, ustadz atau ustadzahnya itulah yang jadi orang tua sementara. Menyaksikan para santri membaca Al-Qur`an, baik menambah hafalan baru maupun murojaah, para ustadz dan ustadzah tersebut sudah gembira sebelum gembira. Belum tuntas hafalan saja, mereka sudah bergembira, apalagi kalau sudah tuntas, ah, tidak ada kata yang lebih tepat untuk rasa gembira yang satu ini.

Kini, masa itu telah berlalu. Begitu juga para santri yang telah menanamkan dalam memorinya kenangan indah bersama ustadz maupun ustadzahnya. Tidak semuanya lancar, pastilah ada masalah. Namun, masalah itu ibarat rasa pedas di makanan. Terasa panas, tetapi di situlah bumbu tersedapnya. Begitu rasa pedas itu hilang, begitu masalah itu lenyap sudah, maka yang tersisa adalah rasa cinta yang melekat dengan indah.

Tidak hanya dengan pembina di pondok pesantren mereka, para santri juga berinteraksi dengan guru-guru eksternal. Guru-guru yang memang tidak tinggal 24 jam di dalam pondok pesantren Al-Wahdah Bombana. Guru-guru yang menampilkan beraneka karakter. Ada yang serius, banyak memberi tugas, memberikan banyak catatan. Ada juga yang suka bercanda, sering membuat games atau permainan yang berkaitan dengan pelajaran, pernah menyatakan mundur, nyatanya tidak jadi demi panggilan nurani, tetapi rasa cinta dan perhatian terhadap murid-muridnya, tidak kalah luar biasanya.

Selamat wisuda, terutama para santri dari kelas XII SMA yang tidak akan mungkin kembali ke bangku sekolah di pesantren Al-Wahdah Bombana, selamat menempuh hidup baru. Ucapan semacam itu tidak hanya untuk mereka yang baru menikah, tetapi juga bagi mereka yang sudah mendapatkan ilmu dari para guru, terutama di pondok pesantren Al-Wahdah Bombana ini.

Teringat, bahwa di dunia ini, ada mantan suami, ada mantan istri, ada mantan pembantu, ada juga mantan majikan, tetapi tidak ada yang namanya mantan guru! Orang yang pernah mengajar kita, maka selamanya itu adalah guru kita. Kapanpun, di manapun, setiap bertemu dengan guru kita, maka sapalah dia. Berikan senyuman yang manis dan tulus untuknya. Mungkin dia sudah lupa dengan kita, saking lamanya masa belajar di sekolah itu sirna, tetapi namanya akan selalu ada di hati kita.

Teringat juga perkataan seorang sholeh, “Kalau bukan karena guruku, niscaya aku tidak akan mengenal Rabbku.”

Sekali lagi, selamat tinggal, selamat memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Bisa jadi yang bukan kelas XII SMA akan masuk kembali ke pesantren Al-Wahdah Bombana, menikmati tantangan demi tantangan berikutnya dengan kelas yang lebih tinggi, atau ke sekolah lain. Insya Allah semuanya bagus, semuanya baik. Insya Allah juga, ada pertemuan yang indah nanti, saat guru dan murid, beserta orang tua murid, bersama lagi, di tempat yang bebas memandang wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di mana lagi tempat tersebut selain di surga?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here