Ternyata Selevel!

0
245

Membaca atau mendengar kata “kedua”, apa yang terbayang di benak Anda? Kalau berdasarkan penafsiran umum, makna kedua itu jelas setelah pertama. Berarti, ada semacam kedudukan yang tidak seimbang di sini. Betul?

Contohnya dalam dunia pendidikan, beda antara rangking pertama dengan rangking kedua. Yang rangking pertama, itu dibilang lebih baik daripada rangking kedua, apalagi ketiga! Bagaimana pula dengan kedudukan dalam pernikahan atau rumah tangga? Tentang anak misalnya. Atau tentang istri? Silakan ditafsirkan sendiri ya! 🙂

Nah, mungkin Anda pernah mendengar, bahwa hadist Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu punya kedudukan kedua setelah Al-Qur’an?

Bisa jadi sekarang Anda ingat, ohh, dulu pernah diajarkan di sekolah, atau ada seorang ustadz, atau teman Anda, bahwa hadist itu kedudukannya tidak sama dengan Al-Qur’an. Ada di bawahnya. Level kedua. Rupanya hal tersebut terbantahkan dalam ta’lim malam kemarin. Bagaimana penjelasannya? Yuk, boleh simak sampai selesai!

Angka 40 atau 42

Ada sebuah kaidah yang berlaku di dunia Barat, life begins at fourty. Jangan khawatir karena Bahasa Inggris, akan saya terjemahkan untuk Anda, free. Artinya secara lurus adalah hidup dimulai ketika umur 40. Orang Barat mengistilahkan seperti itu, bahwa kehidupan seseorang terasa lebih berisi dan bermakna setelah usia 40 tahun. Ah, benarkah begitu?

Baca Juga: Bersama Teman Sampai ke Ujung

Pertanyaan selanjutnya adalah, kalau hidup dimulai saat usia 40 tahun, lalu selama ini ngapain aja? Ya, dari sejak baligh sampai menjelang usia 40 itu, apa saja yang telah dilakukan? Apakah diisi dengan sia-sia? Ataukah kerja untuk dunia terus? Baru ingat tentang akhirat begitu, saat usia sudah mulai senja?

Dalam tulisan ini, tidak akan dibahas tentang usia 40 itu karena bisa jadi, sebagian Anda sudah mulai mendekati ke sana. Namun, yang akan diambil adalah angka 40 tersebut. Ini berkaitan erat dengan rangkuman ta’lim di Masjid At-Tarbiyah SMA Negeri 03 Bombana oleh Ustadz Mus Muliadi, SH, kemarin tanggal 13 Februari 2020. Tentang kitab hadits yang sangat masyhur, kitab kecil yang ditulis oleh ulama besar. Kitab hadist Arbain An-Nawawiyah oleh Imam An-Nawawi rahimahullah.

Dari judulnya atau yang selama ini kita tahu, bahwa kitab tersebut berisi 40 hadist Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang Insya Allah akan makin menguatkan pondasi keimanan dan keislaman kita. Padahal, yang benar bukan 40, melainkan 42. Namun, orang Arab terbiasa membulatkan. Mencari genapnya atau bilangan terbesar. Makanya disebutkan 40 saja.

Tentang Keutamaan Mempelajari Hadist Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam

Pada subjudul ini, kita akan mencoba menjawab pertanyaan di awal tadi, tentang kedudukan hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ternyata, yang lebih tepat, Wa’allohu alam, adalah hadist itu selevel dengan Al-Qur’an lho! Jadi, tidak selalu berarti bahwa hadist itu sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Sebab, hadist menjelaskan tentang Al-Qur’an. Menyebutkan yang tidak ada dalam Al-Qur’an. Hadist juga berupa wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Berarti dapat diambil kesimpulan bahwa hadist itu selevel dengan Al-Qur’an. Antara isi Al-Qur’an memang sangat berbeda dengan hadist. Kitab hadist yang shohih bila dikumpulkan akan lebih tebal daripada Al-Qur’an. Dari kata “selevel” itu, maka yang mempelajarinya Insya Allah mampu punya semangat yang selevel dengan para pembelajarnya pada masa lampau. Aamiin.

Baca Juga: Hikmah di Balik Larangan Tajassus

Bagaimana tidak? Orang yang mempelajari hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka dia adalah orang yang paling banyak bersholawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa keutamaan dari sholawat tersebut? Anda boleh membacanya lebih lengkap di sini.

Selain itu, menurut Sufyan bin Uyainah rahimahullah, bahwa orang yang mempelajari hadist, maka mukanya akan berseri-seri dan auranya memang berbeda. Orang tersebut adalah orang yang cinta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, meskipun belum pernah bertemu secara langsung dengan beliau. Itulah orang-orang yang dirindukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Menurut Imam Waqi rahimahullah, mempelajari hadist itu lebih utama daripada ibadah-ibadah sunnah lainnya, terlebih di zaman sekarang ini. Waduh, zaman ini memang penuh dengan fitnah! Betapa sedikitnya orang yang mau mempelajari hadist Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Bersyukurlah Anda jika masih memiliki ghiroh untuk belajar ilmu tersebut.

Sekilas Tentang Kitab Hadist Arbain

Awalnya, Imam Nawawi mengumpulkan hadist-hadits dari Ibnu Sholah sebanyak 26 hadits. Namun, Imam Nawawi menambahkannya sampai sejumlah 42 hadist. Pertanyaan selanjutnya, siapakah Imam Nawawi?

Sejarah menyebutkan bahwa beliau bernama asli Yahya. Nama kuniyahnya adalah Abu Zakaria. Dilahirkan di perkampungan yang bernama Nahwah. Makanya, beliau disebut Imam Nawawi. Ulama yang satu ini adalah pengikut madzhab Syafi’i.

Meskipun punya nama kuniyah Abu Zakaria, tetapi beliau tidak memiliki anak yang bernama Zakaria lho! Sebab beliau memang selama hidupnya tidak menikah. Beliau sibuk dengan ilmu syar’i. Jangan seperti anak muda sekarang, belum menikah karena sibuk dengan galaunya. Waduh!

Meskipun jumlahnya 40 atau 42, tetapi pembahasan hadist di dalamnya bisa sampai berbulan-bulan. Masya Allah. Sebab, maknanya sangat luar biasa bagi kita kaum muslimin. Dan, begitulah memang hadist secara umum. Ada begitu banyak pendapat ulama maupun penjelasnya, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mereguknya bisa sangat lama.

Baca Juga: Menanamkan Tauhid Kepada Anak

Untuk lebih mantapnya, maka bisa juga kita menghafalnya. Lalu, bagaimana jika karena faktor usia, kita jadi merasa kesulitan untuk menghafal hadist? Jangankan hadist, Al-Qur’an saja merasa berat!

Nah, ada sebuah kisah nyata. Ada seorang profesor di Makassar yang mempunyai halaqoh ilmu dengan diisi para pejabat. Mereka mengaku sulit menghafal. Hal yang dilakukan oleh guru tersebut adalah meminta kepada mereka untuk mengulang-ulanginya sampai 50 kali. Pekan depan disetor.

Ternyata, dari pengulangan sebanyak itu, bisa hafal dengan sendirinya. Nah, itulah rahasianya! Pengulangan! Ingat, pengulangan! Jadi, karena saya menyebutkan “pengulangan”, maka juga diulang sampai dua kali. Malah empat kali sebenarnya dalam paragraf ini. 🙂

Bila kita mau dan Insya Allah mampu, mengulang-ulang satu atau dua ayat setiap hari. Nanti suatu saat, dengan izin Allah, kita akan mampu pula punya hafalan Al-Qur’an yang banyak! Anak muda lebay bin alay saja bisa hafal lirik lagu karena sering mendengarnya kok. Apalagi untuk ayat-ayat Allah yang jauh lebih berharga dan bernilai dibandingkan suara seruling syetan tersebut.

Merasa Cukup Bahagia

Apakah Anda cukup bahagia dengan hidup Anda? Bersama keluarga, istri atau suami Anda, apakah itu sudah membuat Anda bahagia? Penuh senyum, wajah yang berseri-seri dan berbinar-binar. Menyala. Glowing in the dark. Sudah? Atau belum?

Kalau ditanya, apa sih rahasia agar jadi bahagia itu? Apa pula rahasianya agar merasa cukup dengan hidup ini? Mari kita ambil contoh kisah tentang Sufyan At-Tsauri rahimahullah. Beliau ini adalah seorang ulama di Kufah. Rupanya, beliau adalah seorang pelarian lho! Dikejar-kejar oleh penguasa. Lho, bagaimana sih ceritanya?

Awalnya, beliau akan diberikan cincin oleh penguasa atau amir pada saat itu. Namun, beliau tidak mau. Benar-benar tidak mau! Beliau ingin menjadi seorang muslim yang menjaga diri dan agama dengan tidak berdekatan dengan penguasa.

Karena tidak mau tersebut, sang penguasa mengejar beliau. Mengerahkan aparatnya untuk mencari beliau. Akhirnya, beliau pun berpindah-pindah tempat. Dalam keadaan seperti itu, beliau tetap belajar agama Islam. Belajar hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan, beliau tetap merasa bahagia. Merasa cukup bahagia dengan hidupnya. Lho, kok?

Begitulah hati para ulama, mereka sudah cukup puas dengan mendalami agama Islam dan tidak terlalu memikirkan yang di luar itu. Dalam pikiran tersebut, semuanya berorientasi agama. Tujuannya akhirat. Ridho Allah. Melihat wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga kelak. Jadi, buat apa terlalu ngotot mengejar dunia? Betul ‘kan?

Seandainya para penguasa atau pemimpin tahu betapa bahagianya orang-orang yang ikut belajar agama Islam yang haq ini, maka mereka akan berusaha mendapatkan kebahagiaan itu, meskipun dengan memenggal leher rakyatnya. Mengerikan bukan? Namun, itulah hakikat kebahagiaan sejati yang tidak semua orang memperolehnya.

Lalu, bagaimana mendapatkannya? Salah satunya adalah dengan mempelajari hadist Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melalui ta’lim rutin mendatang, dari kitab Arbain Nawawiyah. Semoga kita bisa bertemu kembali dalam kesempatan berikutnya. Aamiin.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat pula. Silakan dishare atau disebarkan tidak masalah. Toh gratis. Eits, meskipun gratis, tetapi Insya Allah nilainya sangat besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Baca Juga: Menghindari Taqlid Buta dan Tuli Sekalian

Wa’allahu alam bisshawab
Alhamdulillah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here