Tahu Hukumnya, Tahu Aturan Mainnya

0
199

Melihat waktu yang terus berjalan ini, biasanya kalimat yang muncul dari percakapan kita sehari-hari adalah: “Wah, sudah nggak terasa ya?” Apa yang kira-kira cocok dengan kalimat tersebut? Contoh pertamanya adalah anak.

Dulu anak lahir sebagai bayi. Ya, iyalah. Begitu muncul, brojhol begitu, memang terlihat kecil. Seiring pertumbuhannya, ditambah nutrisi yang lengkap, maka anak itu mulai terlihat besar. Mulai bisa tengkurap, merangkak, berjalan, hingga berlari. Sampai akhirnya, keluarga sendiri atau ibu-ibu tetangga bilang, “Wah, anaknya sudah besar, nggak kerasa, perasaan baru kemarin lahirnya!”

Kita sendiri juga begitu. Sering merasa tidak terasa. Tahu-tahu kita sudah dewasa. Tahu-tahu sudah menikah dan punya anak. Tahu-tahu sudah kaya raya. Hem, yang terakhir ini memang tidak semua orang lho!

Termasuk dalam hal ini, tidak terasa yang sangat pas adalah tidak terasa, sebentar lagi bulan Ramadhan akan tiba.

Mencari Hati

Sebagaimana tulisan sebelumnya tentang cinta, bahwa membahas perkara hati ini juga termasuk masalah yang tua sekali. Antara cinta dengan hati memang sering ada kaitan erat, tanpa harus pakai lem. Bukankah cinta itu dilandasi oleh ketertarikan yang muncul dari hati? Atau hati yang dilanda dengan cinta akan mempunyai rasa yang lain daripada tidak memiliki cinta sama sekali.

Baca Juga: Penyesalan yang Sia-sia

Antara suami istri, bisa jadi setelah menikah, belum ada cinta. Hal ini wajar terjadi, jika keduanya tidak pernah saling berpacaran. Baru kenal menjelang menikah. Baru tahu nomor hapenya setelah berada di kamar pengantin. Baru tahu dan baru tahu yang lain.

Ah, pokoknya pernikahan model begitu yang paling indah. Insya Allah jadi pernikahan yang penuh berkah. Semoga jadi samawa atau sakinah, mawaddah, warahmah. Bagi yang jomblo, juga bisa kok pakai samawa. Cuma kepanjangannya jadi: sangat mau walimah!

Awalnya tidak saling mengenal, diikat oleh pernikahan, maka rasa untuk lebih mengenal itu makin menemukan tempatnya. Apalagi ditambah dengan bertemu setiap hari, tanpa ada penghalang apapun, maka hati mereka mulai mekar. Benih-benih cinta mulai tumbuh subur dan bersemi. Pada akhirnya, cinta dan hati mereka semakin merasa bersatu dan tidak mau berpisah selamanya, kecuali maut menjemput.

Jika orang sedang kehilangan hatinya, maka memang harus dicari. Karena hati yang berkaitan dengan jiwa atau kepribadian dengan organ hati adalah sesuatu yang memang berbeda. Bagaimana menemukan hati itu? Bolehlah kita simak kisah tentang Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu.

Ada seorang yang datang kepada sahabat Nabi Shallalallahu ‘Alaihi Wasallam yang mulia tersebut. Dia sedang merasa galau. Gelisah. Tidur tak nyenyak, makan tak enak. Apalagi kalau ada orang yang makan sambil tidur, jelas tidak akan enak, apalagi sampai nyenyak.

Apa kata Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu tentang orang yang sedang punya hati bermasalah tersebut? Menurut beliau, carilah hati pada tiga tempat, yaitu: ketika membaca Al-Qur’an, majelis yang mengingatkan kepada Allah dan ketika bersendiri, berkhalwat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pada poin yang pertama, kita bisa menemukan hati atau membuat hati lebih jernih dan nyaman dengan membaca Al-Qur’an. Sebisa mungkin kita menjadi Shohibul Qur’an, yaitu: ketika membaca dan mendengar Al-Qur’an, bisa menambah keimanan, melembutkan hati dan menuntun hidup kita.

Apalagi menyambut bulan Ramadhan ini, perlu memang mempersiapkan diri dengan banyak membaca Al-Qur’an. Kata orang-orang, bulan Ramadhan yang makin dekat ditandai dengan adanya iklan sirup di televisi. Hem, bisa juga begitu. Terserah, karena toh mereka yang pasang iklan dan jelas ada uang untuk membayarnya. Yang perlu diingat, sirup itu manis, tetapi membaca Al-Qur’an jauh lebih manis lagi. Ya apa ya…?

Menghindari Hati yang Rusak

Ketika membaca Al-Qur’an, ikut majelis taklim dan bersendiri dengan Allah, misalnya dengan sholat malam sudah dilakukan, langkah selanjutnya adalah menjauhkan diri dari hati yang rusak. Hati yang menjadi wujud dari perbuatan pelakunya yang kufur.

Apa contoh dari perbuatan kufur tersebut? Hal ini bisa terlihat pada orang yang mempunyai pendapat bahwa ada hukum yang lebih tinggi daripada Al-Qur’an dan hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang muslim yang baik, maka mesti meyakini bahwa keduanya diturunkan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menjadi panduan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Masa ada orang yang bisa buat hukum lebih baik daripada hukum Allah? Mana ada?!

Seperti yang terjadi di banyak negara, mengambil hukum bukan dari Al-Qur’an dan hadist sepenuhnya. Dalam kasus pencurian, pelakunya cuma dipenjara. Seharusnya ‘kan dihukum potong tangan. Atau yang berzina, juga dipenjara. Semestinya dirajam sampai mati bagi yang sudah menikah atau hukum cambuk bagi yang belum.

Baca Juga: Lebih Mengenal Untuk Apa Kita Diciptakan

Sementara pelaku pembunuhan, tidak dihukum bunuh juga. Mungkin inilah penyebab kasus pembunuhan makin marak saja akhir-akhir ini. Sebab, hukuman di penjara bisa dipotong masa tahanan. Selain itu, yang lebih miris adalah ketika di dalam penjara, justru belajar kejahatan yang lebih besar. Ini yang lebih parah.

Bagi pembuat hukumnya bisa berdosa besar jika setuju dengan hukum selain Al-Qur’an dan hadist tersebut. Namun, konsekuensinya bisa berbeda jika si ahli hukum sendiri dalam hati kecilnya mengingkari. Ini bukan hukum yang paling tepat. Hal yang sangat sulit baginya adalah untuk mengubah ke dalam hukum Islam sepenuhnya, dia merasa sangat tidak mampu, karena pemerintah yang sudah mengambil dan menjalankannya.

Meskipun bukan hukum yang betul murni dan mutlak sesuai ajaran Islam, tetapi masih lebih baik bagi pelaku kejahatan tetap dihukum dengan dipenjara. Yah, daripada tidak dihukum sama sekali. Pilih yang mana hayo? Kan efeknya jauh lebih besar ketika pelaku tersebut dibiarkan begitu saja.

Kesimpulan

Bicara tentang hukum ini, kita jadi ingat dengan sebuah kisah, saat Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu diutus untuk bersafar dalam rangka perang dan beliau jadi panglimanya. Sebelum sampai di tujuan, Rasulullah Shallalallahu ‘Alaihi Wasallam meninggal dunia.

Polemik terjadi, apakah Usamah tetap akan ditunjuk jadi panglima atau diganti saja karena usianya yang masih sangat muda? Bukankah ketika itu masih banyak sahabat yang lebih senior dan berpengalaman dalam perang?

Ketika Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu menjadi khalifah, beliau tetap meneruskan sesuai kemauan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Panglimanya tetaplah Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu. Tidak diganti sama sekali.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu, banyak orang yang tidak mau bayar zakat. Oleh beliau, mereka diperangi karena dianggap murtad, ke luar dari Islam. Padahal sahabatnya, Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu berbeda pendapat.

Dari dua kisah nyata tersebut, kita bisa mengambil hikmah bahwa untuk urusan hukum, memang contoh terbaik umat ini tidak main-main, karena hukum memang bukan untuk dipermainkan. Meskipun judul di atas berbicara tentang aturan main, tetapi permainan yang paling indah dan mesra memang cuma permainan antara suami dengan istri. Wedew…

Baca Juga: The Central of Point

Wa’allahu alam bisshawab

Sumber:
1. Ta’lim rutin oleh Ustadz Akbar Jabba, S.Pd.I (Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana) dengan tema “Pembahasan Kitab Tauhid” pada tanggal 25 Februari 2020, bertempat di Masjid An-Nur, kompleks pesantren Al-Wahdah Bombana.
2. Situs https://www.kompasiana.com/syahidpembelajar/5508e765a3331124452e399a/carilah-hatimu-di-3-tempat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here