Sepotong Cinta dalam Sejumput Garam

1
291
sepotong-cinta-dalam-sejumput-garam

Kisah ini diambil dari salah satu video ceramah Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA hafidzahullah. Berdasarkan kisah nyata. Bukan kisah di dunia maya. Meski tulisan ini bisa mengalir juga di dunia maya.

Ada sepasang suami istri. Tidak disebutkan menikahnya kapan? Maharnya apa? Atau bahkan uang panaiknya berapa? Termasuk sudah punya anak atau belum? Intinya adalah di pasangan suami istri tersebut. Baiklah, kita mulai saja!

Pulang Kerja

Kisah itu memang terjadi sebelum ada pandemi corona alias covid-19. Makanya, belum mengenal istilah WFH atau Work From Home. Arti bahasa Indonesianya adalah bekerja dari rumah. Tapi tunggu dulu, bukankah di rumah juga semestinya kita harus bekerja? Ya, memang benar. Namun, yang ditekankan adalah bekerja untuk mendapatkan penghasilan.

Suami tersebut baru saja pulang dari kantornya. Seperti kebiasaan istrinya, akan menyambut sang suami tercinta di dekat pintu. Mencium tangan suami, lalu dipersilakan untuk makan.

Hari itu, suaminya sudah datang, tetapi makanan belum siap. Tidak juga disebutkan pulang cepatnya karena apa? Apakah karena gurunya rapat? Kalau yang ini, lebih pas memang untuk anak-anak SD.

Mengetahui makanan berat belum siap, sang suami meminta untuk dibuatkan mi instan saja. Oke, kata istrinya. Itu makanan yang bisa tersaji dengan cepat. Namanya saja makanan instan.

Kompor di dapur memasak dua makanan. Satunya makanan berat untuk suami, tetapi belum siap waktu suami pulang. Satunya mi instan itu tadi.

Nah, saat istri mengambil garam, dia lupa, justru dimasukkannya ke mi instan tersebut. Wah, apakah kita bisa menduga yang akan terjadi selanjutnya setelah mi instan dihidangkan ke sang suami?

Begitu memasukkan suapan pertama, di sini suami makan sendiri tanpa disuapi istrinya, dia merasa kok ada yang aneh? Ya, memang aneh, bagaimana tidak, garam yang masuk di situ, sudah pasti membawa citarasa yang sangat berbeda!

Si suami tetap tenang. Seingat saya dalam cerita tersebut, suami tersenyum. Lalu, dia memanggil istrinya.

“Sayang, sini dulu dong!” Mesra suami memanggil istrinya. Menurut Ustadz Adi Hidayat, panggilan “sayang” bisa menjadi asing bagi suami istri yang sudah memiliki anak. Semakin lama menikah, mungkin saja, daya keromantisan mulai pudar. Tidak seperti malam pertama yang semuanya serba indah. Beda mungkin dengan malam ke-1000 kebersamaan suami istri.

Istri yang baik tersebut tentu memenuhi panggilan suaminya. “Ada apa, Suamiku?”

“Sini dulu toh. Sudah lama nih kita nggak makan bareng!”

Istrinya jelas kaget. Bukankah makan bareng sudah sering dilakukan? Lalu, makan bareng yang seperti apalagi?

Rupanya, suami ingin menyuapi istrinya. Waow, istri jadi makin kaget! Namun, biarlah. Suami mungkin ingin lebih bermesraan dengan istrinya atau agar lebih terasa romantisnya.

Setelah suapan masuk ke mulut sang istri, lho kok, ada yang beda ya? Ternyata, dia langsung menyadari bahwa mi itu jadi asin. Betul-betul asin. Dia langsung meminta maaf kepada suami. Namun, suami tetap tenang dan tersenyum. Dia tidak marah sama sekali. Malah dia mengatakan,

“Yuk, kita masak bareng, Sayang!” Aduhai, romantisnya!

Hal Sepele

Gunung yang tinggi dan besar, jika dikupas, maka akan terdiri dari tanah, pasir, batu-batuan. Satu batu saja yang kecil itu sudah bisa menyusun menjadi gunung, jika jumlahnya sangat banyak dan dipadu dengan bahan-bahan lain.

Begitu pula dengan masalah dalam rumah tangga. Seringkali dimulai dari masalah-masalah kecil dan sepele. Meskipun namanya kecil dan sepele, seringkali pula tidak terselesaikan dengan baik. Akhirnya makin lama jadi makin besar hingga mengancam keutuhan rumah tangga tersebut.

Masalah tersebut yang akan selalu ada dalam setiap rumah tangga. Bisa muncul karena suami, bisa karena istri, bisa karena anak, bisa karena orang tua maupun mertua. Aneka rupa masalah bisa datang setiap hari tanpa harus mengetuk pintu rumah terlebih dulu. Bahkan, dapat pula lewat jendela yang tidak ada kordennya.

Contoh masalah seperti makanan yang asin. Ustadz Akbar, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana, pernah mengatakan seorang suami boleh berbohong kepada istrinya demi menyenangkan hati si istri. Seperti contoh di atas, suami pandai sekali menyembunyikan rasa amarah, jengkel, atau mungkin benci kepada istrinya.

Padahal mungkin dia capek sekali dari kantor, penuh peluh, keringat, bau menyengat. Bisa jadi dia di kantor mendapatkan pekerjaan yang super berat. Atau mungkin dimarahi bosnya. Atau ada masalah serius dengan rekan kerjanya.

Jika suami tidak pandai memanajemen dirinya, maka sasarannya adalah pihak lemah dalam keluarganya. Siapa lagi kalau bukan istri dan anak-anaknya? Bukankah suami itu sosok yang kuat dan menjadi pemimpin di rumah tersebut? Meskipun ada pula suami yang bertekuk lutut di depan istrinya. Kepemimpinannya melempem seperti kerupuk basah. Istilahnya DKI alias Di bawah Ketiak Istri!

Badan yang lelah, ingin istirahat, lapar yang melilit di jalan, ditambah dengan cuaca panas, berdesak-desakan mungkin di angkutan umum, ketika di rumah, ingin langsung makan. Namun, rasa makanan yang asing justru tidak menggoyangkan rasa warasnya. Dia tetap bisa berpikir jernih dan sesuai koridor yang ada.

Bahkan, dia tidak mencela makanan. Ada contoh nyata seorang perempuan paruh baya. Setelah memakan mi kuah yang dibeli di warung pinggir jalan, dia mengatakan, “Rasanya seperti kencing kuda!” Subhanallah. Pertanyaan selanjutnya, kok tahu ya rasanya sampai bisa membandingkan begitu? Hem…

Dalam sebuah hadits yang mulia disebutkan:

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)

Mungkin dalam pikiran kita, mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang kita untuk mencela makanan? Penjelasan yang sangat bagus datang dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah:

والذي ينبغي للإنسان إذا قدم له الطعام أن يعرف قدر نعمة الله سبحانه وتعالى بتيسيره وأن يشكره على ذلك وألا يعيبه إن كان يشتهيه وطابت به نفسه فليأكله وإلا فلا يأكله ولا يتكلم فيه بقدح أو بعيب

“Yang hendaknya dilakukan oleh seseorang jika dihidangkan makanan adalah menyadari besarnya nikmat Allah Ta’ala kepadanya dengan memudahkannya (mendapatkan makanan) dan juga bersyukur atasnya. Dan seseorang hendaknya tidak mencela makanan tersebut. Jika dirinya berselera dan senang (suka) terhadap makanan tersebut, hendaklah dimakan. Jika tidak, maka tidak perlu dimakan, dan tidak mengomentari makanan tersebut dengan komentar yang berisi celaan dan hinaan.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1: 817)

Ketika suami mencela makanan, maka celaannya itu dapat menusuk batin istrinya yang sudah susah payah dalam membuatnya. Mungkin dia sudah berusaha untuk melihat resep masakan, entah dari buku atau aplikasi HP, tetapi toh hasilnya tidak 100% sempurna. Dia pasti menyesal dan kecewa, terlebih suaminya menambah luka di hati.

Dalam cerita dari Ustadz Adi Hidayat tersebut, ternyata hanya dari garam yang salah taruh menjadi sepotong cinta yang indah antara suami dan istri. Hal itu tentu saja tidak bisa tidak, berasal dari suami yang sholih dan istri yang sholihah. Mereka menyadari betul bahwa masalah apapun akan dicarikan solusinya agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga.

Secara teori ini memang berat. Bahkan yang menulis ini pun belum tentu bisa menerapkannya dengan baik dan benar. Namun, selama masih ada kesempatan, maka seyogyanya diterapkan agar cinta yang halal antara suami dan istri menjadi makin berseri-seri. Cihuy!

Dan, menurut sebuah persepsi, seorang gadis yang memasak, lalu hasil masakannya keasinan, itu tandanya dia ingin menikah. Sebab, pikirannya menerawang ke mana-mana, hingga garam saja kebanyakan. Lalu, bagaimana halnya jika seorang istri yang melakukan seperti itu? Sepertinya ini menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Semoga kita diberi pasangan yang sholeh dan sholihah agar betul-betul merasakan ketenteraman dalam berumah tangga. Aamiin…

Waallahu ‘alam bisshawab.

Referensi: Muslim.or.id

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here