Seperti Membuat Meja

2
389

Jangan terkecoh, tertipu, terpana atau malah tertipu lagi pada orang yang mengaku bisa melihat jin. Mungkin ada di antara kita yang sempat merasa takjub bahwa orang itu mampu melihat yang tidak tampak. Bahkan, bisa dia gambar, meskipun gambarnya tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Orang yang seperti itu bukan punya tanda kekuatan, tetapi justru kelemahan. Lebih tepatnya adalah kelemahan iman!

Membaca Isti`adzah

Secara umum, manusia tidak bisa melihat jin. Beda memang antara jin dengan jeans. Saat ada orang yang berkata bahwa dia mampu melihat jin, maka kemungkinan dalam tubuhnya juga ada jin. Oleh karena kita secara umum tidak dapat menatap jin atau setan, maka kita butuh membaca isti’adzah.

Apa saja sih keutamaan dari membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an? Tentunya ketika orang tersebut membaca Al-Qur’an, dia bisa mentadabburi Kitabullah, memahami maknanya dan mengambil manfaat darinya. Jelas ada dong bedanya antara orang yang mengaji atau membaca Al-Qur’an dengan hati khusyuk dibandingkan orang yang lalai dalam membacanya. Inilah yang dikatakan oleh Syekh Ibnu Utsaimin Rahimahullah.

Baca Juga: Saudi Buka Kembali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Kalau bacaan isti’adzah itu ditekankan sebelum mengaji, lalu bagaimana dengan membaca Basmalah? Baiklah, untuk pertanyaan ini, kita lihat yang berikut!

Seperti yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Pada suatu hari setelah sholat Dzuhur, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berada di sisi kami. Beliau tengah mengantuk, lalu beliau mengangkat kepala dan tersenyum.

Lalu kami bertanya kepada beliau, “Apa sebab Anda tersenyum, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Baru saja diturunkan kepadaku sebuah surah yang mulia.”

Beliau pun membaca:

إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ
Artinya: 1. Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.


فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

Artinya: 2. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).


إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَ

Artinya: 3. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah). 

Dari hadits yang mulia ini, terlihat jelas bahwa membaca Basmalah ketika akan membaca Al-Qur’an itu hukumnya sunnah saja. Sebab, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam membaca surah ini, tidak mendahuluinya dengan Basmalah.

Konteks yang berbeda adalah dalam sholat. Tetap harus membaca Basmalah, namun dengan dua versi. Ada yang mengeraskan ketika sholat berjamaah (menjaharkan). Ada juga yang membaca dengan pelan (mensirkan). Itu jelas untuk konteks sholat Subuh, Maghrib dan Isya lho! Jangan karena memilih pendapat mengeraskan Basmalah, untuk sholat Dzuhur dan Ashar juga seperti itu. Hem…

Agar lebih menarik tentang perbedaan pendapat membaca Basmalah dikeraskan maupun tidak ini, yuk, kita simak kisah nyata berikut ya!

“Persaingan”

Suatu kali, ada seorang imam dari mahasiswa sebuah perguruan tinggi Islam terkenal di negeri ini. Imam tersebut sesuai dengan pemahamannya, yaitu: ketika sholat berjamaah, tidak mengeraskan bacaan Basmalah.

Eh, lha kok, ada jamaah masjid di situ juga yang merasa agak gimana gitu. Karena dia meyakini bahwa mengeraskan bacaan Basmalah itu harus. Mungkin dianggapnya wajib juga.

Nah, dia lalu melancarkan propaganda dan bukan propatunggal, ke jamaah lain. Dia menanamkan syubhat-syubhat seputar imam baru yang tidak mengeraskan bacaan Basmalah. Ada sebagian jamaah yang termakan syubhat tersebut, mungkin karena dia di rumah juga belum makan. Kemudian, sang imam baru merasa tidak enak begitu tahu ada syubhat seperti itu karena diikuti pula oleh beberapa jamaah lain.

Baca Juga: Letak Benteng Dzulqarnain

Solusi pun diambil agar permasalahan menjadi clear. Jangan terbayang sebuah merek produk ya! Orang yang menanamkan syubhat itu diajak berdialog dengan sang imam. Ditanya ke orang tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan koentji, “Kira-kira, kalau membaca Basmalah dikeraskan, sholatnya sah apa tidak?”

Orang itu menjawab, “Sah.”

Ditanya lagi, “Jika tidak membaca bacaan Basmalah dikeraskan, sholatnya juga sah?”

Eh, dijawab lagi, “Sah juga.”

Lalu sang imam menohok dengan pertanyaan pamungkas, “Jadi apa yang dipermasalahkan? Karena toh dua-duanya sah.”

Orang tersebut tidak bisa membantahnya lagi karena memang begitu pula adanya. Nah, ini tidak hanya berlaku untuk urusan membaca Basmalah, tetapi juga sampai membaca qunut Subuh, posisi tangan ketika takbiratul ihram, ketika mau sujud, tangan atau kaki dulu.

Intinya, yang penting itu sholatnya. Mau tangan dulu atau kaki dulu saat akan sujud, tidak masalah. Yang penting, jangan kepala dulu, selama masih mampu tangan atau kaki. Begitulah. Dan, yang terpenting dari hal tersebut, adalah imam dalam sholat diangkat untuk diikuti oleh para makmumnya.

Bagaimana dengan Akhir Bacaan?

Ada awal, ada akhir. Keduanya bisa menjadi nama seseorang pula. Tadi di awal disebutkan tentang membaca isti’adzah, lalu ketika selesai mengaji, apa yang dibaca?

Selama ini yang berkembang di tengah masyarakat, bahkan di pinggir masyarakat juga, tentang ucapan Shadaqallahul adzim. Nah, apakah bacaan tersebut disyariatkan dalam agama Islam yang mulia ini atau tidak?

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu pernah diminta oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk membacakan Al-Qur’an. Tentu saja, Ibnu Mas’ud heran, lalu bertanya kepada nabi, “Wahai, Rasulullah, apakah (layak) bagi saya membacakan Al-Qur’an, sementara Al-Qur’an diturunkan kepadamu?”

“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku, ” jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ibnu Mas’ud membacakan Surah An-Nisa. Ketika sampai pada ayat ke-41:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
Maka bagaimanakah (halnya orang-orang yang durhaka nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu),” (QS. An-Nisa’: 41).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menangis, lalu mengatakan, “Cukup.” Kisah ini dimuat dalam Bukhari-Muslim. Jadi, apa yang dikatakan nabi kita setelah mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Rupanya beliau menyuruh Ibnu Mas’ud untuk berhenti saja dengan berkata, “Cukup”. Tidak perlu diembel-embeli dengan Shadaqallahul adzim

Meskipun secara arti dan makna bacaan tersebut memang benar, bahwa Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Namun, karena tidak ada contohnya dari teladan kita yang mulia, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka lebih baik dihindari. 

Mau Lambat atau Cepat?

Ada sebuah perkataan atau nasihat dalam berlalu lintas, “Biar Lambat Asal Selamat” atau “Jangan Terlalu Cepat Berkendara, Keluarga Menunggu di Rumah”. Intinya, kita berkendara secara waspada dan hati-hati. Namun, jangan sampai ada yang menulis: “Biar Lambat, Asal Bisa Cepat!” Jelas membingungkan kalau yang seperti ini. 

Sedangkan kaitannya dengan tempo membaca Al-Qur’an, apakah lebih bagus dibaca dengan cepat atau lambat saja? Cepat dengan harapan bisa membaca banyak huruf dan mendapatkan pahala lebih banyak? Atau lambat sambil merenungkan bacaan, sampai dengan memahami isinya? Yang mana sering Anda lakukan?

Sebenarnya, membaca Al-Qur’an itu disunnahkan dengan tartil. Apa yang dimaksud bacaan tartil itu? Menurut pengertian yang ada, tartil adalah membaca dengan teratur, pelan, suara jelas dan tanpa kesalahan.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu mengatakan bacaan tartil itu membaca dengan sejelas-jelasnya. Bacaannya tidak boleh tergesa-gesa. Para salaf membenci orang yang membaca terburu-buru agar banyak bacaannya.

Menurut Ibnu Hajar al-Asqolani Rahimahullah, mau membaca cepat sesuai hukum Al-Qur’an atau membaca lambat, juga sesuai hukum Al-Qur’an, keduanya sama dalam mendapatkan keutamaan. 

Jika membaca dengan cepat, ibaratnya permata yang didapatkan banyak. Sedangkan yang lambat, cuma satu permata. Tapi, nilai permata itu sama saja. Misalnya, harga permata satu milyar rupiah. Yang cepat, punya banyak permata, yang lambat satu saja, tetapi sekali lagi, harganya sama!

Membuat Meja

Mungkin dari tadi, Anda membaca sampai sejauh ini, yang mana sih disebutkan di judul? Katanya seperti membuat meja, lha, ini kok belum ada kaitannya? Tenang saja, Sahabat muslim dan muslimah, di sinilah akan dibahas, sekaligus sebagai penutup tulisan ini. Tidak perlu kok pakai acara penutupan segala.

Jadi, membaca Al-Qur’an itu ibaratnya seperti membuat meja. Ada seorang yang memberikan perumpamaan tersebut kepada seorang ustadz. Untuk bisa membuat meja, maka perlu disiapkan kayu yang bagus dan berkualitas. Masih kasar kayunya, dihaluskan. Terus, dipotong, dibentuk pola meja. Tentu dengan ukuran-ukuran tertentu.

Mulai terbentuk meja, masih perlu dihaluskan lagi, dipernis, bahkan dicat. Pada akhirnya, jadilah meja yang cantik, anggun dan berkelas. Meja tersebut siap untuk digunakan. Bisa untuk meja makan, meja belajar, meja kerja, boleh juga untuk ujian meja. Ini istilah untuk ujian skripsi bagi mahasiswa, terutama di daerah Sulawesi. Ada yang sedang skripsi di sini?

Membaca Al-Qur’an yang bagus memang butuh proses, ibarat membuat meja itu tadi. Jangan terlalu dipikirkan hasilnya, yang penting prosesnya. Apalagi di era sekarang, metode untuk bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sudah banyak caranya. Salah satunya adalah dengan metode Dirosa (Dirasah Orang Dewasa) dari Wahdah Islamiyah. Untuk wilayah Bombana, Anda bisa menghubungi Ustadz Aidil Mudzakar, SH. Tidak perlu repot, cukup Anda klik link berikut ini: Daftar Dirosa Bombana.

Baca Juga: Manfaat Minum Madu 


Wa’allahu alam bisshawab

Sumber:
1. Ta’lim rutin Maghrib-Isya, oleh Ustadz Darlan Bakri, SH (Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab atau STIBA Makassar), yang dibawakan pada tanggal 4 Maret 2020, bertempat di Masjid Haqqul Yaqin, Kompleks Kantor Bupati Bombana. 
2. Situs internet: https://tafsirweb.com/37396-quran-surat-al-kautsar.html

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here