Perayaan Valentine: Antara Cokelat, Bunga, dan Puisi

0
306
valentine

Menjelang tanggal 14 Februari, selalu tersiar di mana-mana tentang perayaan Valentine. Tentunya, juga di negara kita. Bagaimana kita menyikapinya?

Bicara tentang cinta, memang seakan-akan tidak akan pernah ada habisnya. Dari zaman dahulu sampai sekarang, topik tentang cinta selalu menarik untuk diulas. Bentuknya pun bermacam-macam. Ada yang bentuk karya tulis, musik, film, maupun pemikiran-pemikiran yang termaktub di dalamnya. Salah satunya yang tidak tertinggal adalah Valentine. Sebuah perayaan yang katanya tentang cinta itu dan berkutat pada tiga hal, yaitu: coklat, bunga, dan puisi.

Sejarah Valentine

valentine-2

Sebelum membahas lebih jauh, tentunya kita perlu tahu sedikit tentang sejarah Valentine. Tanggal 14 Februari atau Valentine ini dikenal sebagai hari kasih sayang. Nama Valentine sendiri adalah nama pendeta Roma beragama Nasrani yang memiliki akhir kisah cinta yang tragis.

Baca Juga: Menghindari Taqlid Buta dan Tuli Sekalian

Disebutkan bahwa Valentine dipukuli dan berakhir dipancung pada tanggal 14 Februari 278 Masehi. Bentuk eksekusi tersebut adalah hukuman akibat pendeta Valentine dianggap menentang kebijakan kaisar bernama Claudius II.

Kaisar tersebut terkenal kejam karena membuat Roma terlibat dalam berbagai pertempuran berdarah. Untuk mendapatkan tentara yang kuat, maka Claudius II ini menganggap segala bentuk pernikahan akan melemahkan laki-laki karena jadi terikat dengan istri mereka. Oleh karena itu, dia melarang segala bentuk pernikahan dan pertunangan.

Pendeta Valentine tidak setuju dengan kebijakan kaisar tersebut. Dia pun berusaha secara diam-diam menikahkan pasangan muda. Rupanya, kaisar tahu sehingga pendeta Valentine ditahan serta dihukum. Tubuhnya dipukul hingga dipancung. Pada saat hukuman tersebut dilaksanakan, jatuh pada 14 Februari.

Dilihat dari sejarahnya saja, sudah terdengar mengerikan. Seorang pendeta yang dihukum bunuh oleh kaisar. Sekarang, berubah menjadi peringatan untuk sayang-sayangan antarinsan. Padahal esensinya adalah memperingati sejarah yang kelam. Anda setuju begitu?

Elegi Cinta dalam Peringatan Valentine

Cinta itu memang berada dalam dua bentuk sesuai dengan agama kita, yaitu: cinta yang halal dan cinta yang haram. Menurut Ustadz Darlan, SH, salah satu pimpinan Ponpes Al-Wahdah Bombana, cinta itu mempunyai kepanjangan dilihat dari huruf masing-masing. Cerita Indah Namun Tanpa Arti. Begitulah. Terasa indah dipandang, terasa enak di pikiran, tetapi pada dasarnya kosong dan hampa, tidak ada isinya. Itu memang cinta yang tidak halal.

Peringatan Valentine mewadahi para pemuja cinta untuk merayakannya. Paling sering dengan saling memberikan coklat. Lho, kok cokelat? Bukankah coklat itu identik dengan makanan yang menimbulkan jerawat? Bagaimana dengan anak gadis yang sudah berjerawat banyak hingga bekasnya susah dihilangkan, tetapi tetap diberikan cokelat?

Sejarah coklat menjadi makanan “wajib” pada perayaan Valentine ternyata kebetulan saja. Ditelusuri dari sejarah lagi, sejak era masuknya cokelat ke Eropa pada sekitar tahun 1600-an. Madame du Barry, istri dari raja Louis IV, memberikan minuman cokelat pada suaminya sebagai stimulan. Ketika itu, baru sebatas anggota kerajaan saja yang menikmati cokelat. Namun, sudah menjadi salah satu simbol cinta.

Baca Juga: Ikatan Cinta

Pada tahun 1837, ratu Victoria menjadikan hari Valentine sebagai sebuah perayaan dan hal ini disambut dengan sangat meriah oleh rakyatnya. Termasuk dengan tradisi pemberian cokelat ini.

Tidak cuma dengan cokelat, simbol cinta lainnya adalah melalui setangkai bunga dan satu tulisan puisi. Mungkin jika disuarakan, ada yang berkata, “Ciee, cieeee…” Kemungkinan hal itu karena kebiasaan saja pada diri remaja kita. Bisa juga karena meniru tontonan-tontonan yang tidak benar di TV maupun internet. Tontonan yang tidak lagi berupa tuntunan.

Bagi para laki-laki yang doyan mempermainkan perasaan perempuan, maka ketiga hal itu bisa menjadi senjata yang sangat ampuh. Jangankan yang gagah dan mapan, yang “di bawah standar” saja bisa mendapatkan kekasih berganti-ganti. Hal itu sebagaimana yang disebutkan oleh Ustadz Akbar Jabba, S.PdI, ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana. Orang dengan kemampuan mampu merangkai puisi disebutkan bisa menarik hati dan perhatian perempuan yang bukan mahromnya.

Ini juga berdasarkan kajian psikologis, bahwa perempuan itu suka bermain dengan perasaan, makanya perasaannya sering dimainkan. Cokelat, bunga, dan puisi itu juga sebagai bentuk perhatian dari laki-laki asing. Bayangkan saja, perempuan yang kesepian, tiba-tiba mendapatkan hadiah berlabel nafsu maksiat itu, apalagi dari laki-laki yang telah lama disukainya pula.

Hal ini mungkin tidak terlepas dari perempuan yang justru tidak mendapatkan cinta murni. Anda tahu dari siapa? Tidak lain dan tidak bukan adalah dari ayahnya sendiri. Sosok ayah bagi anak perempuan itu sosok yang sangat penting, sebab anak perempuan akan mengenal cinta pertama dari ayahnya. Sebaliknya, bisa juga anak perempuan akan mengenal patah hati pertama dari ayahnya. Wah, kok bisa?

Anak perempuan yang jarang disayang, dibisiki kata-kata lembut dari sang ayah, dipuji kecantikannya, maka akan punya kecenderungan untuk mencari dari laki-laki lain. Dan, hal itu sudah banyak terjadi. Ayah yang sibuk dengan pekerjaannya, lupa dengan anaknya sendiri. Atau tidak sibuk-sibuk amat dengan kerjanya, tetapi sibuk dengan dunia impiannya. Betapa banyak sosok ayah yang masih maniak dengan game online. Padahal, yang namanya game itu semestinya sudah beres ketika dia kecil. Mengapa sekarang muncul lagi? Apakah dia mengalami masa kecil yang kurang bahagia?

Ada juga ayah yang malu-malu memuji anak perempuannya. Dia mungkin rajin memuji istrinya, tetapi anak perempuannya lupa dipuji juga. Padahal, sama-sama perempuan bukan? Ketika anak perempuan mulai tumbuh menjadi remaja, seharusnya fungsi orang tua tetap melakukan kontrol yang cukup ketat. Sebab, pada masa itu, godaan luar biasa besar. Apalagi dari yang namanya lawan jenis. Apalagi dengan yang namanya laki-laki. Apalagi dengan yang namanya laki-laki tukang mempermainkan perempuan.

Terlebih, sosok ayah tidak dianggap idola oleh anak perempuannya sendiri. Ayah tersebut mungkin menampilkan wajah yang garang, suka marah-marah, bentak sana bentak sini, kadang disertai pula dengan kekerasan fisik. Yang namanya perempuan, pastilah akan muncul ketakutan ketika dia disakiti, baik lisan maupun fisik. Apalagi ada ancaman dari ayah itu sendiri.

Ustadz Bendri Jaisyurrahman pernah mengatakan bahwa bukti keberhasilan didikan ayah terhadap anak perempuannya adalah tatkala anak perempuannya ditawari untuk menikah, lalu dia merasa belum ada yang cocok. Ditanya alasannya, dia menjawab, “Nggak ada yang aku suka, Yah. Soalnya gak ada sih yang seperti Ayah!”

Makanya, perayaan Valentine ini tidak cuma membahas permasalahan antara laki-laki dengan perempuan saja. Pemuda dengan pemudi saja. Namun, perlu ditarik konteks yang lebih luas dan mendalam. Bagaimana dengan pembinaan di dalam keluarganya? Bagaimana juga memaknai cinta antaranggota keluarga? Apakah mereka sudah dekat secara fisik dan hati? Atau seakan-akan secara fisik, tetapi dilihat dari hati, malah jauh?

Kerusakan-kerusakan Perayaan Valentine

valentine-3

Sebagai seorang muslim maupun muslimah, semestinya memang menghindari perayaan Valentine. Namun, perlu diketahui alasannya, mengapa sampai perlu dihindari? Disebutkan oleh Ustadz Darlan, ada lima kerusakan pada perayaan Valentine:

#1 Meniru Orang Kafir (Tasyabbuh)

Buat apa sih kita meniru orang-orang kafir? Sementara Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyempurnakan agama Islam ini dan menjadi agama satu-satunya yang diridhoi oleh-Nya. Kita perlu ingat hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269).

Baca Juga: Lucu bin Aneh

Perayaan Valentine dari sejarahnya adalah sejarah orang-orang kafir. Lalu, seandainya kita ikut dan meninggal waktu merayakannya, bukankah kita terancam nanti di hari kiamat akan dikumpulkan bersama mereka? Kalau mereka sudah dijamin masuk neraka, bagaimana dengan nasib kita sendiri yang menyamai mereka? Mestinya kita bergidik ngeri dalam urusan ini.

#2 Terjatuh Kepada Cinta yang Tidak Halal

Makanan yang tidak halal, seperti: babi, bangkai kecuali ikan dan belalang, anjing, kelelawar, dan lain sebagainya itu bisa kita hindari demi keselamatan agama kita. Lalu bagaimana dengan cinta yang tidak halal? Kiranya Anda sendiri yang bisa menjawabnya dengan lugas di dalam hati.

#3 Menjadi Hari Semangat Untuk Berzina

Kata Ustadz Akbar, beberapa hari sebelum Valentine, sudah ada bukti bahwa banyak kondom habis. Ini jelas bukan kondom HP sesuai merek HP Anda, melainkan kondom yang merupakan alat kontrasepsi. Mencegah kehamilan, katanya begitu. Kondom ini juga digaung-gaungkan untuk mencegah AIDS. Berhubunganlah dengan pasangan yang sah. Namun, jika ingin berhubungan dengan yang tidak sah, maka pakailah kondom. Begitu kata mereka.

Kaum perempuan adalah kaum yang sering ditaklukkan tidak sekali jadi. Butuh proses yang kadang cukup panjang. Apalagi bagi laki-laki yang memanfaatkan momen Valentine ini. Dari jauh-jauh hari, sudah pasang kuda-kuda. Sudah pasang ancang-ancang. Dia sudah memasang target dan sasaran tembak. Lalu, dimulailah serangan demi serangan.

Perempuan suka dengan perhatian. Makanya, dimanfaatkanlah bentuk perhatian tersebut. Mungkin dengan sekadar like di postingan medsos si target. Lanjut ke sapaan di chat. Dan, begitulah seterusnya. Ibarat sinetron, ada episode-episodenya. Puncaknya adalah ketika kehormatan si perempuan bisa direnggut oleh laki-laki yang tidak jelas tersebut.

Saat kehormatan sudah hilang, maka yang ada adalah penyesalan. Kehormatan itu tidak seperti rambut yang bisa tumbuh kembali. Sekali hilang, maka tidak akan pernah bisa kembali. Makanya, perlu diserahkan kepada orang yang paling berhak, yaitu: suaminya yang sah. Dengan demikian, kehormatan tersebut diambil secara halal dan tetap bisa menghormati perempuan itu sendiri.

#4 Meniru Perbuatan Syetan

Dalam konteks ini, yang disoroti adalah bentuk pemborosannya. Membeli coklat untuk si A, B, C, sampai Z adalah bentuk tindakan pemborosan. Banyak juga coklatnya ya?

Ditambah dengan hadiah-hadiah lain yang sok romantis, demi menaklukkan hati si target. Padahal, uang atau harta yang dibelanjakan seperti itu, bukankah akan lebih bagus untuk hal-hal yang mendatangkan pahala? Misalnya, dipakai untuk membantu pembangunan masjid pesantren putra Al-Wahdah Bombana? Begitu jelas lebih bagus dan top!

Orang yang boros adalah saudaranya syetan. Meskipun kita tidak tahu, berapa sih kekayaan syetan sebenarnya, tetapi bisa dilihat dari perilaku manusia yang punya sifat syetan. Betapa mereka membangga-banggakan kekayaan mereka dengan video-video, lalu diunggah di media sosial. Membeli barang-barang branded hanya demi gengsi agar dikatakan orang kaya dan sebutan “sultan”. Harga tas yang mungkin ratusan juta, pada dasarnya fungsinya sama dengan yang harga ratusan ribu saja. Lalu, mengapa pilih yang jauh lebih mahal?

Menggapai Cinta yang Benar

Jika punya kemampuan, maka segeralah menikah! Namun, urusan menikah ini bukan sepele. Butuh persiapan yang matang, termasuk dalam segi finansial atau keuangan. Apalagi di tengah kebutuhan hidup yang makin tinggi, tanpa terasa uang untuk menikah pun mengikuti. Namun, kembali kepada sebuah kaidah, bahwa uang untuk menikah itu sebanding kok dengan orang yang ingin kita miliki secara halal. Janganlah punya mental gratisan!

Seorang remaja, saat dihadapkan dengan cinta-cintaan ala Valentine, maka perlu dikembalikan ke konteks cinta yang benar pada fase mereka. Termasuk ketika ada yang bertanya, bagaimana saat kita menyebut nama orang yang kita cintai dalam doa kita? Maka, jawabannya adalah sangat boleh. Eits, jangan salah! Bukan berarti orang yang ditaksir, namun yang lebih tepat adalah nama orang tua.

Ya, remaja memfokuskan cintanya saja kepada kedua orang tuanya. Menjadi anak yang berbakti, senantiasa patuh dan taat, serta tidak lupa mendoakan, bukankah hal itu jauh lebih indah dan dahsyat daripada remaja-remaja lain yang larut dalam perayaan Valentine? Nah, kalau ternyata lebih indah dan dahsyat, mengapa bukan itu saja yang dilakukan? Ya ‘kan?

Kesimpulan

Fenomena perayaan Valentine ini akan selalu ada di bulan Februari tiap tahun. Sama dengan perayaan Natal tiap bulan Desember. Ada sebagian kalangan muslim kita yang membolehkan ucapan Valentine maupun Natal tersebut, atau perayaan agama lain lainnya. Sementara yang masih memegang teguh untuk tidak merayakan mungkin dianggap ketinggalan zaman, bahkan kampungan.

Itulah tantangan pada diri kaum muslimin sekarang. Mereka tidak cuma menghadapi orang-orang kafir yang menjadi musuh Islam, tetapi juga dari kalangan sendiri, banyak yang menjadi musuh juga.

Kalau dalam perayaan Valentine sudah nyata banyak cinta yang tidak halal dan terungkapkan melalui cokelat, bunga, dan puisi, maka sudah saatnya menyelamatkan kaum remaja kita.

Waallahu ‘alam bisshawab

Baca Juga: Kisah Gadis dan Seorang Preman

Sumber:

  1. Acara seminar remaja online dengan tema “Valentine yang Kaleng-kaleng” bersama Ustadz Darlan Bakri, SH dan Ustadz Akbar Jabba, S.Pd.I pada tanggal 12 Februari 2021 jam 21.00 WITA.

2. Detik.com

3. Merdeka.com

4. Rumaysho.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here