Pengumuman Lomba Menulis Khusus Santri Ponpes Al-Wahdah Bombana

0
216
lomba-menulis-khusus-santri-pondok-pesantren-al-wahdah-bombana

Inilah salah satu berita yang mungkin paling ditunggu oleh banyak orang. Apalagi kalau bukan pengumuman lomba menulis khusus santri ponpes Al-Wahdah Bombana. Siapa saja pemenangnya?

Sebelum melihat pemenangnya, rasanya kurang afdhol kalau tidak saya ceritakan sedikit tentang lomba ini. Termasuk santri-santri pemenang dalam lomba ini, mesti saya ulas juga. Agar Anda yang membaca dan mengetahui hasilnya nanti, bisa maklum dan mengerti, Insya Allah.

Dasar Dibentuknya Lomba

Lomba menulis ini memang diperuntukkan hanya untuk santri ponpes Al-Wahdah Bombana. Yang namanya santri, memang terdiri dari berbagai macam jenjang. Mulai dari kelas VII SMP hingga XII SMA, ikhwah maupun akhwat. Tidak hanya yang tinggal di asrama ponpes, termasuk juga santri tahfidz.

Mengapa semuanya boleh ikut? Ya, semuanya boleh ikut, asal masih terhitung santri pondok pesantren Al-Wahdah Bombana. Kalau anak SD tidak bisa dikatakan santri karena tidak tinggal di pondok, apalagi anak TK.

Semua jenjang santri bisa bertarung di sini. Tidak selalu yang kelas lebih tinggi itu lebih bagus, dan kelas rendah kurang bagus. Semuanya bisa punya kesempatan yang sama.

Kriteria Lomba Menulis

Namanya lomba, mestilah ada aturannya dong. Dalam lomba ini, tema yang diangkat adalah “Remaja dan Pesantren”. Dari tema tersebut, kira-kira bisa terbayang yang akan ditulis. Selalu menyangkut santri yang notabene usia remaja dan tempat tinggalnya sekarang di pesantren.

Saya membebaskan mereka untuk membuat karya tulis dalam bentuk apapun. Bisa cerpen, puisi, artikel, opini, esai, atau bentuk lainnya. Media yang dipakai pun bermacam-macam, aneka kertas bisa dipakai. Alat tulis juga bebas, asal jangan tinta merah. Sebab, tinta warna itu terkesan marah-marah. Mau ikut lomba kok marah-marah?

Ada satu larangan dalam lomba ini, dan larangan ini saya pegang ketika saya mengajar. Setiap peserta tidak boleh menggunakan tipeks. Ya, tipeks yang merupakan alat penghapus tulisan berwarna putih itu, saya larang dalam pelajaran-pelajaran saya.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa harus dilarang? Bukankah dengan adanya tipeks itu, tulisan yang salah jadi hilang, lalu bisa ditimpa dengan tulisan yang baru?

Betul, memang itulah fungsi tipeks. Namun, saya melihat bahwa tipeks ini justru mengotori kertas. Meskipun menggunakan cairan berwarna putih, tetapi tetap kentara di kertas. Itu yang pertama.

Alasan kedua adalah saya ingin agar kesalahan itu ditampakkan saja di tulisan-tulisan mereka. Bagi saya, salah bukanlah masalah, karena masih dalam tahap belajar. Coba, adakah manusia yang tidak pernah salah dalam belajar? Tentunya tidak ada bukan?

Kesalahan tersebut perlu ditampakkan sedikit, dengan cara mencoretnya. Ya, cukup mencoretnya sekali saja kata atau kalimat yang salah, lalu ditulis di sebelah kanannya. Itu saja sudah cukup.

Mungkin ada yang beranggapan, justru itu mengotori kertas. Kalau coretannya cuma sekali, dan tidak semua tulisan, maka itu tidak akan mengotori. Jadi, no problem tanpa tipeks.

Masih dalam alasan kedua ini adalah saya ingin mengajarkan kepada mereka bahwa kesalahan di tulisan itu ibarat masa lalu. Kita pernah melakukan kesalahan di masa lalu, tetapi cukup dicoret saja, tidak perlu dihilangkan sama sekali. Masa lalu yang masih kadang muncul dalam pikiran, apalagi kesalahan kita itu tadi, bisa menjadi sarana introspeksi dan perbaikan ke depannya.

Alasan yang ketiga, saya ingin praktis saja. Bukankah sekarang yang disukai orang adalah yang praktis-praktis saja? Ya ‘kan? Praktisnya adalah dengan pulpen yang mereka pakai. Salah, tinggal coret, masih pakai pulpen juga, tidak perlu pakai alat lain.

Kalau dengan tipeks, maka harus ada alat kedua. Ya, kalau punya sendiri, kalau tidak? pastilah akan pinjam. Dan, itu akan memakan waktu. Kalau memakan kue sih enak, tetapi memakan waktu untuk hal yang semestinya lebih praktis itu tadi, menjadi suatu bentuk kerugian lho!

Alasan keempat, saya ingin menghindarkan sarana belajar mereka dari coretan-coretan karena tipeks tersebut. Berdasarkan pengalaman saya sekolah dahulu, coretan yang paling kentara itu menggunakan tipeks. Bangku dengan warna coklat, menjadi terkotori dengan tipeks-tipeks yang nakal dimainkan murid.

Meskipun yang ikut ini semuanya santri, yang notabene bukan murid di sekolah umum atau negeri, tetapi peluang untuk mengotori meja atau kursi belajar itu terbuka bukan? Oleh karena itu, cukup pulpen saja. Sudah sangat cukup untuk memindahkan buah pikiran ke dalam kertas.

Dari larangan itu, ada peserta yang saya diskualifikasi langsung karena memakai tipeks. Selain itu, ada juga yang saya diskualifikasi karena tidak mencantumkan identitas kelasnya. Saya memberikan syarat identitas peserta adalah: nama, kelas, dan tanda tangan. Satu saja tidak ada, maka langsung ke luar dari ajang perlombaan fenomenal ini. Wah, fenomenal khusus di pesantren Al-Wahdah Bombana maksudnya!

Mengulik Para Peserta

Batas pengumpulan tulisan antara tanggal 15 Februari sampai dengan 10 Maret 2021. Seperti kebiasaan lomba-lomba lainnya, pada awal lomba, terasa sepi. Hampir tidak ada yang mengumpulkan sama sekali. Saya berprasangka baik, mungkin mereka sedang mempersiapkan strategi dan amunisi tempurnya. Mungkin sedang membuat draft atau apalah, terserah mereka saja.

Peserta yang mengumpulkan pertama kali adalah seorang santri kelas XII. Santri yang satu ini membuat saya terkejut karena dia mengumpulkan dalam bentuk buku tulis! Masya Allah, tidak saya sangka-sangka, berarti satu atau dua lembar kertas tidak cukup, baiklah.

Menjelang deadline, jumlah peserta meningkat. Pada hari terakhir, saya memberi waktu sampai jam 00.00 WITA. Kalau memang ada yang mengumpulkan jam selarut itu, saya akan terima, tetapi sepertinya tidak akan mungkin. Para peserta terakhir saya terima naskahnya setelah Isya, di Masjid An-Nur.

Alhamdulillah, peserta mencapai 42 orang. Santri ikhwan sebanyak 30 karya, sedangkan santri akhwat hanya 12 karya. Cukup lumayan untuk jumlah peserta, karena memang menulis ini rasa-rasanya tidak untuk sembarang orang. Tidak banyak orang yang menekuni minat dalam bidang menulis. Mungkin karena belum PD, atau faktor lainnya. Entahlah.

Fase Penjurian

Saya mulai membaca dan menilai hasil karya peserta beberapa hari setelah tanggal 10 Maret. Caranya adalah dengan memberi nilai setiap karya dan dimasukkan di buku khusus nilai. Tulisan pertama yang saya baca adalah dari Musdalifa, kelas VIII B. Sedangkan yang terakhir adalah Astiar Andra Reska kelas VIIA.

Dari berbagai tulisan, rata-rata memang bercerita proses anak-anak menjadi santri di ponpes Al-Wahdah Bombana. Ada yang awalnya tidak mau sekolah, padahal sudah didorong orang tuanya. Sampai akhirnya, orang tuanya menawari untuk menikah saja, daripada sekolah tidak mau. Eh, si anak yang tidak mau menikah. Pigimana sih?

Cerita berlanjut saat sudah berada di ponpes. Keseruan mereka dalam menikmati pendidikan di pondok tersebut. Pengalaman pula memegang jabatan di asrama. Membimbing santri lain di bawah kepemimpinannya.

Aneka rupa buah dari pikiran mereka tertuang dalam tulisan tersebut. Dan, memang saya melihat sudah ada bakat-bakat menjadi seorang penulis yang tangguh. Hanya memang perlu dipoles, perlu banyak latihan, sekaligus perlu menempuh jalannya yang kadang tidak mulus atau penuh terjal.

Setelah saya membaca keseluruhan tulisan, ada yang langsung menarik dan kreatif. Ini juga tidak sempat terpikir oleh saya. Peserta yang satu ini dia membuat buku, dan seakan-akan bukunya sendiri yang sudah diterbitkan. Menggambar kaver secara sederhana, disertai dengan kata mutiara dari Imam Asy Syafi’i, ulama salaf.

Ketika membuka halaman awal, saya juga kaget. Ini benar-benar seperti buku cetak. Menulis judul, penulis, editor, penerbit (dengan inisial namanya), cetakan pertama, lalu cetakan kedua. Wah, keren sekali!

Dilanjutkan dengan kata pengantar, plus daftar isi. Ini saja sudah menjadi poin plus penilaian, kreativitas dan inovasi dalam berkarya.

Membaca halaman demi halaman, justru makin menarik. Selain kisah atau ceritanya, di setiap halaman juga ada nomor. Jadi, kita tidak bingung untuk membedakan masing-masing halaman. Dan, tidak hanya sekadar membuat nomor halaman, tetapi dihiasi.

Kisah yang diceritakannya runtut sebelum masuk ke pesantren, hingga resmi jadi santri. Awalnya, dia mau masuk sekolah umum saja, tetapi bapaknya mau si anak ini masuk pesantren.

Kisahnya tentang pendaftaran santri, melalui fase wawancara dan latihan membaca Al-Qur’an. Berlanjut dengan saat dia berada di asrama ikhwan yang berdekatan dengan Masjid An-Nur. Teman-temannya berolahraga di lapangan yang sempit, tetapi dia memilih untuk tidak berolahraga, karena bukan hobinya. Hem…

Pengalaman pulang dari sekolah di pondok akhwat, kehujanan, lalu kembali ke asrama ikhwan di lokasi yang baru, juga diceritakan dengan jelas. Dan, tidak lupa, kejadian unik yang dialaminya.

Pada akhir cerita, dia menulis “Bersambung”, seakan-akan itu kisah yang berlanjut di seri berikutnya. Entah akan dilanjutkan atau tidak, tetapi ini sudah menarik minat pembaca seandainya dibukukan secara nyata.

Poin plus lainnya yang membuat karya ini jadi makin kinclong adalah untuk memenuhi halaman-halaman berikutnya, dia menulis kata-kata mutiara dan motivasi. Diambil perkataan dari ahli hikmah, hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, terakhir perkataan dari Syaikh Aidh Al-Qarni, ulama dan penulis produktif. Masya Allah.

Lucunya, di bagian paling akhir ada ketentuan tentang hak cipta. Mengutip Undang-undang Republik Indonesia nomor 19 tahun 2002 tentang hak cipta. Pelanggaran hak cipta adalah denda dan pidana penjara. Waow! Ini memang harus dicantumkan di buku cetak, tetapi ditulis juga di bukunya yang notabene adalah buku tulis.

Oh, ya, dari ceritanya, dia tidak menyebutkan nama orang sama sekali. Dia hanya menyebutkan “santri” atau “ustad”. Dia melakukan seperti itu karena takut menyinggung orang yang bersangkutan. Makin luar biasa saja. Menampilkan akhlak yang bagus.

Dari berbagai keunggulan dan kelebihan dari buku karya santri ini, saya tidak menemukan yang semisalnya. Tidak menemukan yang lebih baik darinya. Maka dengan ini, saya menyatakan bahwa santri ini berhak, bahkan sangat berhak untuk menjadi juara 1. Pemenang pertama. Selamat saya ucapkan untuk Ildiansyah, santri kelas XI. Berhak mendapatkan uang tunai sebesar Rp300.000,00.

Mencari Pemenang Selanjutnya

Pemenang pertama seorang santri ikhwan menjadi pemecahan dari persepsi selama ini, dikira santri akhwat yang menang. Nyatanya, tulisan yang bentuknya bagus, memang belum tentu bisa lolos. Karena ada faktor lain, seperti kreativitas dan inovasi dari peserta. Ildiansyah masuk dalam kedua hal tersebut. Selamat sekali lagi.

Selanjutnya, adalah pemenang kedua. Ini pun diambil dengan cukup hati-hati, karena bisa jadi ada karya yang sama-sama berpotensi, tetapi tetap dipilih satu untuk menduduki posisi kedua.

Ternyata, untuk pemenang kedua, saya mendapatkan dengan judul awal “Proses hijrah seorang santri remaja dini”. Saya tulis langsung dan apa adanya seperti itu, yang mestinya tiap huruf di judul itu huruf besar.

Lho, kok ada judul awal? Nah, ini yang menarik juga dari karya ini. Awalnya, ada cerita sendiri yang merupakan kisah nyata. Pada bagian pendahuluan, santri ini bersama orang tuanya pergi ke Bone untuk menjenguk neneknya. Padahal, dia sudah berniat untuk mendaftar di pondok.

Waktu pendaftaran hampir berakhir, hampir saja santri ini tidak jadi masuk di ponpes Al-Wahdah. Namun, Alhamdulillah, berhasil masuk juga.

Dalam menulis, santri yang ini menyisipkan pesan-pesan penuh hikmah. Ini juga mirip dengan buku-buku motivasi atau pengembangan diri, sarat dengan kalimat hikmah.

Tidak hanya ketika di dalam pondok, santri ini juga menceritakan pengalamannya belajar online, atau dalam bahasa Indonesianya adalah belajar daring (dalam jaringan).

Dia pernah mengalami sakit wajahnya bernanah bintik-bintik, sehingga mesti dipulangkan terlebih dulu. Mengalami pengalaman ditolong orang di jalan, karena perkara bensin.

Tadi saya katakan, itu adalah judul awal. Rupanya, masih ada tulisan yang lain. Dan, tulisannya yang ini bentuknya berbeda dari yang pertama. Bentuk puisi dengan judul “Perjuangan Santri”. Isinya tentang kegiatan santri, seperti bangun di malam yang dingin, menghafal Al-Qur’an sekaligus menyetorkan hasilnya.

Puisi itu juga menampakkan kejujuran saat ada sebagian santri yang merasa sudah tidak sanggup lagi melanjutkan pendidikan di ponpes Al-Wahdah Bombana. Namun, si penulis ini menanamkan motivasi untuk selalu bersyukur dan ikhlas dengan apa yang terjadi. Menyadarkan diri sendiri bahwa kesuksesan santri itu memang butuh proses. Sangat benar ini.

Perjuangan santri yang menangis karena rindu dengan orang tua, nantinya akan menjadi perjuangan yang tidak akan mengecewakan hasilnya.

Cerita sudah, puisi juga sudah, masih ada satu lagi tulisannya. Kali ini opini. Pendapatnya pribadi tentang kasus remaja, lebih spesifik adalah pacaran.

Pada awal tulisan ditulis tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pacaran, seperti: karena teman, dorongan, ejekan, kebutuhan, pergaulan, dan lain sebagainya.

Tadi, penyebab pacaran, lalu akibat pacaran juga disebutkan. Misalnya: menjadi kurang fokus terhadap tugas, penyesalan, mengecewakan keluarga, sakit hati, dan masih ada beberapa lagi.

Lalu, kaitannya dengan tema “remaja dan pesantren” apa ya? Ternyata, santri ini mengatakan bahwa masih ada sebagian santri yang melakukan pacaran itu sendiri. Katanya, hal itu terjadi karena nafsu dan keegoisan yang sama-sama tinggi.

Selesai, tiga tulisan ditutup dengan gambar seorang muslimah tanpa muka. Berarti bukanlah gambar makhluk bernyawa.

Saya memilih yang ini untuk jadi pemenang kedua, karena berhasil memadukan tiga jenis tulisan yang berbeda dalam satu bundel kertas folio yang disatukan dengan hekter/staples. Dan, nama dari penulis ini adalah Nurfaidah, kelas XI. Tadi santri ikhwan, sekarang untuk pemenang kedua adalah santri akhwat. Selamat untuk Nurfaidah. Berhak mendapatkan uang tunai Rp200.000,00.

Pemenang Ketiga

Mencari pemenang ketiga dengan hadiah uang sebesar Rp100.000,00 cukup membingungkan. Sebab, beberapa karya yang sudah saya seleksi saling beradu. Ada yang bentuk tulisannya sangat bagus dan nyaman sekali dibaca. Ini memang berasal dari tulisan santri akhwat.

Meskipun tulisannya bagus, tetapi saya melihat isinya, apakah “nyambung” dengan tema atau tidak? Beberapa tulisan, saya temukan memakai tema “remaja dan pesantren” sebagai judul. Padahal itu adalah tema, kalau membuat judul, mestinya dengan kalimat yang lain dong.

Hasil seleksi saya, menemukan karya yang ditulis masih satu jenis. Kalau puisi, ya, cuma puisi, meskipun bentuk tulisannya bagus. Artistik. Sampai saya menemukan sebuah tulisan yang cukup tebal. Isinya 17 halaman! Waow. Ini menjadi perhatian tersendiri bagi saya.

Pada bagian depannya, tergambar sebuah ilustrasi masjid. Hanya dengan menggunakan pulpen, tercipta gambar masjid yang cukup luar biasa. Tidak hanya masjidnya, tetapi juga suasana di sekitarnya. Ada pepohonan, sampai dengan jembatan menuju ke masjid. Visualisasi yang sangat keren.

Meskipun bentuk tulisan di dalamnya biasa-biasa saja, maksudnya ada yang lebih bagus daripada ini, tetapi saya merasakan yang menulis ini serius sekali mengikuti lomba. Tulisannya adalah yang paling banyak di antara tulisan lainnya. Mungkin dia mengerjakan dalam beberapa hari, di tengah kesibukannya dengan hafalan dan pelajaran lainnya. Semangat yang luar biasa.

Ceritanya dimulai dengan pujian kepada Allah dan sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, meskipun di tulisan tersebut, dia menulis SAW. Tidak apa-apa, masih bisa dipahamkan lagi untuk menulis sholawat dengan lengkap. Menulis pujian untuk Allah dan sholawat, juga menjadi poin plus, karena karya lain tidak menyertakannya.

Pada halaman selanjutnya, menceritakan perpisahan dengan SD-nya. Diceritakan juga hari pertama menjadi santri. Pengalamannya tinggal di pondok yang berdekatan dengan masjid An-Nur. Saat mengambil makanan di dalam masjid, bersama santri lain dengan piring masing-masing. Dia berkenalan dengan santri lain, lalu santri lain, santri senior tersebut menyebutkan nama si penulis ini sambil bercanda dan dimiripkan dengan nama seorang artis penyanyi perempuan. Waduh, candanya!

Dia menjadi terkesan baik dengan pondok setelah bertemu Ustadz Akbar Jabba. Beliau memberikan nasihat agar santri membahagiakan kedua orang tua dengan menghafal Al-Qur’an dan belajar ilmu di pondok pesantren Al-Wahdah Bombana.

Ada juga kisahnya saat melepas rindu. Apalagi kalau bukan melepas rindu dengan orang tuanya? Awalnya dikira orang tuanya tidak datang saat waktu berkunjung tersebut. Sampai merasa lesu, hingga tertidur. Alhamdulillah, orang tuanya datang. Dia merasa hari itu adalah hari yang paling bahagia.

Momen melankolis juga dia tuliskan, karena kehilangan sahabat yang sering membantu dan berbagi dengannya. Sahabatnya tersebut akan pindah karena orang tuanya sudah tidak mampu. Dia berharap berpisah di dunia, tetapi semoga dipertemukan di akhirat. Aamiin.

Tidak hanya itu, momen perpisahan juga dia tuliskan dengan cukup detail ketika perpisahan dengan santri senior. Melangsungkan acara pembagian hadiah dan diiringi pula dengan nasyid. Dia memuji, meski dalam hati saja, suara para penasyid itu, karena mereka memang pandai melagukan dalam mengaji. Dia teringat potongan nasyid yang berbunyi, “Selamat tinggal Sahabatku. Ku kan pergi berjuang.” Hem, ada rasa bagaimana ya membaca ini?

Bagian acara terakhir adalah menonton tayangan animasi yang memancing tawa gembira. Pokoknya, malam itu semua bergembira ria, sempat juga berfoto bersama.

Saya kira, setelah cerita ini selesai, ya, sudah. Eh, rupanya, ada lagi bentuk karyanya yang lain, yaitu: puisi dengan judul “Sebuah Perjuangan”. Waow, puisi ini juga diberikan ilustrasi dengan gambar pohon dan pemandangan pohon kelapa dengan latar belakang matahari terbenam atau terbit ya ini?

Apa isi puisinya? Bagian awalnya melukiskan matahari yang muncul dengan kalimat “menampakkan dirinya dengan senyumnya yang manis”. Apakah matahari pernah tersenyum manis? Oh, ini rupanya majas personifikasi, menjadikan benda mati laksana punya sifat manusia.

Pada puisi ini, dia merasakan kesedihan saat ditinggal oleh orang tuanya karena harus belajar di pondok. Dia merasakan kesepian dalam hatinya. Namun, kesedihan tersebut tidak dibiarkannya berlarut-larut. Dia bangkit dan bertekad untuk tidak putus harapan. Super sekali.

Menggelorakan dalam diri dalam sebuah perjuangan di pondok kecil berisi ilmu yang dianggapnya adalah penjara suci. Rela meninggalkan kenikmatan yang memperdaya menuju kenikmatan akhirat yang kekal dan selamanya.

Masya Allah, tulisan yang sangat bagus. Ada gambar ilustasinya, terbagi menjadi cerita dan puisi. Prosedurnya juga lengkap, nama jelas, kelas, dan tanda tangan. Sepanjang itu, tidak menggunakan tipeks sama sekali, saya apresiasi.

Siapakah santri yang menjadi pemenang ketiga ini? Tidak lain dan tidak bukan, adalah santri SMP kita, kelas IX. Dia adalah Abyan Annasa. Berhak mendapatkan uang tunai Rp100.000,00. Selamat untuk Abyan Annasa ya!

Ternyata, Oh, Ternyata

Awalnya, pemenang yang diambil hanya tiga santri saja, dan sudah berhasil didapatkan sebagaimana di atas. Namun, ternyata ada sponsor lain yang juga ingin memberikan hadiah. Meskipun hadiahnya bukan uang tunai, yang jelas semoga itu bisa menambah kegembiraan bagi para pemenang sekaligus motivasi bagi mereka.

Dari situ, maka saya perlu mengambil lagi untuk juara Harapan 1, 2, dan 3. Dan, saya pun mencari-cari lagi, membaca kembali, termasuk melihat nilai yang sudah saya tulis di buku khusus yang sekarang sampulnya sudah lepas itu.

Saya berhasil mendapatkan tujuh karya santri. Tiga puisi dan empat cerita pendek. Nah, ini yang cukup membingungkan, seandainya bisa, dimasukkan saja ketujuh nama tersebut. Namun, saya harus memilah untuk memilih. Semoga saja pilihan saya ini tepat, dan semoga bisa diterima semua pihak.

Untuk juara Harapan 1, saya memilih Nur Asyima, kelas XII. Ceritanya tentang kisah Nur Asyima sebelum masuk ke pesantren hingga benar-benar menjadi santri. Pihak keluarganya mendukung anak ini dengan menyediakan dana. Lalu, bersama dengan teman sekelasnya, dia ingin menjadi santri di Ponpes Al-Wahdah Bombana, padahal sebelumnya akan bersekolah di Baubau.

Perhatian sang ibu terhadap Nur Asyima juga ditampakkan dengan jelas di tulisan ini. Awalnya santri ini merasa belum kenal dengan teman-temannya sehingga merasa berat untuk meminjam barang dari mereka. Padahal, itulah yang membuat ibunya tidak suka.

Ada juga kisahnya tentang menghadapi seorang adik kelasnya yang didapatinya tidur di lantai 1. Asyima memintanya untuk naik ke lantai dua, karena di lantai 1 dingin. Namun, justru mendapatkan bentakan. Asyima diam saja, meletakkan piring di samping adik kelasnya tersebut, lalu pergi.

Dari situ, kita jadi belajar tentang akhlak santri yang satu ini. Padahal dia sendiri adalah kakak kelas, lebih senior, tetapi tidak menurutkan amarahnya kepada adik kelas yang dianggapnya kurang beradab.

Asyima mendapatkan kepercayaan dengan jabatan-jabatan yang sepertinya makin tinggi, yaitu: menjadi ketua kamar. Dia pun berpikir positif saja, itu bisa melatih mentalnya.

Pada kelas 3 SMA ini, Asyima diangkat menjadi ketua umum. Dia bertugas untuk menentukan peraturan, mengatur jadwal, sampai memberi nasihat untuk santri akhwat lainnya.

Ceritanya happy ending, dia berhasil mendapatkan peringkat 1 lomba hafalan Al-Qur’an. Selain itu, dia mendapatkan rangking 1, padahal pada kelas-kelas sebelumnya, dia belum pernah.

Selain ceritanya yang menarik, Nur Asyima menjadi juara Harapan 1 karena dia yang pertama kali mengumpulkan karya. Benar-benar yang pertama, dan dari segi persyaratan juga langsung memenuhi. Saya menghargai usahanya yang cepat merespons untuk lomba ini. Sekali lagi, selamat untuk Nur Asyima!

Lanjut untuk menentukan juara Harapan 2 dan 3. Pilihan saya jatuh pada seorang santri akhwat. Dia menulis puisi. Tidak cuma satu puisi, tetapi tujuh! Waow. Ini cukup mengagumkan. Apa saja puisinya? Tentang apa dia menulis?

Judul pertama adalah “Ekspektasi VS Realita”. Awalnya anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan yang bergembira memasuki lingkungan baru, sepertinya lebih pas memang lingkungan pesantren. Di situ digambarkan ukhuwah yang takkan mati, karena dalam satu pesantren, kedekatannya memang sangat besar.

Ditambah dengan amanah dari orang tua untuk menjadi santri yang baik. Namun, pada ujungnya, sulitnya menjaga amanah tersebut hingga mempunyai akhlak yang belum sesuai harapan.

Judul-judul yang dipakai memang seputar hal-hal yang ditemuinya semasa belajar di pesantren. Sampai dengan puisi berjudul “Kebosanan” yang mungkin tidak hanya dirasakannya, tetapi banyak santri lainnya. Bosan dalam aktivitas sehari-hari, maupun kebersamaan atau ukhuwah sesama santri. Puisi tersebut tidak menjelaskan “demi tujuan”, untuk apa saja? Namun, kiranya cukup menjadi makna yang mengambang bagi pembacanya, dan sudah pasti tahu, lah, apa saja tujuan itu, ya ‘kan?

Penutup dari puisi-puisinya adalah dengan judul “Bakal Rindu”. Menceritakan kenangan yang akan dia alami nanti selepas dari pondok pesantren Al-Wahdah, Bombana. Saat makan yang harus mengantri, mungkin itu tidak nyaman karena harus sabar, apalagi harus antri memanjang.

Penulis ini menaruh harapan agar selepas ke luar dan lulus nanti, dia bisa bertemu lagi dengan teman-temannya, atau dengan suasana pesantren Al-Wahdah, Bombana. Wah, so sweet ya?

Selain dari puisi-puisi yang cukup banyak, saya menilai karya-karyanya juga menjaga rima, artinya bunyi dari kata terakhir memang berirama. Dan, begitulah salah satu keindahan dari puisi, yaitu: memainkan bunyi pada pengucapan kata terakhir, meskipun sekarang tidak harus seperti itu. Variasi puisi sudah sangat banyak sekarang.

Nah, saya menulis ketika lulus nanti, berarti bisa menebak tentang santri ini? Yak, tepat tebakan Anda, karya puisi-puisi ini adalah milik santri akhwat yang sekarang kelas XII SMA alias kelas 3 SMA. Mempunyai nama lengkap dengan tiga kata. Baik, saya sebutkan saja. Selamat untuk Gandis Asyafitri Indri yang meraih juara Harapan 2. Tetap akan mendapatkan hadiah hiburan dan sertifikat pemenang.

Tinggal pemenang terakhir dan benar-benar terakhir untuk lomba menulis santri khusus Ponpes Al-Wahdah Bombana ini. Juara Harapan 1 dan 2, adalah sama-sama santri akhwat kelas XII SMA, bagaimana dengan pemenang terakhir ini? Mari diulas sebentar.

Setelah memandang, saya pun memilih sebuah cerita pendek. Saat menyentuh kertas yang agak tertembus tulisan-tulisannya. Berarti santri yang satu ini menulis dengan cukup tebal dan menekan. Mungkin bisa disimpulkan pula, dia menulis dengan sangat bersemangat.

Hal yang menarik dari tulisan ini adalah dia berhasil membantah tuduhan terhadap pondok pesantren Al-Wahdah Bombana yang katanya sesat. Subhanallah. Menurut orang, santrinya dipukuli, hanya makan kerupuk, dikasari, dan lain sebagainya. Kalau saya melihatnya sih, justru santri di situ malah jarang makan kerupuk.

Dia membantah bahwa di pondok pesantren Al-Wahdah sesat dan tuduhan lainnya. Menuliskan bahwa betapa indahnya berada di pondok. Santrinya makan nasi tempe dan tempe nasi. Hem, bedanya apa ya?

Santri tidak dipukul atau dikasari, tetapi dinasihati dengan baik-baik. Begitulah dia memberikan pembelaan. Dan, memang benar, lebih bagus bertanya kepada orang yang sudah mengalaminya. Kalau orang hanya menduga-duga, ya, semua orang bisa. Namun, apakah benar dugaan tersebut, langsung saja mengalami dan rasakan sensasinya!

Tentang tuduhan orang terhadap pesantren ini tidak ada di tulisan santri lainnya. Jadi, karya santri ini terasa begitu unik dan menyajikan sudut pandang yang berbeda.

Dalam tulisan ini juga ditampilkan semacam konflik-konflik seperti itulah. Saat dia menghias kelas. Dari situ ada semacam konflik kecil dengan santri yang lain.

Begitu pula saat ada masalah yang berkaitan dengan mading. Dia dilaporkan oleh santri lain. Alhasil, dia mendapatkan nasihat dari ustadzah. Nasihat tersebut berujung kepada air mata.

Pada malam harinya, dia merenung tentang nasihat karena kesalahannya tadi. Dia merasa berterima kasih kepada mereka yang selalu mengingatkan dan menasihati. Baik itu temannya sesama santri maupun ustadzah atau pembinanya. Hingga ditutup dengan kalimat “terima kasih selalu ada.”

Siapakah santri yang satu ini? Siapakah santri yang beruntung mendapatkan hadiah hiburan untuk juara Harapan 3 ini? Ya, jawabannya adalah: Dwi Aprilia, kelas XII SMA. Selamat untuk Dwi Aprilia.

Ini adalah foto dari karyanya:

Sampai di sini, saya rangkum kembali untuk nama para pemenangnya:

Juara 1: Ildiansyah, kelas XI.
Juara 2: Nurfaidah, kelas XI.
Juara 3: Abyan Annasa, kelas IX.

Juara harapan 1: Nur Asyima, kelas XII.
Juara harapan 2: Gandis Asyafitri Indri, kelas XII.
Juara harapan 3: Dwi Aprilia, kelas XII.

Untuk penyerahan hadiah dan sertifikat, Insya Allah akan dihubungi lebih lanjut masing-masing santri.

Kesimpulan

Alhamdulillah, akhirnya perlombaan selesai dengan hasil-hasilnya seperti tersebut di atas. Lomba ini baru diadakan pertama kalinya di pondok pesantren Al-Wahdah Bombana. Selamat bagi yang menang dan jangan berkecil hati bagi yang belum lolos.

Keputusan saya sebagai juri dalam memilih para pemenang sudah dituangkan dalam tulisan ini. Jadi, harap maklum jika keputusan saya ini mungkin ada pihak yang masih belum puas. Memang, tidak bisa memuaskan semua pihak, karena memang ada keterbatasan dalam kuota jumlah pemenang.

Karya-karya mereka memang masih bisa disempurnakan lagi, termasuk dalam penggunaan kata dan kalimat yang masih belum sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, pada beberapa bagian. Namun, saya lebih melihat isi dari tulisan itu. Esensi dari setiap karya. Apalagi makna positif yang bisa diambil. Sepertinya itu lebih penting daripada sekadar kata yang salah tulis maupun tidak.

Saya mengucapkan jazakumullah khairon katsira kepada para santri yang sudah mengikuti lomba ini. Meskipun belum juara, tetapi mudah-mudahan mendapatkan pengalaman yang tidak didapatkan santri lain yang tidak ikut lomba. Mudah-mudahan di masa yang akan datang, lomba ini bisa diadakan lagi. Berharap juga hadiahnya lebih besar dan banyak lagi. Sip!

Mohon maaf apabila ada kata atau kalimat yang salah maupun menyinggung. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu mengampuni kita. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here