Minta Izin

0
246
minta-izin-cover

Salah satu pelanggaran yang cukup serius dalam dunia pendidikan kita adalah ke luar tanpa minta izin. Kalau dalam sekolah umum, itu namanya membolos.

Penyakit membolos memang bisa menghinggapi semua murid, entah itu laki-laki maupun perempuan. Aneka alasan bisa dikemukakan oleh mereka yang pergi tanpa minta izin itu. Mungkin sekadar jalan-jalan menikmati udara segar, membeli sesuatu, atau ketemu dengan lawan jenis.

Apalagi jika ada tekanan yang berlebihan di sekolah tersebut. Anak-anak merasa tertekan karena terlalu banyak tekanan. Otomatis, jiwa muda mereka memberontak. Dan, membolos alias tanpa minta izin pun dilakukan. Mungkin awalnya sekadar coba-coba, ikut-ikutan teman, eh, pada akhirnya jadi ketagihan.

Murid yang awalnya baik, bisa tertular jelek jika akrab bergaul dengan teman-teman yang jelek pula. Terpengaruh sedikit demi sedikit. Dari yang awalnya putih, menjadi diwarnai, akhirnya jadi biru, merah, hitam, hijau, campur-campur pokoknya.

Ketika pergi tanpa minta izin itu dibiarkan, maka akibatnya akan lebih buruk. Oleh karena itu, perlu pendekatan yang lebih manusiawi. Dan, setiap yang melakukannya, pastilah ada alasannya. Pastilah ada hal yang mendorongnya. Mereka perlu diajak bicara empat mata, dari hati ke hati. Mungkin mereka akan mengungkapkan alasannya dengan lebih tulus.

Baca Juga: Kisah Gadis dan Seorang Preman

Bisa jadi ada masalah dengan keluarganya. Atau anak tersebut berada dalam keluarga yang broken home, sekaligus broken heart. Ketika di rumah, dia ditekan terus oleh orang tuanya. Ketika diberikan motivasi, ingatlah orang tua dalam membiayai pendidikan, Nak, mereka bisa antipati. Lha, orang tuanya saja bermasalah kok, masa diingat-ingat? Begitu dalam persepsi mereka.

Nah, saat di sekolah, dia melampiaskan tekanan kepada teman-temannya. Bahkan, mengancam dengan kekerasan, kadang kala.

Semua itu bagian dari dinamika pendidikan di negeri kita. Wajar, terjadi hal seperti itu, karena yang dihadapi adalah makhluk hidup. Mereka punya perasaan, punya pikiran. Pintar-pintarnyalah seorang guru untuk menghadapi anak yang ke luar tanpa minta izin tersebut.

Pintarnya itu mesti dalam tiga bentuk. Sebagaimana dikatakan oleh teman dekat saya. Seorang guru itu mesti berada dalam tiga kondisi, saat dia menjadi sahabat murid, menjadi orang tua, dan menjadi guru itu sendiri. Apalagi anak yang tumbuh remaja, pastilah butuh adaptasi. Dari yang awalnya anak-anak manja, mulai dilatih dan ditempa untuk berubah menjadi orang dewasa.

Seringkali hal tersebut tidak mulus dijalani oleh seseorang. Kedewasaan seseorang belum tentu dilihat dari usianya. Ada anak kecil yang berpikiran dewasa, ada juga orang dewasa yang berpikiran seperti anak kecil.

Bagian dari Adab

Saat ta’lim, bisa kita saksikan ada peserta yang tiba-tiba berdiri sambil mengacungkan tangan. Itu bukan berarti dia mau bertanya lho! Dia minta izin kepada sang pembicara atau narasumber atau ustadz yang sedang menyampaikan materinya. Tidak perlu dia mengatakan, “Afwan, Ustadz, mau pipis dulu.” Selain tidak sopan dari segi bahasanya, juga terdengar mengganggu bukan?

Meminta izin adalah bagian dari adab kita sebagai seorang muslim. Kita menghargai orang yang sedang berbicara di depan. Mengatakan, “afwan” atau “maaf” atau “tabe” bisa juga sebagai ungkapan untuk minta izin. Kalau yang terakhir ini lebih pas minta izin lewat. Saya pernah menyaksikan seorang anak perempuan yang lewat membungkuk sambil menurunkan kedua tangan saking sopannya.

Ketika ada orang minta izin, masa yang dimintai izin tidak memberikan? Yang penting sesuai dengan aturan yang berlaku saja. Dalam sebuah pelajaran misalnya, seorang murid minta izin untuk ke belakang, artinya ke WC. Mungkin bersama dengan satu orang temannya, ini biasanya murid perempuan. Akan menjadi masalah, kalau satu kelas minta izin ke belakang. Gurunya jadi sendirian kalau begitu.

Minta izin juga menjadi adab yang bagus dalam urusan rumah tangga. Contohnya, seorang istri meminta izin untuk pergi berbelanja. Atau ke rumah temannya. Atau ke rumah orang tuanya. Atau ke keluarganya. Atau ke tempat lain, asalkan masih aman dan tidak terhitung safar.

Suami yang baik akan mengizinkan. Mungkin ada pesan dari suaminya, “Jangan lupa menjemur!” Atau bisa juga, “Jangan lupa masak untuk nanti siang!” Dan lain sebagainya. Tiap rumah tangga, memang beda kalimatnya.

Mungkin kita masih ingat sebuah petunjuk dalam agama ini, terkait izin dari suami kepada istri? Kalau belum, ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Tidak halal bagi wanita untuk puasa sunah, sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izin suaminya. Dan istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari 4899 & Muslim 1026).

Berarti, segala sesuatu yang menyangkut istrinya menjadi kewenangan suami, termasuk orang yang akan bertemu. Ya ‘kan? Begitu bukan?

Dalam Bentuk Digital

Suami adalah milik istri, begitu juga istri adalah milik suami. Oleh karena kepemilikan itulah, seseorang asing yang masuk bisa menjadi masalah jika tidak ditanggapi dengan baik. Dari kaidah meminta izin ini, bisa berkembang menjadi konflik rumah tangga. Apakah itu? Jawabannya adalah rasa curiga dari suami kepada istri, begitu juga sebaliknya.

Apa contohnya? Misalnya, seorang istri yang mengecek-ngecek HP suami. Melihat semua akun medsosnya. Istri seakan-akan merasa bahwa siapapun yang masuk di HP suaminya, mesti minta izin kepadanya. Ada teman perempuannya yang berkomunikasi melalui chat, langsung bertanya, “Ini siapa? Kerja di mana? Urusannya apa sama kamu? Kamu sudah lama kenal sama dia?”

Padahal, mungkin saja teman perempuan itu memang ada urusan kerja atau bisnis, tidak akan sampai terlalu jauh kok. Namun, si istri sudah berburuk sangka terlebih dulu.

Lebih jauh, Ustadz Syafiq Reza Basalamah pernah mengatakan, “Kalau suami pulang, jangan ditanya darimana, tetapi tanya, sekarang mau apa?” Dengan pertanyaan seperti itu, maka batin suami akan lebih senang. Sementara kalau ditanya “darimana”, kesannya ada curiga, seperti itu.

Lebih dalam Lagi

Kalau bicara tentang kehidupan suami istri memang seakan tidak ada habisnya. Namun, bagaimana dengan yang belum menikah? Yang sedang menanti jodohnya, meskipun belum datang-datang juga? Apakah masih ada kaitannya dengan minta izin ini?

Ternyata, masih ada kaitannya. Ini berkaitan dengan perasaan. Kita tahu, bahwa kita menghadapi hal internal dan eksternal. Kondisi eksternal seperti cuaca, penilaian orang, kondisi politik, sosial, dan lain sebagainya. Sedangkan kondisi internal, erat kaitannya dengan hati dan perasaan. Itu bisa kita kendalikan. Bisa kita atur.

Kalau ada orang marah, sederhananya, dia mengizinkan rasa marah itu menguasai dirinya. Mungkin dia beralasan, “Kamu telah membuatku marah!” Orang lain yang disalahkan. Orang lain yang dijadikan kambing hitam, meskipun dia memang beternak kambing putih.

Lho, faktor penyebab marah itu memang banyak. Tapi, semua itu tidak akan menjadi bentuk kemarahan yang nyata kalau kita menolak untuk marah. Ya ‘kan?

Begitu juga dengan perasaan sedih. Tidak akan hati dan perasaan kita jadi sedih, kalau kita tidak izinkan faktor penyebab sedih masuk ke tubuh kita. Begitu sederhananya.

Rasa marah yang meluap-luap memang panas. Ustadz Jusliadi, pembina baru Ponpes Al-Wahdah Bombana, pernah mengatakan dalam khutbah Jum’atnya, jadilah pribadi yang seperti termos. Jika termos itu kita pegang di luarnya, tidak akan terasa panas. Padahal sebelumnya diisi air mendidih. Begitulah gambaran seorang muslim. Dia memilih untuk stay cool, Men, meskipun marah luar biasa. Dia tidak mengizinkan marah menjadikannya pribadi yang berbahaya.

Lalu, bagaimana jika terlanjur masuk dan merasuk? Contohnya adalah perasaan iri dan hasad terhadap saudara kita sesama muslim. Bagaimana jika terlanjur kita izinkan untuk berkelana dan menduduki hati plus perasaan kita? Solusi yang mungkin pas dengan kita adalah meniru seorang sahabat yang dijamin masuk surga sebanyak tiga kali oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sahabat tersebut tidak tampak melakukan ibadah yang istimewa. Tidak tampak ada banyak ibadah fisik yang dilakukannya. Namun, rupanya, beliau memiliki amalan hati yang luar biasa. “Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa. Hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.”

Apakah kita bisa menirunya? Apakah kita bisa melakukan, seperti yang dilakukan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut? Mari kembalikan ke diri sendiri, karena kitalah yang bisa menjawabnya, tentu dengan taufik dan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga bermanfaat. Waallahu ‘alam bisshawab.

Baca Juga: Menjadi Muslimah yang Bersemangat Menuntut Ilmu

Referensi:

1. Konsultasisyariah.com

2. Islami.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here