Mengapa sih Harus Islam Terus yang Dijadikan Candaan?

0
267

Sepertinya, media sosial memang selalu menampilkan fenomena yang miris dan mengelus dada. Apalagi kalau ada kaitannya dengan candaan yang sama sekali tidak bermutu. Lebih tidak bermutu lagi jika yang dijadikan bahan candaan adalah agama Islam yang mulia ini.

Dua Arti

Ada sebuah postingan di salah satu media sosial terkemuka. Orang yang menjadi obyek dalam postingan ini adalah pemain bola dari Mesir yang sekarang merumput di klub Liga Inggris, Liverpool. Dia adalah Mohamed Salah Ghaly.

Nama yang terdiri dari tiga kata tersebut, pastilah kita paham ada salah satunya termasuk dalam Bahasa Indonesia. Salah satu dari tiga kata itu adalah Salah. Kata yang satu ini sering sekali dijadikan candaan bagi warganet.

Contohnya, terpajang foto pemain bola muslim tersebut dan diberikan pertanyaan, siapa namanya? Jawaban pastinya adalah Salah semua. Sekilas memang benar sih jawabannya. Lha wong namanya memang itu.

Baca Juga: Hukum Wanita Pergi Belajar ke Luar Negeri Tanpa Mahrom

Namun, yang menjadi persoalan, ketika menyerempet ke agama Mohamed Salah. Ya, sama dengan diri kita, Islam. Ada foto editan ditampilkan di internet dengan tulisan: Islam adalah agama Salah. Kira-kira seperti itu. Subhanallah.

Membaca kalimat tersebut, bagi yang mempunyai kadar iman, rasanya kok mendidih ya? Bikin emosi. Membuat marah luar biasa. Memang, kalimat tersebut penempatannya pas, karena agama Mohamed Salah ini memang Islam. Akan tetapi, pemenggalannya itu lho! Seakan-akan agama Islam ini memang salah. Bukankah kita seharusnya marah jika agama kita dihina seperti itu?

Mengapa harus membuat kalimat seperti itu? Bukankah dia punya nama lengkap? Mengapa yang diposting atau dipasang hanya nama “Salah”? Akan lebih bagus jika ditulis lengkap, atau minimal Mohamed Salah. Terlihat ada faktor kesengajaan dari si pembuatnya.

Demi Konten

Konten adalah napas bagi para pengguna media sosial. Aneka konten bisa kita buat setiap hari, setiap saat, dan tentunya setiap ada kuota internet. Tentu juga butuh peralatan, minimal HP. Bisa juga ditambahkan kamera digital, plus dengan tripodnya.

Sifat media sosial yang gratis mendorong orang berlomba-lomba untuk membuat konten. Biasanya, konten terbagi menjadi tiga: kata-kata saja, gambar maupun video. Mengenai isi, disesuaikan dengan kondisi batin para pembuatnya.

Ada seorang penulis muda mengatakan kira-kira begini: Anda bisa mengenali orang lain cukup melihat pada status-statusnya di media sosial. Orang yang hobi bercanda, mungkin saja isi statusnya adalah humor-humor receh yang tidak jelas. Mungkin itu lucu, tetapi bagi dia sendiri. Orang yang hobi dengan sepakbola, kecenderungannya tentu berita-berita terbaru seputar pemain maupun klub, juga pertandingannya.

Orang yang pikirnya adalah dakwah berusaha untuk memposting konten-konten agama Islam. Misalnya, mengutip ayat Al-Qur’an, hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, perkataan para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, sampai kepada para ulama. Bisa juga dilengkapi dengan gambar, asalkan gambar-gambar tersebut sebisa mungkin dihindari makhluk yang bernyawa.

Konten secara umum itu boleh-boleh saja. Akan tetapi, ada perang pemikiran di situ. Perang antara baik dan buruk juga terjadi di dunia media sosial. Dunia maya. Dan, kalaupun ada dunia lain, di luar dunia nyata dan dunia maya, maka selalu ada pertarungan antara haq dan batil.

Perang pemikiran dalam konten-konten tersebut siapa yang akan menang? Ini tergantung kepada si penerima konten. Para pembuat menyebarkan kontennya melalui jaringan yang ada, tetapi kita sebagai penerima, reaksinya bagaimana? Apakah akan langsung menerima? Langsung ditelan? Atau dipikirkan terlebih dulu? Direnungkan sebentar? Atau yang mana?

Dari kenyataan tersebut, memang pantas kiranya apabila hidup in diibaratkan seperti pelajaran anak TK. Kalau kita tidak mewarnai, maka kita yang akan diwarnai. Lebih menjurus lagi, kalau bukan kita yang mempengaruhi, maka kita yang akan dipengaruhi.

Konten-konten negatif semacam: humor tidak jelas, kekerasan, pornografi, bahkan pembohongan, seperti konten prank itu, bisa lebih menarik minat para warganet untuk mengonsumsi. Apalagi dianggap sebagai hiburan semata. Seperti konten dengan gambar-gambar avatar yang lalu, ada lho yang berpendapat, “Ini kan hanya hiburan, daripada kita ngomongin orang. Hayo pilih mana?” Subhanallah.

Perbandingan untuk konten positif dan negatif, kecenderungan lebih diminati yang negatif. Coba dibandingkan dengan jumlah penonton video misalnya. Untuk video ceramah para ustadz, saya yakin jumlah penontonnya tidaklah sebanyak video musik, maupun maksiat lainnya.

Beranjak dari situ, maka untuk membuat konten memang tidak mudah. Para pembuat atau diistilahkan dengan kreatornya akan berusaha agar konten itu bisa dilahap banyak orang dan disebarkan seluas-luasnya. Bukankah di setiap media sosial ada tombol “share”? Itulah yang mereka harapkan. Mungkin ada semacam kebanggaan jika konten mereka sampai viral dan tersebar di seluruh pengguna media sosial.

Kecenderungannya, konten yang akan lebih cepat diterima adalah yang tidak serius-serius amat. Dibaca atau ditonton dengan santai, lalu mampu membuat tertawa si penonton konten tersebut. Nah, pertanyaannya sekarang? Mengapa harus ada sangkut-pautnya dengan agama Islam? Itu yang jadi kegelisahan kita sebagai bagian dari umat Islam.

Paling Terlihat di Sini

Momen yang sangat terlihat adanya konten dengan pelecehan agama Islam tanpa sadar adalah ketika mendekati Idul Adha. Kita tahu, pada hari raya tersebut ada satu ibadah yang sangat agung dan berpahala besar, yaitu: berqurban.

Cukup banyak gambar yang sepintas bisa dianggap melecehkan ibadah tersebut. Misalnya: gambar kambing yang berubah menjadi macan agar selamat dari penyembelihan. Atau gambar kambing yang diposting kurus sekali, juga agar bisa terhindar dari penyembelihan dengan keterangan tulisan yang ada di dalamnya. Aneka rupa gambar konten yang menjadikan ibadah qurban sebagai candaan.

Sering yang muncul adalah bukan qurban sapi maupun kambing, melainkan qurban perasaan. Ini dikaitkan lagi dengan orang yang belum menikah alias jomblo tulen. Sudah jomblo, ditambah tulen lagi. Jadi lengkap deh.

Baca Juga: Pemberian yang Tak Lekang Oleh Zaman

Padahal, qurban, maksudnya diganti dengan kata bahasa Indonesianya, kurban perasaan, pantas muncul. Mengapa waktu yang barokah seperti itu tidak dimanfaatkan untuk ikut berqurban? Sebenarnya mampu untuk patungan sapi, tetapi alasannya uang tidak ada. Sementara untuk beli HP baru bisa. Tas dengan merek terkenal juga mampu. Sepatu dengan harga yang mahal terbeli juga. Jadi, di manakah perasaannya? Mengapa perasaan untuk bisa mendapatkan pahala besar justru itu yang dikorbankan?

Bisa jadi, yang menyebarkan gambar-gambar konten candaan berqurban itu sejatinya memang tidak berqurban, atau mungkin belum pernah sama sekali beribadah tersebut. Wah, bisanya hanya membuat postingan yang tidak hanya mengundang murka umat Islam, tetapi yang lebih mengerikan lagi adalah murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala!

Harus Waspada

Hal yang harus diingat oleh para kreator konten adalah agama Islam tidak akan pernah berkurang kemuliaannya karena diserang oleh konten-konten tidak bermutu semacam itu. Justru cahaya Islam akan makin tampak ketika dilecehkan maupun dihina. Orang di luar Islam akan terdorong untuk mempelajari Islam ketika serangan terhadap Islam sangat masif.

Mungkin yang masih terngiang dalam ingatan kita adalah kasus pelecehan Al-Maidah ayat 51. Kita bisa melihat bahwa umat Islam bergerak sampai turun ke jalan untuk menuntut keadilan terhadap si pelakunya. Aksi tersebut diikuti oleh sangat banyak muslimin. Jumlahnya sampai jutaan.

Meskipun sangat banyak kaum muslimin yang hadir, tetapi tertibnya luar biasa. Datang dalam keadaan bersih, pulang pun demikian. Sumbangan makanan dan minuman dari para donatur deras mengalir. Persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah tampak dengan sangat jelas. Tidak sampai terjadi kerusuhan yang biasanya terjadi pada demo-demo lainnya.

Itu adalah bukti bahwa sebenarnya agama Islam ini memang sangatlah indah. Ajaran yang sangat lengkap mengatur semua segi kehidupan manusia. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan tidur itu sendiri, ada aturannya dalam Islam. Tentunya bangga dong kita memeluk agama ini!

Sedangkan untuk para pembuat konten yang menjelekkan Islam, maka harus sangat diingat perkataan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” [At Taubah: 65-66]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa hukumnya sangat berat yaitu: bisa ke luar dari agama Islam. Beliau berkata,

‏ فإن الاستهزاء باللّه وآياته ورسوله كفر مخرج عن الدين لأن أصل الدين مبني على تعظيم اللّه، وتعظيم دينه ورسله

“Mengolok-olok dalam agama, ayat Al-Quran dan Rasul-Nya termasuk kekafiran yang bisa mengeluarkan dari Islam, karena agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah, agama dan Rasul-Nya.”[Tafsir As-Sa’diy]

Seorang muslim, meskipun dosanya sangat banyak, maka Insya Allah suatu saat nanti akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke surga. Akan tetapi, orang yang sudah dinyatakan Allah ke luar dari Islam, maka tidak ada harapan lagi. Selama-lamanya akan berada di neraka Jahannam. Naudzubillah min dzalik.

Jika seandainya kita menemukan ada postingan semacam itu lagi, maka kita bisa melaporkan melalui fitur di media sosial tersebut. Doakan yang membuat itu agar mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nasihati dengan baik, tidak perlu sampai mencelanya, apalagi dengan kalimat yang menyinggung hatinya. Kalau hal itu dilakukan, lalu apa bedanya kita dengan dia?

Islam adalah agama yang damai. Namun, melihat judul di atas, mengapa Islam terus yang kena serangan pelecehan? Tentunya jangan langsung menyasar agama lain juga. Akibatnya juga bisa parah, hubungan antarmanusia akan menemukan ketidakrukunannya.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu melindungi diri kita untuk tidak membuat maupun menyebarkan konten-konten yang menghina atau melecehkan agama Islam ini.

Baca Juga: Hukum Memakan Hasil Penjualan Rokok Dalam Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here