Menangis, Membayangkan

0
308
menangis-membayangkan-cover

Selama ini, persepsi di masyarakat, laki-laki menangis itu dirasa kurang cocok dan pas. Kesannya cengeng, lebay, melankolis, dan mirip dengan perempuan. Betulkah?

Kita mulai saja dari masa kanak-kanak. Beda memang antara anak laki-laki dan anak perempuan, terutama ketika mereka jatuh misalnya. Berlarian di tanah atau di dalam rumah, kaki mereka menghantam kaki meja, jatuh, menangis. Biasanya, orang tua akan mengatakan jika anak perempuan, “Cup, cup, kenapa menangis, Nak? Oh, sakit ya? Sini peluk Bunda.”

Sedangkan bila anak laki-laki, “Oalah, cuma begitu aja kamu nangis! Cengeng banget sih?! Anak laki-laki itu nggak boleh nangis. Anak laki-laki itu harus kuat. Katanya mau jadi anak kuat?! Ayo, berhenti nangisnya!”

Ketika anjuran dari orang tua itu tidak dituruti oleh si anak laki-laki, bisa jadi nada orang tua akan meninggi. Maksudnya, tentu bukan berarti orang tuanya naik ke lantai dua, lalu bikin nada baru. Dia tetap di tempatnya, tetapi berseru seperti ini, “Diam! Kamu bisa diam nggak?! Sudah dibilang tadi anak laki-laki nggak boleh nangis! Jangan jadi anak cengeng! Papa malu punya anak laki-laki cengeng begini. Kayak anak perempuan saja!”

Anak laki-laki tersebut memang langsung diam. Dia masih menangis sesenggukan, tetapi terpaksa, lebih tepatnya sangat terpaksa untuk berhenti menangis. Dia tadi ingin meluapkan tangisannya sepuas mungkin, ingin mengalirkan air mata sebanyak-banyaknya, tetapi semuanya dihantam oleh omelan orang tua. Betapa menderitanya anak tersebut. Perasaannya tidak bisa ditumpahkan.

Baca Juga: Pemberian yang Tak Lekang oleh Zaman

Hal yang lebih aneh lagi saat ada anak laki-laki menangis. Orang tua yang terlalu “kreatif” mengambil langkah yang kontroversial dan sangat bertolak belakang. Contohnya begini, “Bisa diam nggak kamu? Ayo, diam nggak kamu! Mama sudah jengkel dengar tangisanmu dari tadi!”

Ibunya mengatakan seperti itu, memarahi seperti itu, tetapi sambil mencubit paha kiri anak laki-lakinya. Coba, kita bayangkan, dicubit jelas sakit. Apalagi cubitan si mama diputar layaknya rotasi bumi, tentu akan tambah sakit bagi si anak. Namun, lucunya, anak malah disuruh diam. Bisa Anda bayangkan korelasinya? Anak ingin menangis lebih kencang karena rasa sakit yang lebih besar, tetapi di satu sisi dia disuruh diam. Memang kita harus geleng-geleng kepala kalau ada orang tua seperti itu. Tidak masuk akal.

Setiap Orang Pastilah Punya Kelenjar Air Mata

menangis-membayangkan-1

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menciptakan kelenjar air mata untuk setiap laki-laki maupun perempuan. Fungsinya sama, yaitu: mengeluarkan air mata. Oleh karena itu, bayi yang lahir ke dunia ini dikatakan sehat dan normal apabila dia menangis setelah dilahirkan. Kalau tertawa, itu jelas tidak normal dan akan aneh kelihatannya.

Kalau dari bayi saja, laki-laki dan perempuan sudah ada kelenjar air matanya, lalu mengapa berbeda perlakuan ketika dewasa? Perempuan diperbolehkan untuk menangis, sementara laki-laki tidak? Kaum laki-laki harus terlihat tegar dan kokoh laksana tembok China itu, bahkan tembok Yajuj dan Majuj. Laki-laki yang menangis dikatakan bukan laki-laki. Seperti itu?

Padahal, bila kita membaca sejarah, orang-orang sholeh menangis juga. Teringat akan kurangnya amal mereka dan merasa punya dosa yang banyak. Mereka takut kepada Allah hingga menetes air mata. Bahkan, salah satu golongan orang yang dinaungi Allah di padang Mahsyar adalah orang yang bersendirian, berduaan dengan Allah, lalu dia menangis. Bukankah itu salah satu amalan hati yang sangat indah?

Laki-laki yang menangis tentu wajar-wajar saja. Asal tidak terlihat lebay saja. Misalnya sampai melompat-lompat, merobek-robek baju, memukul-mukul tiang listrik. Selain tidak ada gunanya, tangannya juga sakit. Apalagi gara-gara memukul tiang listrik, bikin listrik padam satu kampung, itu lebih repot lagi.

Jika ingin menangis, maka menangislah. Bukankah laki-laki juga memiliki hati dan perasaan? Memangnya kedua hal tersebut hanya dimiliki oleh perempuan? Apakah laki-laki bisa punya hati yang lebih lembut daripada perempuan? Oh, bisa sekali. Betapa banyak laki-laki yang lembut ketika berbicara, sementara istrinya punya kata-kata yang kasar, keras, bahkan kotor. Saat memarahi anak, ibunya luar biasa serbuan makian laksana senapan mesin, sedangkan bapaknya dengan kalimat yang halus dan tidak menyakiti.

Dalam sebuah kajian online, seorang pakar parenting menyebutkan bahwa setiap perempuan itu berbicara dalam 8.000 kata perhari, sedangkan laki-laki kira-kira 2.000 kata saja. Jadi, ada yang mengatakan bahwa saat istri kita sedang cerewet di rumah, bersabarlah, karena dia sedang mengejar setoran ataupun target 8.000 tadi. Kira-kira seperti itu.

Baca Juga: Bersama Teman Sampai ke Ujung, Apakah Beruntung?

Lalu, apa sih yang semestinya ditangisi oleh para laki-laki? Apakah menangis karena ditinggal menikah perempuan yang pernah disukainya? Waduh, kalau yang ini sih perlu segera kembali ke jalan mulus yang benar, sebab perempuan tidak cuma satu! Insya Allah masih ada perempuan yang lebih baik daripada perempuan penyebab galau laki-laki itu tadi. Itupun jika si perempuan yang lebih baik mau dengan laki-laki tersebut. Benar ‘kan?

Kembali ke pertanyaan tadi, apa yang mesti ditangisi oleh laki-laki? Ini diambil lebih khusus kepada mereka yang sudah menikah. Mau istrinya satu, dua, tiga atau empat, sama saja. Maksudnya, sama-sama menikah juga.

Visi dan Misi

menangis-membayangkan-2

Mengacu kepada visi dan misi, tentunya kita ingat dengan Pemilu, maupun pemilihan kepala dan wakil kepala daerah. Ternyata, visi dan misi tersebut sebenarnya tidak cuma untuk tahapan pemilihan maupun “jualan” ke calon pemilih, tetapi memang perlu dimiliki oleh setiap orang.

Bagaimana dengan visi dan misi laki-laki yang sudah menikah? Visi tersebut ada di bawah ini, tepatnya pada Surah At-Tahrim ayat 6:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dari bagian awal ayat yang mulia tersebut, disebutkan untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Nah, ini termasuk tugas yang sangat berat dan mesti ditanggung oleh laki-laki yang sudah menikah. Bukankah laki-laki yang sudah menikah adalah sosok suami dan ayah yang menjadi kepala keluarga? Dia memimpin diri sendiri, istri dan anak-anak untuk bisa meraih surga dan menjauhkan diri dari neraka.

Tugas ini sedemikian berat karena tidak hanya dilakukan di dunia, tetapi juga berefek nanti di akhirat. Kalau cuma menafkahi atau memberi makan anak dan istri, itu masih lebih ringan. Terutama jika suami memang punya penghasilan rutin atau rutin berpenghasilan. Memberi pakaian dan tempat tinggal yang layak juga masih bisa diusahakan. Tidak perlu tinggal di apartemen mewah, cukup di tempat tinggal yang apa adanya. Ketika butuh apa-apa, ada semua.

Tugas suami dan ayah yang sangat berat itu memang tidak boleh diremehkan. Sebab, nanti para suami dan ayah akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah tentang keluarga yang dipimpinnya.

Menjadi miris dirasakan jika tugas ayah yang luar biasa besar itu tidak dijalankan dengan maksimal. Contohnya: masih banyak ayah yang lebih tertarik main game online. Atau menjadi perokok aktif. Atau keluyuran tidak jelas, dengan teman-temannya. Atau nonton pertandingan sepakbola atau main futsal yang terlalu menyita waktu. Bukannya main futsal itu tidak boleh, tetapi jangan sampai terlalu disibukkan dengan kegiatan yang demikian.

Baca Juga: Menghindari Taqlid Buta dan Tuli Sekalian

Bahkan, yang lebih parah, masih banyak pula ayah yang tidak sholat. Jika tidak sholat berjamaah di masjid, tetapi masih sholat di rumah mungkin masih agak mending, lha ini tidak sholat sama sekali! Jika membahas pekerjaan di kantor, dia paling rajin. Sementara untuk urusan sholat, eh, dia justru paling malas.

Pada akhirnya, anak-anaknya mencontoh. Mungkin anak-anaknya ikutan merokok. Ketika ditanya, “Kenapa merokok?” Dia simpel menjawab, “Bapakku juga perokok kok! Kalau untuk bapakku boleh, kenapa aku tidak?”

Perilaku orang tuanya yang negatif malah dicontoh mentah-mentah oleh si anak. Sebab, anak memang melihat langsung. Live ceritanya. Dan, itu yang mereka amati tiap hari, tiap saat. Bagaimana tidak mencontoh?

Namun, Alhamdulillah, pada sisi yang lain, ada para ayah yang istiqomah beribadah, seperti sholat berjamaah di masjid. Sholat lima waktu bersama imam di masjid-masjid terdekat. Karakter ayah yang seperti itu akan membekas juga ke diri anak-anak. Saat tiba waktu sholat, anak-anak akan mengingatkan orang tuanya untuk sholat.

Hal itu sudah terjadi. Seperti seorang santri yang rajin mengaji dan sholat. Ya, namanya juga santri. Akan tetapi, keberkahan yang dirasakan oleh santri tersebut, oleh anak tersebut, menular kepada bapaknya. Dahulu, bapaknya jarang ke masjid, tetapi semenjak anaknya masuk pesantren, bapaknya pun ikut rajin. Alhamdulillah.

Tangisan Tanda Kasih Sayang

Seorang ayah yang menangis karena teringat dengan istri dan anak-anak memang menjadi sebuah simbol kasih sayang. Cinta yang mengalun dengan syahdu. Wuih, bahasanya!

Tangisan tersebut juga menjadi wujud untuk hal yang seharusnya tidak terjadi, yaitu: saat sekeluarga itu dimasukkan ke dalam neraka. Mengerikan memang membayangkan ketika keluarga tersebut sampai terjerumus dan terperosok ke neraka Jahannam. Tangisan kasih sayang seorang ayah berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri, anak dan istrinya dari amukan api neraka.

Selain itu, para ayah bisa menangis karena selalu ingat dengan tanggung jawabnya di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Poin per poin akan ditanya oleh Rabb semesta alam dan tidak akan luput satupun. Tidak ada lewat sedikitpun.

Menangis membayangkan, jangan sampai sekeluarga menjadi penghuni neraka. Ditambah dengan tangisan memohon kepada Allah agar sekeluarga tersebut bisa berkumpul kembali di surga, semoga sampai juga di surga Firdaus. Surga yang tertinggi. Sebab, surga adalah sebaik-baiknya tempat tinggal dan tempat kembali.

Bayangkan betapa menyenangkannya apabila ayah, ibu, anak-anak dan keluarga lain semua bisa masuk surga. Merasakan kehangatan dan kelezatan berkumpul saat di dunia dulu, dan diganti dengan yang jauh lebih baik di surga Allah.

Semoga kita bisa menjadi ayah-ayah yang baik untuk keluarga. Menjadi pemimpin dan penolong serta pengajak anggota keluarga lain untuk masuk surga dan menghindari api neraka. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Baca Juga: Seperti Membuat Meja

Referensi: Tafsir Web

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here