Memasuki Malam ke-21, Silaturahim Tetaplah Nomor 1

0
210

Dalam sebuah postingan di Whatsapp, tampak kendaraan yang melaju menembus kegelapan malam. Bahagia sekali rasanya karena bisa pulang kampung. Sambil memasang emoticon tertawa malu-malu. Ada apa ini?

Mau ke manapun kita pergi, selalu ada kerinduan untuk pulang. Sebab, di sanalah kita lahir, besar, hingga menjadi dewasa seperti sekarang ini. Pulang ke rumah kita sendiri, rumah orang tua, rumah tempat kita menghabiskan masa kecil, masa remaja, kerinduan itupun muncul, meski kita jauh dari tempat tersebut.

Apalagi ditambah dengan berbagai beban yang terus mengelus dengan cukup berat. Belum selesai satu, sudah datang yang satu lagi. Sementara semuanya mesti selesai, semuanya mesti rampung. Tenggang waktu dan deadline pun makin mengejar. Semakin kerinduan kita terhadap kampung halaman, untuk melepaskan beban di sana, menyaksikan senyum orang tua kembali, yang masih ada tentunya.

Kini, kesempatan itu terbuka juga. Pada hari ke-20 bulan suci Ramadhan, yang tentu akan disambut dengan malam ke-21, terjalinnya silaturahim meskipun bukan hubungan karena darah, atau hubungan karena pernikahan. Silaturahim itu muncul karena kebersamaan, rasa ukhuwah yang erat, dan punya visi serta misi sama untuk pendidikan yang lebih baik, terutama pendidikan agama Islam.

Gedung yang biasanya dipakai untuk kelas, disulap sementara menjadi tempat kegiatan tersebut. Cukup mewadahi untuk menghadirkan banyak orang, tentu dengan pemisahan antara laki-laki dan perempuan.

Pada sore ini, Ahad (02/05), dilangsungkan silaturahim antara civitas Pondok Pesantren Al-Wahdah Bombana dengan orang tua santri. Civitas yang terdiri dari para ustadz, ustadzah, pembina, dan guru lainnya menjalin pertemuan yang langsung dengan para orang tua santri ikhwan maupun akhwat. Seperti apa hasil pertemuannya?

Penjelasan dari Pimpinan Pondok

Acara ini digawangi oleh MC dari santri ikhwan, Uqbah, kelas XI SMA. Membuka dengan cukup lancar, mempersilakan Ustadz Aidil Musakar, SH yang menjabat sebagai pimpinan pondok.

Ustadz Aidil mengutarakan dalil tentang silaturahim sebagai bagian dan dasar juga bagi kegiatan tersebut. Beliau menjelaskan pula tentang pola pendidikan santri, “Di pondok, santri tidak bisa langsung hebat, berprestasi, tampil di depan umum. Tidak bisa anaknya 100 % diserahkan ke pesantren, padahal tidak begitu. Tetap harus ada kerjasama antara pembina dan orang tua.”

Beliau mematahkan persepsi bahwa orang tua menyerahkan sepenuhnya santri ke dalam pondok pesantren. Tinggal membayar sesuai kewajiban, dan nantinya menerima hasil anaknya sudah bagus luar biasa. Tentunya ini tidak mudah, menurut Ustadz Aidil.

“Tapi, kami juga menerima apresiasi dari orang tua. Contohnya lewat setoran satu juz sekali duduk. Ternyata, hal itu bisa memancing motivasi dari anggota keluarga santri yang lain untuk masuk pesantren juga.” Tambah dai lulusan STIBA Makassar ini.

Memang, pada tahap pertama, ditampilkan siaran live santri yang menyetorkan hafalan sekali duduk. Kali pertama dengan 15 juz. Ternyata, dari respons lewat fanpage Wahdah TV Bombana, justru menjadi video yang viral.

Dalam dunia medsos, mau viral, bisa bikin video yang aneh-aneh, ngerjain orang lewat ngeprank misalnya. Atau konten-konten yang berbahaya demi mendapatkan viewers, like, komen, dan share.

Namun, rupanya, untuk konten dakwah, konten motivasi Islami, seperti setor hafalan sekali duduk itu juga banyak mendapatkan respons positif. Coba bayangkan perasaan orang tuanya yang melihat anaknya tampil lewat internet, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Orang tua mungkin akan menangis, karena rindu, ditambah perkembangan anaknya yang menanamkan dadanya dengan kalamullah.

Selain hafalan Al-Qur’an, Ustadz Aidil juga memaparkan tentang program ceramah, yaitu: kultum di depan umum. Kultum ini bisa berarti kuliah tujuh menit, bisa pula kuliah untuk antum. Ini juga membutuhkan keberanian tersendiri bagi para santri karena berbicara di depan banyak orang itu, sangatlah tidak mudah. Pasti ada rasa grogi, takut, khawatir, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Toh, semuanya bisa dilawan. Toh, bisa juga tampil. Ya toh?

Ditambah dengan Pimpinan Yayasan

Sambutan dan tausyiah Ustadz Akbar Jabba, S.PdI, Ketua Yayasan An-Nur Wahdah Islamiyah Bombana

Ustadz Akbar, S.PdI sebagai Ketua Yayasan An-Nur Wahdah Islamiyah Bombana tampil pada kesempatan berikutnya. Beliau yang juga lulusan STIBA Makassar ini langsung bicara tentang kenyataan di Pondok Pesantren Al-Wahdah Bombana.

“Pesantren ini memang sederhana, tetapi mesti bisa mendorong motivasi belajar.” Kata Ustadz Akbar.

Beliau mencontohkan menu makanan yang sederhana bagi para santri, seringnya tempe. Tidak disajikan telur, karena bisa jadi ada yang alergi.

Hal yang unik, selain kewajiban belajar, kewajiban untuk menjalankan aturan, juga ada kewajiban terkena penyakit. “Penyakit wajib bagi santri itu gatal-gatal dan cacar. Bagi yang belum pernah, maka bisa dikatakan santri gagal.”

Wajar kedua penyakit itu muncul karena seringnya hidup bersama dengan sesama santri, dengan kondisi tempat tinggal yang berbeda dengan rumah aslinya. Mungkin ketika sudah kena dua penyakit itu, akan menimbulkan kenangan yang indah. Paling tidak, kenangan itu ada di kulit-kulit santri sendiri.

Sajian Khusus

Sebelum acara tadi sore itu ditutup oleh MC, disajikan persembahan khusus. Yang pertama adalah dari santri akhwat, membawakan puisi. Suara terdengar tidak terlalu jelas, tetapi pada intinya, puisi itu menggambarkan kerinduan seorang anak santri terhadap kedua orang tuanya. Memakai lirik panggilan sayang untuk ayah dan ibunya. Dan, ditutup dengan harapan untuk dapat masuk surga bersama-sama.

Ceramah menjelang buka puasa oleh santri Ahmad Razak

Penampilan kedua adalah ceramah dari santri bernama Ahmad Razak. Membawakan materi tentang kesabaran. Lebih dari sepuluh menit ceramah itu berlangsung. Sementara waktu semakin mepet dengan berbuka puasa. Alhamdulillah, hadirin masih bersabar menantikan hidangan berbuka puasa dari panitia dan penyelenggara acara.

Pernyataan Salah Satu Orang Tua Santri

Amrin, orang tua dari Muhammad Regal Amrin, kelas 3 SMP IT Al-Wahdah Bombana. Beliau menyekolahkan anak mulai dari kelas 1 SMP hingga hampir lulus sekarang, mengakui tentang sekolah pesantren Al-Wahdah Bombana. “Sekolah Al-Wahdah ini, karena disamping mendapatkan pendidikan agama yang begitu bagus, kemudian begitu juga tidak terlepas dari pendidikan umum. Oleh karena itu, kami berpikir sebagai orang tua, setelah tamat ini anak SMP, kami ingin melanjutkan kembali di sekolah Al-Wahdah ini, mudah-mudahan bisa tamat sampai SMA.”

Beliau membandingkan antara sekolah di luar dengan di dalam pondok pesantren Al-Wahdah Bombana. “Alhamdulillah, kami sebagai orang tua bersyukur sekali selama dia, makanya kami berinisiatif untuk menyekolahkan kami punya anak karena melihat dari perkembangan situasi di luar memang sangat berbeda dengan di sini. Di sini, kami beruntung karena mendapatkan pendidikan akhlak.”

Terkait dengan harapan, atau masukan, atau semacamnya begitu, terhadap Pondok Pesantren Al-Wahdah Bombana, Amrin menyebutkan, “Kami sebagai orang tua sangat berterima kasih dengan adanya pesantren di Bombana ini, yaitu: Al-Wahdah. Kami sangat berharap ke depan, tidak hanya Al-Wahdah ini dapat berkembang dengan baik, terutama dengan anak-anak kami yang sekolah di sini, ke depan bisa mendapatkan pelajaran yang lebih bagus lagi.”

Puncak Acara

Acara tadi sore sekaligus merupakan rangkuman dari kegiatan santri Ponpes Al-Wahdah Bombana. Salah satunya adalah Safari Ramadhan. Berikut adalah beberapa dokumentasinya:

Kini, para santri diberikan jatah libur, menikmati kebersamaan mereka kembali bersama keluarga sampai waktu yang ditentukan. Apakah setelah kembali ke pondok pesantren mereka akan lebih baik? Insya Allah, kita doakan bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here