Memandang Rendah Atau Meremehkan Kebaikan, Kok Bisa?

0
397
memandang-rendah-atau-meremehkan-kebaikan-cover

Ini kisah nyata. Dua orang pemuda muslim sedang berboncengan naik sepeda motor. Satunya di depan, satunya di belakang. Memang harusnya demikian bukan? Mereka melihat ada gangguan di jalan. Bagaimana tanggapan mereka?

Pemuda di depan, dia ini sudah menikah dan punya anak, tetapi memang berjiwa muda, makanya masih cocok disebut pemuda, berkata kepada temannya, “Eh, itu ada batu di jalan. Disingkirkan yuk!”

Ternyata, respons yang berbeda datang dari si lawan bicaranya, “Wah, nggak usah disingkirkan! Toh, pahalanya kecil kok. Nilainya kecil saja. Sudah, ayo, kita jalan terus!”

Orang yang di depan itu menurut saja diminta terus melajukan kendaraan. Batunya memang tidak terlalu kecil, tetapi terlihat dan terasa mengganggu.

Pemuda yang di belakang waktu itu belum menikah. Jadi, dia bisa memerintahkan yang lebih tua daripadanya.

Apakah batu itu sudah disingkirkan sampai sekarang? Wa’allahu alam. Namun, di sini kita akan membahas tentang memandang rendah atau meremehkan kebaikan.

Sejatinya Memang Itu Suatu Kebaikan

Mau dikatakan besar atau kecil, pada dasarnya memang kebaikan. Mau dilakukan oleh orang kaya maupun miskin, yang namanya kebaikan tetaplah kebaikan.

Apakah suatu kebaikan yang dilakukan oleh orang kaya itu selalu lebih tinggi pahalanya di sisi Allah daripada orang miskin? Oh, belum tentu!

Kita mungkin masih ingat dalil berikut. Sebuah hadits yang mulia dari Rasulullah ﷺ:

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

Artinya: Dari Abu Dzarr radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasūlullāh ﷺ bersabda, Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, meskipun kau bertemu dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri. (HR. Imām Muslim)

Tadi di awal tentang kebaikan memindahkan batu di tengah jalan, nah, sekarang kita membahas tentang salah satu akhlak yang mulia ketika bertemu dengan saudara kita.

Apakah ada hubungannya? Ya, kalau dihubung-hubungkan sih, ada juga.

Manusia Meremehkan, Tetapi Allah Tidak

Bagi manusia, suatu kebaikan bisa jadi dikatakan kecil. Seperti tadi temannya berniat mau menyingkirkan batu di tengah jalan.

Ada pula kondisi kebaikan dianggap kecil dan remeh saking terbiasanya melakukan hal tersebut. Firman Allāh ﷻ:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barangsiapa yang melakukan kebaikan sebesar dzarrah, maka dia akan melihat.” (QS. Al-Zalzalah: 7)

Bagi kita yang suka membaca Al-Qur’an, tentunya sering mendengar kata dzarrah ini. Sebenarnya apa makna kata tersebut?

Menurut sebagian ahli tafsir, ada tiga makna dzarrah:

1).  Semut kecil

Sudah berupa semut, kecil lagi! Berapa sih berat satu ekor semut? Tentunya amat sangat ringan.

Ditempatkan di timbangan di kantor pesantren, maka jarumnya tidak akan bergerak sedikitpun. Beda dengan sebagian kita yang sangat kaget saat melihat hasil yang tertera di angka timbangan tersebut.

Ketika semut tersebut ada di bahu kita, di baju kita, eh, tidak terasa juga. Tahu-tahu sudah menggigit di leher.

Ditimbang tidak kentara, di badan kita tidak terasa. Kebaikan yang seperti semut kecil itu, tetap akan dinilai oleh Allah ﷻ. Oleh karena itu, janganlah diremehkan.

Sebab, pasti ada balasannya di hari kiamat kelak. Lanjut ke makna yang kedua.

2). Sisa debu yang ada di tangan

Mungkin kita pernah rihlah atau rekreasi di pinggir pantai. Bersama dengan keluarga atau teman-teman akrab kita. Entah itu dengan mobil kecil warna putih, agak besar juga warna putih atau mobil yang lain.

Ketika di pantai itu, kita ajak anak bermain pasir. Yah, bisa jadi karena mau berenang di pantai tidak bisa berenang, maka main pasir saja.

Selesai main, kita bersihkan tangan dari pasir. Ditepuk-tepuk, diusap-usap, sampai terasa tangan kita bersih. Apakah betul-betul bersih?

Nyatanya tidak. Jika diteliti dengan sebenar-benarnya, masih ada partikel-partikel kecil di kedua telapak tangan kita.

Kira-kira, jika butiran pasir di tangan itu kita ambil, lalu ditimbang, berapa beratnya? Kalau kita melakukan ini, bisa jadi ada teman kita yang meremehkan, “Kayak kurang kerjaan aja!”

Seperti itulah kebaikan. Kecil sekali, bahkan hampir tidak terlihat oleh mata kita. Kecil, tetapi ada. Ada tetapi kecil. Inilah makna kedua dari dzarrah.

Lanjut ke makna ketiga.

3).  Butiran-butiran debu yang terlihat ketika terkena cahaya matahari

Terasa panas ruangan Anda? Cobalah untuk membuka jendela. Bisa di pagi atau siang hari.

Apa yang Anda lihat waktu membuka jendela? Tentu yang pertama adalah pemandangan di luar.

Tapi, ada satu lagi yang jelas terlihat, yaitu: debu-debu yang beterbangan dan seakan-akan mengalir melalui siluet cahaya matahari.

Lalu, coba kita ambil satu butiran debu itu. Berapa beratnya? Pastilah nilainya juga kecil sekali seperti dua hal di poin pertama dan kedua.

Dan, untuk menimbangnya dibutuhkan timbangan mikro yang dimiliki oleh kalangan ilmuwan eksakta.

Bahagia Bertemu dengan Saudara

memandang-rendah-atau-meremehkan-kebaikan-1

Memang bahagia rasanya memiliki sahabat yang selalu mengingatkan kita akan akhirat. Sahabat-sahabat yang seperti itu memang terasa semakin langka saja.

Biasanya, yang banyak itu adalah teman dengan topik pembicaraan semacam: game online, media sosial, film terbaru, bahkan lawan jenis atau perempuan lain.

Ada pula yang bicara tentang bisnis online, sepakbola, otomotif, tanah, rumah atau travelling.

Semua itu sebenarnya adalah urusan dunia. Kita butuh sahabat-sahabat yang mengingatkan kita akan pentingnya sholat, sedekah, dakwah dan amal-amal kebaikan lain.

Selain itu, juga sahabat yang mengarahkan kita untuk jangan terlalu banyak bicara yang omong kosong alias cuma teori.

Misalnya, bicara tentang poligami, tetapi beraninya hanya dengan temannya, tidak berani di depan istri sendiri.

Kalau ada satu atau dua sahabat saja, maka kita harus bersyukur kepada Allah ﷻ. Sebab Dia telah mengatur sedemikian rupa agar kita bertemu dengan para sahabat tersebut.

Memang Pantas

Mendapatkan harta berharga saja, kita jaga setengah mati. Dalam berbagai video yang cukup viral, ada beberapa orang kaya yang memamerkan kekayaannya.

Contohnya, mobil mewahnya yang berharga milyaran. Atau seseorang yang berbelanja dengan nilai sampai puluhan hingga ratusan juta rupiah dan dia mengatakan, “Ini murah banget, Gaes!”

Atau rumah dengan harga milyaran pula dan harganya terjangkau. Ah, itu semua masih kalah dengan sahabat-sahabat kita yang sholeh atau sholihah.

Harta yang sangat banyak itu justru kita yang mati-matian menjaganya. Ada perasaan was-was, jangan sampai ada orang jahat yang mengincar harta itu.

Namun, kehadiran para sahabat yang agamanya bagus, justru mereka yang menjaga kita. Menasihati kita dengan petuah-petuah berharga. Termasuk dari Al-Qur’an maupun hadits.

Jadi, sangatlah wajar dan pantas jika kita bertemu mereka dalam keadaan wajah yang berseri-seri dan senyum yang menawan.

Ada satu lagi, mereka tidak hanya terkait dengan dunia ini saja, tetapi sampai ke akhirat nanti.

Sahabat yang sholeh maupun sholihah bisa menjadi salah satu penolong kita di hari kiamat. Dan, amal yang terlihat kecil ketika kita senyum kepada mereka, maka bisa jadi, di akhirat justru menjadi sangat besar.

Janganlah seperti sebagian kelompok kaum muslimin yang menampakkan wajah yang keras, kaku, masam, dingin, galak atau seakan-akan tidak pernah senyum sejak lahir!

Mereka terpengaruh syubhat syetan hingga merasa kalau senyum ke orang lain itu termasuk merendahkan diri.

Bahkan, ada juga yang tidak mau menjawab salam kalau bukan dari kelompok mereka. Padahal ‘kan menjawab salam hukumnya wajib. Masa hanya gara-gara bukan kelompok mereka, terus dicuekin salamnya? Hadeh.

Ibaratnya, ada batu yang mengganjal di hati mereka. Apalagi kalau bukan batu kesombongan dan keangkuhan?

Inilah yang menghubungkan menyingkirkan batu dan tersenyum kepada saudara semuslim saat bertemu. Ada hubungannya juga ‘kan?

Meski batu di situ bukan batu sebenarnya, melainkan semacam simbol atau makna yang tidak kasat mata.

Yuk, kita mencoba untuk sering tersenyum saat bertemu dengan saudara sesama muslim, mau dia dari kelompok manapun. Jangan meremehkan atau memandang rendah kebaikan!

Coba saja, Anda tersenyum, maka perasaan Anda akan lebih nyaman. Kita senang, lalu tersenyum dan kita tersenyum, lalu senanglah kita.

Wa’allahu alam bisshawab. 

Sumber: Website pribadi Ustaz Dr. Firanda, Lc, MA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here