Malam Ahad, Malam Curhat Sekaligus Membagi yang Tak Sempat

0
321

Menyebut waktu Minggu, biasanya di kalangan para aktivis dakwah, diganti dengan Ahad. Jadi, kalau malam Minggu, disebutnya malam Ahad. Apa yang menarik dari malam Ahad pekan ini?

Sebelum menemukan jawabannya, antara Minggu dan Ahad memang berbeda istilah. Minggu berasal dari Nasrani, Dominggo. Pada hari Minggu, kalangan Nasrani menjalankan ibadahnya, dan itu terjadi sampai dengan sekarang.

Adapun kita sebagai bagian dari kaum muslimin, lebih pantas memakai Ahad sebagai simbol Tuhan kita cuma satu. Andaikan dijalankan seperti sekarang, yaitu: awal pekan kerja dimulai dari Senin, maka di hari Ahad ini ibaratnya kita memperbaharui lagi ketauhidan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tauhid adalah dasar. Tauhid adalah kunci. Selama kita masih memegang tauhid, masih mengesakan Allah, tidak berbuat syirik atau menyekutukan-Nya, maka Insya Allah kita akan masuk surga. Semoga tidak mampir dulu ke neraka. Naudzubillah min dzalik.

Lalu, kembali ke pertanyaan di atas, apa yang menarik di malam Ahad ini? Kalau dikembalikan ke kata Minggu tadi, atau malam Minggu, sering dipakai oleh anak-anak muda untuk memuaskan syahwat. Mereka berpacaran, memenuhi jalan-jalan dengan maksiat berjamaah. Memadu cinta katanya.

Tapi, di sini, tepatnya di Masjid An-Nur, kompleks pesantren Al-Wahdah Bombana, memadu cinta juga kok. Jangan salah! Tapi, tentu tidak sembarang cinta. Bukan cinta yang kaleng-kaleng, meski sekarang kemasan produk kita lebih banyak plastiknya.

Sebuah simbol cinta yang indah, antara santri dengan orang tuanya. Baik orang tua kandung yang tidak sedang berada di situ, maupun orang tuanya di pesantren, disebut juga dengan ustadz dan ustadzah, pembina mereka.

Menyelesaikan yang Tertunda

Namun, sebelum menjelaskan lebih jauh tentang cinta itu, Sabtu (03/04), dimulai jam 20.00 WITA, ada hal yang perlu diselesaikan, yaitu: penyerahan hadiah lomba menulis khusus santri Pondok Pesantren Al-Wahdah Bombana.

Pengumuman memang saya lakukan pada hari Senin (29/03). Namun, untuk bisa memberikan hadiah, tidak bisa dilakukan secara langsung. Akan lebih bagus jika dibuat acara dengan mengundang seluruh santri. Akhirnya, jadilah acara penyerahan hadiah sekaligus acara lain yang akan diulas nanti.

Sebagai juri satu-satunya, saya menjelaskan alasan enam orang santri saya pilih menjadi juara. Ada juara 1, 2, 3 dan Harapan 1, 2, 3. Kalau yang lalu, saya menjelaskannya di web (boleh Anda lihat melalui link di sini), maka sekarang langsung di depan santri ikhwan maupun akhwat. Ada juga pembina yang hadir: Ustadz Akbar, Ustadz Aidil Musakar, Ustadz Darmawan, Ustadz Ihsan Kelana, dan pembina ikhwan lainnya. Sedangkan untuk pembina akhwat mungkin ada yang hadir, tetapi jelas tidak tahu siapa saja, karena tertutup oleh hijab.

Tidak jauh berbeda dengan yang saya tulis, saya menjelaskan bahwa pemenang atau juara 1, Ildiansyah kelas XI SMA, menggunakan daya inovasi dan kreativitasnya untuk membuat sebuah karya tulis dengan satu buku tulis penuh. Tidak ada yang tersisa.

Begitu juga dengan pemenang-pemenang berikutnya, seperti Nurfaidah, kelas XI SMA juga, dengan tulisannya tentang diri sendiri sebagai santri, ditambah dengan puisi dan opini.

Pada momen penyerahan hadiah, Ildiansyah tidak bisa datang karena sakit, sehingga harus pulang ke rumah orang tuanya. Oleh karena itu, diwakilkan oleh Mus’ab, santri kelas XII SMA.

Mus’ab, santri kelas XII SMA mewakili adik kelas, Ildiansyah kelas XI SMA untuk menerima hadiah

Juara 2, santri akhwat tidak mungkin dilakukan penyerahan hadiah semacam itu, makanya langsung saja ke juara 3, Abyan Annasa, kelas IX SMP.

Penyerahan hadiah kepada Abyan Annasa, santri kelas IX SMP

Sedangkan untuk hadiah kepada juara Harapan 1, 2, 3 yang semuanya santri akhwat dan kelas XII SMA juga, seperti juara 2, maka Ustadz Aidil Musakar, pimpinan pondok pesantren Al-Wahdah Bombana, yang menyerahkannya dari bawah balik hijab masjid.

Alhamdulillah, tugas saya sebagai juri lomba telah selesai, lalu berlanjut ke acara berikutnya. Namanya liqo maftuh. Awalnya saya bingung dan tidak tahu apa artinya, mungkin juga sebagian dari Anda, tetapi intinya itu adalah pertemuan antara santri dengan pembina, untuk mengungkapkan saran, komentar, maupun kritik terhadap pengelolaan pondok pesantren Al-Wahdah Bombana. Sederhananya, malam curhat. Ya, malam Ahad diisi dengan malam curhat. Pas bukan?

Apa saja sih yang menjadi topik curhatan para santri? Mari kita simak!

Fasilitas

Bangunan pondok pesantren Al-Wahdah Bombana, memang masih terus dikembangkan. Hal itu bertujuan utama untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada para santri. Beberapa hal yang dikeluhkan santri, seperti: keinginan untuk dibuatkan taman bunga, fasilitas olahraga sepakbola maupun sepak takraw, asrama, dan lain sebagainya.

Makanan juga termasuk fasilitas yang ditanyakan oleh santri. Untuk makanan ini, memang kalau dibandingkan dengan pondok pesantren lain yang lebih elit, tentunya akan kalah. Namun, dengan pondok lain, bisa jadi di pondok pesantren Al-Wahdah Bombana lebih baik. Memang, akan lebih baik untuk bersyukur dan menikmati saja sajian yang ada. Toh bisa kenyang juga.

Pola Pendidikan

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di pondok pesantren Al-Wahdah, Bombana, Ustadz Akbar memberitahukan tentang guru baru yang akan mengajar di sana. Hal itu sebagai jawaban dari pertanyaan santri seputar pelajaran yang kosong atau belum pernah diisi.

Santri juga boleh kok memberikan kritik dan sarannya terhadap pengajaran oleh guru-guru yang ada. Misalnya, ketika ada guru yang masuk hanya mencatat atau memberi tugas, lalu main HP, maka yang seperti itu bisa disampaikan oleh santri. Sebab, sudah merupakan hak santri mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.

Pada bagian ini, juga dibahas tentang reward and punishment. Apresiasi ketika santri berprestasi dan sanksi apabila melanggar. Santri ikhwan menyinggung tentang hukuman berjamaah. Sedangkan santri akhwat mempersoalkan kurangnya pujian kepada mereka.

Hal ini cukup lucu dan menggelikan pada malam itu, terutama yang pujian, namun dijawab oleh Ustadz Akbar dengan baik. Mengenai hukuman berjamaah akan dipikirkan lagi, sedangkan untuk pujian ini lebih menyangkut kualitas dan kuantitas hafalan Al-Qur’an.

“Kalau yang saya bandingkan, hafalan Al-Qur’an antara santri ikhwan dengan akhwat memang berbeda. Kalau yang ikhwah, secara umum lebih meningkat dibandingkan akhwat. Namun, kalau untuk personal, lebih unggul akhwat. Apalagi hafalan terbanyak memang di santri akhwat. Nah, ini saya puji lagi kalian.” Sontak disambut dengan riuh rendah para santri akhwat dari belakang hijab.

Hubungan atau Komunikasi dengan Orang Tua

Awalnya, orang tua dilarang berkunjung ke pondok dengan alasan pandemi covid-19. Komunikasi yang bisa dilakukan hanyalah melalui telepon. Itupun terbatas, hanya diberikan kesempatan saat hari libur dengan durasi waktu yang cukup singkat. HP untuk komunikasi tersebut masih terbatas, tetapi yang mesti dilayani cukup banyak.

Ketika sudah diberikan kesempatan orang tua berkunjung, maka semestinya hal itu dimanfaatkan santri dengan sebaik-baiknya. Terlebih jika orang tua tidak rutin berkunjung atau saat hari berkunjung, justru tidak bisa. Akhirnya, diambillah hari lain, dan itu masih ditoleransi oleh pihak pondok.

Rekreasi

Beberapa saran datang berkaitan dengan rekreasi atau rihlah ini. Para santri yang mungkin merasa jenuh berada di dalam pondok terus, ingin menikmati udara segar, suasana baru, dengan berkunjung ke tempat wisata. Tidak perlu jauh-jauh, cukup di pantai Tabako di Kecamatan Rumbia Tengah juga, hal itu sudah bisa membuat mereka bahagia.

Keinginan mereka untuk berlibur, meskipun hanya setengah hari, disampaikan menjelang bulan suci Ramadhan ini. Sebab, ketika sudah datang Ramadhan, bepergian semacam itu tidak akan mungkin bisa dilakukan.

Untuk saran yang ini, masih berada dalam pertimbangan Ustadz Akbar dan pembina lain. Rihlah tersebut lebih khususnya kepada santri ikhwan, karena santri akhwat sudah pernah diajak berlibur juga pada periode ini.

Masih kaitannya dengan rekreasi ini, termasuk untuk izin ke luar pondok. Ustadz Akbar menjelaskan, “Bisa saja kalian diajak pembina jalan-jalan ke luar. Namun, mereka juga akan malas kalau jalan-jalan itu kalian manfaatkan di luar kesepakatan. Misalnya berkunjung ke mana begitu.”

Hal itu bisa saja terjadi, dan agar tidak terjadi, maka perlu dilakukan persiapan dan pengawasan yang baik.

Bulan Suci Ramadhan

Momen bulan ibadah, bulan suci Ramadhan tentu juga menjadi tanda tanya dan rasa penasaran santri. Jelas mesti begitu, karena pondok pesantren adalah simbol dari pendidikan Islam. Bulan Ramadhan juga bulan pendidikan, bulan tarbiyah, bulan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ustadz Akbar memberikan tanggapan bahwa nanti di bulan Ramadhan, para santri akan lebih fokus untuk murojaah hafalan-hafalannya yang lama. Bagi yang sudah 10 juz, maka silakan murojaah. Sedangkan yang masih 1 juz, maka mesti ditambah. Ini biasanya untuk kelas-kelas awal masuk sebagai santri, contoh: kelas VII.

Pada bulan puasa nanti, untuk santri ikhwan telah dipersiapkan dua ustadz dari STIBA Makassar untuk mendampingi mereka, sebab Ustadz Darlan dan Ustadz Aidil Musakar akan berada di tempat lain, tentu untuk keperluan dakwah dan ibadah mereka.

Kesimpulan

Mungkin seperti itulah dialog yang terjadi antara santri dengan para pembina yang dijawab oleh Ustadz Aidil dan Ustadz Akbar. Jawaban dari Ustadz Akbar juga menjadi jawaban dari Ustadz Aidil.

Adanya liqo maftuh seperti itu memang sangat bagus, karena ada feedback atau umpan balik, dari santri kepada pembina, dari pembina kepada santri. Pembina ada keinginan kepada santri, begitu juga santri kepada pembina. Jika santri bisa mengerti dan menjalankan keinginan dari pembina, bukan tidak mungkin keinginan santri juga akan diwadahi atau direalisasikan.

Acara ditutup sekitar pukul 22.00 WITA. Sebelum ditutup, ada penampilan nasyid dan pembacaan puisi dari santri. Yang spesial, ada pembacaan puisi juga oleh Ustadz Akbar. Puisi yang dibaca memang tidak lolos dalam lomba ini, tetapi cukup menarik untuk dibacakan, ditulis oleh Elsya Renaldha, santri akhwat kelas XII SMA. Dan, karena dirasa menarik itulah, Elsya akan diberikan hadiah khusus oleh Ustadz Akbar.

Para santri yang memenangkan lomba menulis tentunya akan bahagia. Sementara bagi yang belum beruntung, mungkin ada rasa kecewa, tetapi itulah hakikat sebuah perlombaan. Ada menang, ada kalah. Yang penting mau mencoba, itu sudah menjadi poin plus. Kalau tidak mau mencoba, maka bisa diibaratkan kalah sebelum bertanding.

Para santri ikhwan kembali ke pondok mereka dengan menggunakan mobil pesantren. Sedangkan para santri akhwat juga kembali ke asrama mereka. Mungkin saja masih ada pertanyaan, keluhan, atau curhatan di hati santri yang ingin disampaikan, tetapi perlu diketahui, bahwa para pembina pondok pesantren Al-Wahdah Bombana akan selalu terbuka terhadap saran maupun kritik. Bukankah yang kita inginkan adalah pondok pesantren Al-Wahdah Bombana makin maju dan terus maju? Tidak perlu dijawab, karena kita pasti sudah tahu jawabannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here