Lucu dan Aneh

0
226
islamofobia-cover

Sebuah pernyataan mengejutkan datang dari Ustadz Felix Siauw. Kata beliau, ada yang lucu dan aneh pada diri umat ini. Apakah itu?

Kalau melihat atau mendengar kata “lucu” dan “aneh”, apa sih yang terbayang di pikiran Anda? Mungkin atau bisa jadi, itu berkaitan dengan video-video yang banyak tersebar di jagat medsos kita.

Video-video yang lucu erat hubungannya dengan video prank. Tayangan yang mengerjai orang. Membuat lelucon yang akan membuat orang marah, malu hingga jengkel. Setelah itu, diberitahu bahwa itu cuma main-main, lalu dikatakan pula, “Tapi bohong!” Menjadi orang bohong kok bangga ya?

Sementara yang aneh, juga tidak jauh-jauh dari situ. Video lucu dan aneh memang bisa mendatangkan viewers, sampai dengan followers. Dan, yang membuat konten semacam itu tidak begitu peduli dengan isinya. Yang penting followersnya banyak! Yang penting likersnya ribuan hingga jutaan kalau perlu. Sepertinya hakikat kebahagiaan terletak pada orang lain, deh!

Bahkan, ada pula yang rela membuat video bermain-main di sebuah taman wisata. Menghabiskan uang sekian banyak hanya untuk mencari likers itu. Ternyata, yang diharapkan tidak terjadi. Dalam kasus semacam itu, kalau jiwanya tidak kuat, peluang untuk mengakhiri hidupnya akan ada. Subhanallah. Sampai sebegitunya, sih?!

Dalam Diri Orang Islam Sendiri

islamofobia-1

Kata Ustadz Felix Siauw, ini tentang sebuah phobia. Ternyata, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang benar adalah fobia. Oleh karena itu, mari kita ganti phobia dengan fobia.

Menurut KBBI lagi, fobia adalah ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya. Fobia beraneka macam, ada yang takut dengan ketinggian, ruang sempit, lubang-lubang semacam sarang lebah begitu, kegelapan, bahkan dengan hewan seperti laba-laba.

Orang yang terkena fobia memang harus menjalani terapi. Mungkin yang fobia ketinggian atau acrophobia, pernah melihat suatu kecelakaan pesawat terbang. Atau dia sendiri yang menjadi korban, lalu selamat. Entahlah.

Baca Juga: Tempat Untuk Santuy dan Rebahan yang Paling Bagus

Fobia yang terdengar lebih lucu dan aneh bagi Ustadz Felix Siauw, dan mestinya juga kita, yaitu: Islamofobia. Pernah mendengar ya? Sebuah ketakutan yang berlebihan terhadap Islam dan pemeluknya itu sendiri. Ustadz Felix berfokus pada kelucuan dan keanehan tersebut, karena Islamofobia justru diidap oleh kaum muslimin.

Ustadz Felix mengatakan bahwa beliau tidak pernah bertemu orang Nasrani yang mengalami Nasranifobia, atau pemeluk agama Budha yang mengalami Budhafobia. Justru yang ada itu adalah Islamofobia. Ada apa ini?

Mereka yang mengalami Islamofobia itu tidak bisa menerima simbol-simbol Islam tampak di depan mata mereka. Melihat muslimah yang bercadar, berpakaian hitam, longgar dan panjang, kaum Islamofobia melabeli dengan sebutan yang aneh-aneh. Misalnya: ninja atau apalah.

Padahal persepsi tentang ninja itu biasanya membawa pedang, tubuhnya tegap, gerakan cepat, dan memang disiapkan untuk pertempuran di zaman dahulu. Lha, kalau muslimah bercadar dikatakan ninja, dia mau bertempur sama siapa? Aneh ‘kan?

Atau melihat laki-laki yang berjenggot dan bercelana cingkrang. Laki-laki yang berjenggot diberi sebutan kambing. Lho, mengapa sampai harus dikatakan seperti itu? Bukankah laki-laki berjenggot itu terlihat benar kelaki-lakiannya? Bukankah dari jauh sudah jelas dikatakan bahwa dia itu laki-laki? Perempuan mungkin ada yang memiliki kumis, meski sedikit, tetapi perempuan berjenggot jarang sekali ditemukan.

Bandingkan dengan para artis Korea itu yang digilai-gilai remaja putri. Entah yang “gila” ini artis atau penggemarnya? Para artis yang disebut oppa-oppa Korea itu, bisa tampak dari wajah mereka yang sebenarnya laki-laki, tetapi tampak pula seperti perempuan. Apalagi ditambah dengan anting, mungkin di telinga kiri maupun kanan, lebih tampak lagi sebagai perempuan. Gerakan jalannya lemah gemulai, aduh, klop deh!

Justru yang seperti itu malah banyak penggemarnya. Sebelum corona, bisa jadi ada konser pertunjukan mereka, yang datang, wuih, tidak bisa dihitung dengan jari, meski dengan pinjam jari teman-teman kita. Apakah yang seperti itu idola yang sebenarnya?

Lebih parah lagi, bertemu mereka sampai menangis, terharu, hingga sampai mau saja dipeluk-peluk sang artis. Ya Allah. Tidak jarang gadis muslimah membiarkan saja diperlakukan seperti itu. Aduh, kok parah sekali ya?

Sementara ketika sholat, yang notabene bertemu dengan Allah, justru tidak menangis. Pada akhirnya, penyakit hatilah yang menutupinya.

Selain dari penampilan, juga pemikiran. Kaum Islamofobia lebih menerima pemikiran, ide, dan wacana dari orang-orang di luar Islam. Mereka lebih suka dengan “toleransi” yang sebenarnya makna dari toleransi itu sudah di luar konteks.

Ketika ada kaum muslim melarang mengucapkan selamat Natal, kaum Islamofobia langsung membully dan mengatakan, “Hari gini masih debat seputar boleh tidaknya ucapan selamat natal? Plis deh!”

Padahal, ucapan tersebut adalah simbol dari rasa keberagamaan kita. Ucapan adalah simbol dari hati seseorang. Kalau ada seseorang mengatakan cinta dan sayang, maka cek hatinya. Apakah benar seperti itu?

Contohnya, seorang suami yang berkata cinta dan sayang kepada istrinya. Kalau hanya ucapan, mungkin memang aslinya benar-benar hanya ucapan. Namun, coba saat suami mengatakan itu, dia sambil membelikan istrinya cincin emas, kalung emas, gelang emas, HP emas, eh, maksudnya HP baru, atau uang tunai di atas lima juta rupiah, maka cinta dan sayang itu benar-benar dari hati! Mantap!

Tentang Ajaran Islam

Kita bisa melihat tentang ajaran Islam yang sangat agung ini, tetapi dicela oleh penderita Islamofobia. Dua ajaran Islam yang sering jadi santapan kebencian mereka adalah hukum waris dan poligami.

Hukum waris dalam Islam dikatakan tidak adil. Masa laki-laki mendapatkan dua, sementara perempuan hanya satu? Mana dong kesetaraan gender? Mana dong emansipasi wanita? Mana dong perempuan derajatnya harus sama dengan laki-laki?

Sementara poligami juga dikatakan tidak adil dan mendzolimi kaum perempuan. Masa seorang suami, satu orang, dibagi-bagi ke dua, tiga hingga empat istri? Bagaimana dengan nafkah lahirnya? Bagaimana pula dengan nafkah batinnya? Yang mereka lihat dan akhirnya jadi bahan celaan adalah praktek poligami yang gagal.

Padahal, banyak juga yang berhasil, tetapi yang sudah berhasil tersebut tidak mau ditampilkan ke publik. Untuk apa juga ya, rumah tangga orang mesti orang lain harus tahu? Ya ‘kan?

Praktik poligami mendatangkan kemaslahatan yang besar. Bagaimana tidak, betapa banyak perempuan yang terbantu kebutuhan materi hingga biologisnya melalui poligami? Kalau Islam juga menyebutkan poligami dalam ajarannya, maka sebenarnya itu pasti ada kebaikannya.

Memang yang gagal juga tidak sedikit. Namun, apakah langsung kita salahkan ajaran poligami tersebut? Bagaimana dengan orang yang tidak bisa sholat dengan khusyuk? Bukankah itu tanda kegagalan juga, karena sholat yang sempurna adalah mesti dengan kekhusyukan?

Ah, namun bicara tentang ajaran poligami ini, biasanya sih sebatas bicara saja dan ujungnya jadi candaan. Cukup banyak teman saya yang seperti itu.

Kesimpulan

Melihat dan mengacu kepada fobia-fobia selain Islamofobia, mungkin itu hanya terkait dengan dunia. Fobia semacam itu Insya Allah bisa disembuhkan dengan terapi yang teratur.

Akan tetapi, Islamofobia ini yang parah. Sebab, yang diserang adalah hatinya, hingga pikirannya. Dan, hal itu termasuk perkara yang gaib. Orang sehat dan kuat, ganteng maupun cantik, dapat terjangkiti Islamofobia yang parah.

Kalau tadi fobia lain kaitannya dengan dunia, maka Islamofobia tidak hanya dunia, tetapi juga akhirat. Kebencian terhadap agama Islam dalam diri pemeluk Islam sendiri adalah hal yang lucu dan aneh.

Jika dia benci agamanya sendiri, tetapi masih memeluk agama Islam, ini lebih aneh lagi. Lha kok tidak pilih agama lain saja? Ya ‘kan? Supaya bebas mengkritik Islam. Ah, siapa sih yang bisa menghancurkan agama Islam ini dengan kritikan semacam itu? Nggak mempan, Bro!

Hal yang jelas, Islamofobia memang perlu dihadapi. Pemikiran dengan pemikiran, tulisan dengan tulisan, video dengan video, buku dengan buku, ceramah dengan ceramah. Allahu Akbar!

Allah sendiri yang melindungi agama Islam ini sampai seterusnya. Jangan sampai, penganut Islamofobia itu juga nanti fobia dengan surga.

Fobia dengan keindahannya yang luar biasa, bidadari yang cantik jelita tidak pernah tersentuh oleh siapapun, rumah yang supermegah, bertemu dengan Allah seperti melihat bulan secara langsung, dan tentunya kekal abadi. Jika sudah sampai fobia dengan taraf seperti itu, maka sudah pasti termasuk tingkat lucu dan aneh yang sangat-sangat parah!

Tentunya, kita yang tidak mengalami Islamofobia ini perlu bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan lupakan untuk mendakwahi, menasihati, dan mendoakan saudara-saudara kita yang masih belum mengenal Islam dengan benar hingga sampai derajat terkena Islamofobia. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan mereka.

Waallahu ‘alam bisshawab

Baca Juga: Takdir Allah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here