Kisah Gadis dan Seorang Preman

0
197
KISAH

Sebuah kisah datang dari Ustadz Bendri Jaisyurrahman, praktisi keayahan. Waallahu ‘alam, apakah kisahnya benar atau tidak? Namun, semoga bisa diambil hikmahnya.

Sudah siap mendengarnya? Eh, kalau tulisan kok mendengar ya?

Ceritanya, ada seorang remaja putri yang sedang menunggu bus untuk pulang. Tiba-tiba, ada seorang preman yang datang mendekati. Refleks, remaja itu merasa terganggu. Dia juga tidak nyaman. Ada rasa ketakutan. Khawatirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Preman itu makin mendekat. Oh, sudah mulai nekat nih, begitu mungkin di pikiran si remaja. Makin dekat lagi, remaja itu tidak tahan lagi, dia membentak, “Jangan dekat-dekat! Ada urusan kamu mau ke sini?! Jangan macam-macam ya! Kalau nggak, aku teriak di sini!”

Mendengar ancaman itu, bukannya takut, si preman juga tidak berpikir untuk lari. Lha wong dia saat itu tidak berniat jahat kok atau minimal belum menampakkan niat jahat. Dia mendekati remaja itu karena merasa tertarik saja. Bentuk ketertarikannya adalah dengan memuji, “Matamu paling indah sedunia.”

Gadis itu diam. Dia seakan berhenti bernapas. Suara dari kalimat itu begitu masuk ke telinga – ya, iyalah mau lewat mana lagi – langsung bertengger di hatinya. Dia merasa maknyess, bahkan maknyuss. Terbayang-bayang ketika di dalam bus hingga sampai ke rumahnya.

Meskipun berasal dari seorang preman yang notabene orang asing, dia merasa tersanjung. Sangat tersanjung. Dirinya seakan-akan melambung tinggi hingga ke ujung langit. Perasaannya sangat dimanjakan dengan kalimat tersebut.

Berkali-kali dia melihat ke cermin, benarkah matanya memang indah? Benarkah paling indah sedunia? Dia lihat-lihat, ternyata betul juga! Benar yang dikatakan oleh preman itu. Hatinya benar-benar tercabik-cabik oleh kalimat yang sederhana, tetapi mengena. Tidak terkesan biasa, tetapi memang luar biasa. Ah, dia jadi senyum-senyum sendiri.

Pada hari-hari berikutnya, dia bertemu dengan preman itu lagi. Waktu itu, perasaannya sudah berubah. Dia tidak lagi memandang si preman sebagai sosok yang menakutkan, menyeramkan, membahayakan. Mulailah muncul kedekatan hati pada diri mereka.

Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka makin intens. Makin dekat. Hingga muncul kasus kejahatan yang menimpa si remaja putri! Dia pun menjadi korban kejahatan dari preman itu. Akhirnya, tampak wujud aslinya, namanya juga preman.

Apa yang bisa diambil dari kisah tersebut?

Cinta Pertama

Jika mungkin Anda dulu waktu remaja, atau sampai sekarang juga, remaja kita pasti tahu yang namanya cinta monyet. Sebuah istilah cinta yang katanya menjadi cinta pertama pada seorang ABG. Biasanya, cinta monyet itu berkisar cinta yang terjadi secara tidak halal antara remaja dan remaji, maksudnya remaja laki-laki dan remaja perempuan.

Dari cinta monyet itu, akhirnya muncul kelakuan macam monyet! Sampai terjadi perzinaan, dan ujungnya bisa aborsi. Sudah tahu bukan cukup banyak kasus kehamilan sebelum nikah? Naudzubillah min dzalik.

Cinta monyet yang didefinisikan sebagai cinta pertama, memang kesannya menipu. Melihat lawan jenis yang kesannya macho, cool, pintar main basket, ketua OSIS mungkin, membuat gadis remaja tergila-gila. Begitu pula dengan si remaja putri yang pakai hijab, langkahnya anggun, pintar, sering duduk di depan, itu bisa jadi dikagumi oleh remaja laki-laki, meskipun remaja laki-laki itu sering berdiri di depan, karena dihukum.

Begitulah desar-desir cinta yang semu hinggap di hati-hati mereka. Boleh jadi terpengaruh televisi, dan yang paling jelas lewat HP atau gadget, sedangkan istilah bahasa Indonesianya adalah gawai. Oleh karena itu, lebih bagus anak-anak kita dimasukkan di dalam pesantren saja dengan sistem pemisahan belajar antara laki-laki dan perempuan.

Jika cinta pertama seorang remaja putri adalah teman laki-lakinya atau mungkin artis idolanya, berarti ada yang salah dengan pola pendidikan di rumahnya. Seharusnya yang menjadi cinta fase awal itu adalah ayahnya. Biasanya anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Begitu bukan?

Seperti dalam kisah di atas, remaja putri langsung terhenyak dengan kalimat yang memuji matanya. Padahal itu dari orang asing dan sama sekali tidak ada hubungan keluarga. Namun, mengapa sampai begitu terngiang-ngiang? Sampai susah dilupakan? Hingga menjurus kepada pertemuan-pertemuan selanjutnya?

Kemungkinan remaja tersebut tidak mendapatkan hal yang sama dari ayahnya. Mungkin ayah yang seharusnya menjadi pelindung justru sering memarahi, memaki, membentak, menghina, dan tentu saja menyakiti perasaannya.

Padahal, perempuan itu adalah sosok yang penuh dengan perasaan. Makanya, saat mendengar sebuah kalimat yang sepertinya tulus diucapkan, padahal yang benar penuh dengan modus, gadis itu mengawang-awang. Lupa daratan. Ingat lautan.

Cinta tahap pertama seorang anak perempuan seharusnya kepada ayahnya. Apa sih susahnya seorang ayah memuji anak gadisnya? Ketika masih kecil, anaknya sudah mandi, berpakaian rapi dan bersih, ayahnya bisa memuji dengan, “Masya Allah, anak gadis Ayah. Cantiknya luar biasa. Kayak bidadari!” Pasti anak itu akan tertawa lebar.

Menginjak remaja, gadis itu mulai berjerawat. Dia merasa risau dengan serangan seperti itu. Ayahnya datang menenangkan hatinya, “Tidak apa-apa, Nak, berjerawat. Itu normal kok. Ayah dulu juga begitu. Tetap anak Ayah yang paling cantik. Jerawatmu tidak mengurangi kecantikanmu, Nak.”

Bahkan saat anak perempuan sedang ada masalah, ayah mestinya jadi orang pertama yang dicurhati, jika ibunya tidak mampu. Ayahnya sedang sibuk, mungkin sedang sibuk main game online, halah, letakkan dulu gawainya, hapus gamenya, berikan waktu untuk si anak. Mendengarkan saja sudah membuat dia merasa lega. Apalagi memberikan solusi yang jitu dan cespleng. Seperti bahasa iklan memang.

Inilah yang sering menjadi masalah. Ayah merasa sudah tidak lagi bersekolah, lalu berhenti belajar. Membaca buku-buku yang bermanfaat, tidak lagi mau. Membaca artikel-artikel bermutu di internet juga ogah. Berdiskusi dengan sesama ayah lain tentang pendidikan anak, malas. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari ayah seperti itu?

Kita bisa lihat betapa romantisnya, betapa syahdunya, betapa asyiknya, anak perempuan yang dekat dengan ayahnya. Sosok ayah sebagai pelindung, penasihat, sekaligus teman dan sahabat saat anak mulai remaja. Jangan sampai, anak perempuan tersebut mempunyai idola yang lebih jelek!

Ustadz Bendri mencontohkan berhasilnya seorang ayah dalam mendidik anak gadisnya. Seorang ayah bertanya kepada anaknya, “Nak, kok belum mau berpikir untuk menikah sih? Memangnya laki-laki yang kamu kenal, nggak ada yang kamu suka?”

Jawaban si anak, “Nggak ada, Yah. Saya nggak suka. Soalnya nggak ada yang seperti Ayah sih!”

Nah, itulah bukti bahwa kehadiran ayah betul-betul meresap ke dalam hati anak perempuannya. Dia mendambakan nanti punya pasangan yang seperti ayahnya, sangat mencintainya, memahami, mampu menemani di segala cuaca, maksudnya suasana, menjadi pendengar yang baik, sekaligus pelindung yang tak kenal lelah.

Saat sang ayah menemukan sosok semacam itu, maka cepatlah dinikahkan dengan anak gadisnya. Sebab, berpindahnya tanggung jawab dari ayah ke laki-laki tersebut, semoga bisa menjadi jalan kebahagiaan bersama.

Sebagai penutup, alangkah bagusnya kita ingat hadits yang mulia berikut ini:

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku.” (Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631)

Menurut Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits di atas menunjukkan keutamaan berbuat baik kepada anak-anak perempuan, memberi nafkah kepada mereka, serta bersabar dalam mengurus seluruh urusan mereka.“

Selain itu, beliau juga mengatakan, “Anak perempuan disebut sebagai ibtilaa’ (ujian) karena umumnya manusia tidak menyukai mereka.” Beliau berpendapat seperti itu karena ada sebagian orang yang tidak suka memiliki anak perempuan, tetapi lebih senang punya anak laki-laki. Hal itu difirmankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأُنثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاء مَا يَحْكُمُونَ

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah, ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.“ (An Nahl:58)

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kepada saya, Anda dan siapapun muslim lainnya agar diberi keturunan yang sholeh maupun sholihah. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Wallahu ‘alam bisshawab

Referensi:

  1. Salah satu webinar tentang keayahan oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman yang diadakan oleh Wahdah Islamiyah pada tanggal 19 Juli 2020.
  2. Artikel muslim.or.id.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here