Kisah Anak yang Diusir dan Tarbiyah Gabungan yang Kembali Bergulir

0
264

Sebuah kisah disampaikan di sini terinspirasi dari kisah Ustadz Armen Halim Naro rahimahullah. Tentang seorang anak yang diusir oleh ibunya sendiri. Bagaimana kisah selengkapnya?

Pada awalnya, memang baik-baik saja. Normal-normal saja. Sampai si anak melakukan kesalahan. Ibunya membiarkan. Eh, si anak tersebut melakukan kesalahan lagi, kali ini dengan bentuk yang lebih besar.

Sang ibu menasihati anak tersebut dengan baik dan halus. Nyatanya, anak itu tidak menerima nasihat ibunya. Kesalahan demi kesalahan diperbuat lagi. Bolehlah dicap anak tersebut nakal karena tidak mau mendengar ibunya.

Terus coba diperbaiki oleh sang ibu, tidak berhasil, membuat ibunya emosi. Marah luar biasa. Mungkin si anak sudah diberikan berbagai peringatan, mungkin pula diberikan SP 1, SP 2, hingga SP 3, istilahnya begitu, tidak juga mempan. Sampai akhirnya…

“Ke luar kamu dari sini! Tidak usah kamu tinggal di rumah ini lagi!”

Diusir begitu, anak tersebut malah merasa tertantang. Jika dia ke luar rumah, maka kenakalannya akan lebih bebas dilakukan. Tidak perlu mendengar omelan ibunya. Lebih bebas berkumpul dengan teman-temannya yang sefrekuensi, frekuensi nakal maksudnya.

Langkah mantap diambil anak itu untuk ke luar dari rumah. Berjalan dan terus berjalan jauh dari rumah. Makin jauh, terasa ada yang berbeda. Ada perasaan lain yang menyusup ke dalam hatinya. Dia merasa asing dan aneh dengan perasaan tersebut. Semacam perasaan halus, yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Mau pergi ke mana dia? Mau melangkah ke mana saja dia? Apakah akan tinggal di rumah orang lain? Kalau ke rumah orang lain, siapa?

Dia terus berjalan, tetapi mulai berpikir kembali. Bukankah rumah utamanya telah ditinggalkan? Bukankah tadi dia sudah bilang ke ibunya kalau dia mau jadi anak yang mandiri? Mau jadi anak yang tidak lagi bergantung kepada orang tua?

Perasaan Memang Tidak Bisa Bohong

Mau coba untuk dimungkiri, nyatanya memang sulit. Ternyata memang susah. Hati tidak bisa ditutupi perasaan yang sebenarnya. Kalau sudah cinta, memang itulah yang sebenarnya. Kalau sudah rindu, begitulah yang terwujud dalam waktu.

Keberaniannya tadi, kegagahannya tadi, bahkan campur dengan kenekatannya tadi, mulai digerogoti oleh perasaan yang makin menguasai dirinya. Rupanya, makin jauh dari rumah, anak itu justru tidak sanggup lagi untuk melangkah.

Bukan karena kakinya tiba-tiba kena penyakit, tetapi kini hatinya yang sakit. Hatinya yang luka. Hatinya yang mulai tercabik-cabik oleh perasaan rindu dan tumbuh cinta kepada ibunya. Luka yang tak berdarah.

Sombong, angkuh, sok-sokan perlahan luruh. Dia duduk sebentar di pinggir jalan. Saat diam seperti itu, muncullah memori kenakalan-kenakalannya. Sifat-sifatnya yang jelek. Akhlaknya yang luar biasa buruk. Semua itu membuat ibunya terluka, sedih, dan pilu. Dan, ketiganya kini juga menghinggapinya.

Tanpa terasa, setetes embun menggerus permukaan tanah yang gersang. Tanpa bisa dicegah, air matanya mengalir. Hatinya sudah mulai berteriak. Lalu, memberikan nasihat kepadanya, “Mau ke mana kamu sebenarnya? Mau kamu tinggalkan ibumu? Mau kamu pergi darinya yang sudah mengandungmu, melahirkanmu dengan bertaruh nyawa, hingga membesarkanmu sampai sekarang? Lalu kamu mau meninggalkannya dengan kebodohan yang kamu lakukan sendiri?”

Meskipun masih anak-anak, rupanya dia bisa sadar juga. Dia amati rumah-rumah yang ada di situ, tidak ada yang bisa dimasuki. Tidak ada yang bisa dijadikan tempat tinggal selain rumah ibunya. Tidak ada tempat lain yang senyaman dan sehangat rumah ibunya. Tentu juga, tidak ada orang lain yang begitu menyayangi, membuat nyaman, dan menawarkan kehangatan sebaik ibunya. Ah, anak itu pun kembali menangis.

Dia tidak sanggup lagi berjalan. Dia tidak mampu lagi melangkah. Punah sudah segala keangkuhan dan kesombongan itu. Dia berdiri, berjalan, balik lagi ke rumah ibu tercintanya. Bertekad untuk menjadi anak yang lebih baik.

Sambil berjalan, dia hapus air matanya. Tidak bisa. Terus mengalir. Semakin deras. Semakin keras. Justru, hal itulah yang mendorongnya untuk tidak lagi berjalan. Kini dia berlari. Kencang dan semakin kencang. Baru beberapa waktu saja, dia sudah rindu ibunya. Apalagi nanti kalau benar-benar meninggalkannya seperti yang diucapkan tadi.

Pucuk dicinta, ulam tiba. Ibunya menyambut di pintu. Ternyata, dia juga tahu anaknya pasti akan kembali. Sang anak langsung berlari, ke pelukan hangat ibunya. Pelukan yang hampir saja hilang ditelan oleh perkataan sombong si anak.

Mereka saling menangis. Saling meluapkan perasaan. Air mata yang sudah tidak bisa lagi dibendung dan dikurung. Ditumpahkan semuanya di situ. Begitulah kisah cinta sejati antara anak dengan ibunya. Tidak terpisah oleh zaman. Bahkan bisa tembus sampai ke akhirat.

Menjadi Perumpamaan

Ustadz Armen Halim Naro rahimahullah mengatakan bahwa itulah perumpamaan seorang hamba yang jauh dari Allah. Kesalahan demi kesalahan yang dilakukan membuatnya tidak lagi dekat dan mesra dengan Allah. Ketika Allah memberikan peringatan-peringatan, hamba tersebut justru merasa sombong. Dia pun berjalan semakin jauh dari Allah. Makin merasa tidak butuh dengan Allah.

Apakah kita ada yang begitu? Siapa sih di antara kita yang tidak pernah jauh dari Allah? Pasti semuanya pernah.

Ada kalanya kita merasa bisa sendiri tanpa bantuan orang lain, bahkan tanpa bantuan Allah. Namun, apa yang terjadi? Ternyata tidak berhasil. Kalaupun berhasil, nilainya berkurang. Tidak ada keberkahan di situ. Bahkan kebahagiaan yang kita incar, justru lari terpencar.

Solusi terbaiknya adalah kembali ke pintu Allah. Kata Ustadz Armen, tidak ada pintu lain di luar pintu Allah. Bahkan seandainya ada Tuhan lain, mungkin orang akan ke situ. Tapi, ternyata tidak ada dan tidak akan pernah ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Oleh karena itu, tidak ada solusi, selain kembali kepada Allah. Lalu, bagaimana caranya?

Insya Allah, kesempatan itu akan tiba. Melalui bulan Ramadhan di tahun ini, Allah membuka pintu-Nya dan menutup pintu-Nya. Membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka. Kesempatan terbuka luas untuk meraih ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kalau Allah sudah mengampuni, apa sih yang susah untuk memasukkan kita ke dalam surga-Nya?

Namun, untuk bisa melangkah ke sana, untuk bisa kembali ke sana, dibutuhkan persiapan. Dan, persiapan terbaik adalah dengan persiapan ilmu. Seperti yang dilakukan oleh DPD Wahdah Islamiyah Bombana melalui kegiatan targab atau tarbiyah gabungan.

Melepaskan Dahaga

Meskipun belum memasuki bulan suci Ramadhan, tetapi dalam kegiatan tarbiyah gabungan tersebut pada Sabtu (10/04) pukul 16.30 WITA, sudah menjadi bentuk melepaskan dahaga, mereguk segarnya nikmat dari Allah. Tidak lain dan tidak bukan adalah nikmat bertemu dan berkumpul dengan sesama muslim. Mewujudkan suatu ukhuwah dan persaudaraan. Bukan bersatu karena nasab, bukan pula karena pernikahan, melainkan karena diikat oleh satu tujuan yang sama, yaitu: ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kegiatan tarbiyah gabungan semakin terasa ruhnya karena sejak pandemi, sepertinya belum ada lagi kegiatan tersebut, menggabungkan antara kader ikhwan dan akhwat di Masjid An-Nur, kompleks pondok pesantren putri Al-Wahdah Bombana. Bertemu hanya di dalam halaqoh. Antarhalaqoh belum bisa saat pandemi covid-19 terjadi.

Kegiatan tarbiyah gabungan dimulai dari tahsinul Qiroah.

Menurut Imam Muhammad Al-Munkadir rahimahullah, ada tiga nikmat yang masih tersisa di dunia ini, antara lain: sholat malam, bertemu dengan sesama ikhwan, dan sholat berjamaah di masjid. Jadi, tarbiyah gabungan menjadi bagian dari nikmat juga, sesuai yang dikatakan oleh Imam Muhammad Al-Munkadir rahimahullah tersebut.

Berbagai halaqoh bisa menyatu dalam satu halaqoh Qur’an di tarbiyah gabungan

Persiapan Sebelum Start

Meskipun hanya berlangsung satu bulan, tetapi Ramadhan bisa diibaratkan seperti lari marathon. Butuh persiapan agar tenaga, energi, dan napas kita bisa panjang menyusuri lintasan yang telah disediakan. Betapa banyak orang yang bersemangat di awal bulan suci Ramadhan, lalu menjadi lemas di pertengahan, dan terdegradasi justru menjelang finish.

Melalui bulan suci Ramadhan dengan semangat membara untuk beribadah kepada Allah sungguh tidak mudah. Pada kegiatan targab, dijelaskan tentang ilmu-ilmu yang perlu diketahui oleh setiap muslim dan muslimah. Hal yang perlu dicamkan oleh Ustadz Akbar Jabba, S.PdI yang bertindak sebagai narasumber atau pemateri adalah menyatakan dalam diri bahwa bulan tersebut sangatlah penting.

Penyampaian materi tarbiyah gabungan oleh Ustadz Akbar Jabba, S. PdI, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana

Ada hal-hal yang perlu diketahui, seperti hukum puasa bagi ibu hamil dan menyusui. Pendapat yang dipilih adalah ibu hamil dan menyusui diibaratkan seperti orang sakit, sehingga harus mengqadha tanpa fidyah.

Adapun tentang musafir, orang yang dianggap masuk kategori safar itu ketika sudah ke luar dari kampungnya. Musafir diberikan keringanan untuk tidak berpuasa. Allah senang jika keringanan dari-Nya diambil oleh seorang hamba yang memang sedang bersafar.

Kesimpulan

DPD Wahdah Islamiyah Bombana memiliki target-target tertentu dalam bulan suci Ramadhan ini. Selain ibadah rutin yang biasa ada di bulan Ramadhan, bentuk perjuangan lainnya adalah dengan harta. Bentuk yang satu ini menjadi penting karena bisa melancarkan usaha dakwah.

Bukankah setiap dakwah itu butuh harta? Dan, bukankah harta itu juga bisa dianggap seperti harta untuk berjihad di jalan Allah? Sekarang belum ada jihad dalam konteks berperang, tetapi harta itu tetap menjadi sarana penegakan kalimat Allah Subhanahu Wa Ta’ala di muka bumi ini.

Program donasi yang dicanangkan di bulan mulia ini adalah tebat paket ifthor (berbuka puasa), paket sembako, tebar mukena, bingkisan kado lebaran untuk dai, kado lebaran untuk yatim dan dhuafa, serta donasi Ramadhan lainnya. Bagi Anda yang tertarik atau ingin agar harta Anda lebih berkah – Anda tentu mau itu – silakan Anda bisa menghubungi Ustadz Riski Rizal, pembina pondok pesantren Al-Wahdah Bombana melalui link berikut ini.

Harapan kita tentunya adalah bulan Ramadhan ini lebih baik daripada bulan Ramadhan sebelum-sebelumnya. Yuk, kita mulai dari harta. Ada yang mengatakan, “Sedekahnya nanti dulu deh, nunggu kaya dulu. Kalau sudah kaya, baru sedekah, baru infaq.”

Padahal, jawabannya sangatlah simpel: “Justru dengan infaq dan sedekah ini, yang bakal membuat kita jadi kaya!”

Sekali lagi, bagi Anda yang ingin berdonasi dan berinfaq dengan pahala yang besar di bulan Ramadhan ini melalui Wahdah Islamiyah Bombana, silakan masuk ke link yang satu ini.

Syukron wa jazakumullah khairan katsiro atas semua perhatian dan infaq/sedekah Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here