Dua Gelar yang Termasuk Terbaik

0
221
dua-gelar-yang-termasuk-terbaik-cover

Berbicara tentang gelar, kiranya sangat banyak orang yang mengincar. Lebih khusus lagi antara orang tua dengan anaknya. Gelar yang didapatkan dari kampus anaknya menjadi harapan orang tua.

Sebenarnya sah-sah saja motivasi kuliah adalah demi mendapatkan gelar. Sebab, gelar memang bisa dipakai untuk fase kehidupan selanjutnya. Bisa untuk urusan mencari kerja. Bisa juga untuk urusan mencari jodoh.

Seorang gadis yang punya gelar tentu “nilainya” berbeda dibandingkan yang tidak. Apalagi berasal dari kampus yang bonafid, mentereng, dan terkenal di negeri tercinta ini.

Gelar tersebut dapat membuat perjuangan untuk mendapatkannya secara halal dan legal menjadi lebih berat bagi seorang laki-laki. Ujung-ujungnya, biaya untuk menikah juga makin tinggi. Ya ‘kan? Betul ‘kan?

Tidak Cuma Bukti Keilmuan

Pada sisi yang lain, gelar yang menjadi simbol sudah menyelesaikan suatu jenjang pendidikan perguruan tinggi tersebut, juga dapat dipakai oleh seorang pegawai, utamanya dalam usaha untuk naik pangkat.

Ini juga wajar terjadi dalam dunia birokrasi pemerintahan kita. Sah-sah juga motivasi mendapatkan gelar S2 sampai dengan S3 dengan harapan pangkat yang lebih tinggi tersebut.

Baca Juga: Ikatan Cinta

Mungkin saja, gelar juga dipakai untuk simbol strata sosial lebih tinggi. Seorang doktor tentu akan lebih dihormati di forum masyarakat daripada seorang sarjana.

Gelar juga dipakai untuk edifikasi seseorang. Dia akan punya power lebih ketika tampil di depan umum.

Dalam diskusi ilmiah misalnya. Atau bahkan, dalam kajian keislaman juga begitu. Seorang ustadz yang punya gelar doktor dalam ilmu agama Islam, memang lebih terasa punya daya cengkeram lebih dibandingkan yang pendidikannya di bawah itu.

Ada Gelar yang Lain Lagi

Mau itu gelar sarjana, magister, maupun doktoral, semuanya butuh untuk diperjuangkan, baik itu tenaga, waktu, pikiran, dan yang bisa tidak luput adalah biaya. Kehadiran pasangan pun bisa memotivasi seseorang untuk meraih gelar. Hah, yang betul?

Seorang ustadz pernah membantah sebuah persepsi bahwa menikah saat kuliah itu akan mengganggu kuliah. Beliau menikah pada semester pertengahan lebih. Ternyata, prestasinya justru meningkat. IP-nya naik. Hal itu karena dorongan istri tercintanya, “Ayo, semangat! Kamu pasti bisa!”

Nah, dalam tulisan ini, sesuai judul di atas, justru tidak akan dibahas tentang gelar dari perguruan tinggi. Lho, kok bisa? Iya, sebab gelar dalam pembahasan selanjutnya adalah kata gelar yang berasal dari bahasa Jawa. Artinya adalah membentangkan.

Dan, kata gelar tersebut terbagi menjadi dua. Berikut penjabarannya.

Gelar Lapak/Dagangan

dua-gelar-yang-termasuk-terbaik-1

Gelar yang pertama adalah menggelar dagangan. Jualan istilah sananya. Seseorang yang menggelar jualannya bisa dalam bentuk fisik maupun nonfisik. Kalau fisik, contoh mudahnya adalah dengan menggelar lapak di pasar-pasar. Atau lewat kios-kios yang disewa dari pasar. Atau membuat toko sendiri.

Sedangkan menggelar dagangan dalam bentuk nonfisik, contoh yang juga mudahnya adalah melalui internet. Baik itu lewat website maupun toko online sendiri.

Bisa juga menggunakan platform media, misalnya: Facebook, Instagram, YouTube, maupun si hijau yang sangat populer, Whatsapp. Boleh juga melalui marketplace, seperti yang kita kenal dengan warna biru, merah, maupun hijau tersebut. Anda yang suka belanja online, pasti tahulah yang saya maksud.

Gelar dalam poin pertama ini semakin banyak dilakukan orang. Apalagi pada masa pandemi ini di saat mencari uang menjadi cukup sulit, berdagang adalah salah satu jalannya.

Kita bisa melihat dalam medsos, ada yang posting gambar jualannya. Ditambah dengan kalimat promosi, “Order, Sis!” atau “Open order, Sis!”, bahkan “Tarik, Sis!” yang ujungnya adalah menjual semangka, serta kalimat lainnya.

Baca Juga: Laris Sepanjang Masa

Begitu juga dalam status Whatsapp teman kita. Teman kita sendiri tidak jarang ada yang mengunggah gambar-gambar jualannya. Misalnya, seorang muslimah yang memposting gambar/foto jilbab syar’i di status WA-nya dengan kalimat, “Singgah ki, singgah belanja.”

Aneka jenis jualan, baik itu gamis, jilbab, cadar, baju koko, kurma, suplemen kesehatan, atau barang lainnya perlu kita apresiasi. Sebabnya adalah mereka berusaha untuk menjemput rezeki dari Allah secara halal.

Ingat ya, bukan mencari, melainkan menjemput rezeki. Kalau menjemput, rezeki itu sudah ada, tinggal diambil.

Sedangkan kalau mencari, maknanya rezeki itu hilang. Dan, mencari juga bisa diartikan barangnya belum tentu ada, belum tentu ketemu.

Seorang pengusaha yang berhasil, maka dia dapat membuka pintu rezeki bagi orang lain. Boleh jadi itu karyawannya, suppliernya, agen atau distributornya, tentu dengan keluarga mereka juga. Profesi inilah yang justru dibutuhkan untuk lebih memberdayakan ekonomi umat Islam.

Namanya jualan, pastilah ada tantangannya. Contohnya adalah barang yang kita jual tidak laku-laku, kalah persaingan, atau masalah keuangan. Pada akhirnya, menjurus kepada masalah yang lebih luas. Mungkin saja menjadi masalah dalam keluarga.

Ketika masalah tersebut semakin besar, bisa menyebabkan stres, depresi, dan sejenisnya. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Solusinya adalah dengan gelar yang kedua. Apa itu? Ganti paragraf dulu ya.

Gelar Sajadah

dua-gelar-yang-termasuk-terbaik-2

Ini yang perlu digelar dalam proses kedua. Menggelar sajadah. Makna lebih dalamnya adalah bermunajat dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Menggelar sajadah, bisa berarti sholat sunnah, dapat dilakukan sebelum kita berbisnis atau memulai aktivitas lain. Tujuannya jelas untuk meminta kelancaran dari Allah Ta’ala. Nanti, selesai berusaha, kita menggelar sajadah lagi, meminta kecukupan dan keberkahan dari Allah juga.

Dalam gelar kedua ini juga menjadi simbol bahwa kita sebagai manusia memang tidak ada apa-apanya. Sangat lemah di hadapan Allah.

Mungkin ada yang merasa punya uang banyak dari bisnisnya. Bisa kaya raya dari bisnis tersebut. Bahkan memamerkan kekayaan itu dengan membuat video-video viral. Katanya sih untuk memotivasi orang agar seperti itu, tetapi kok malah lebih pas ke ujub ya?

Kesimpulan

Menyatukan dua gelar itu memang mudah secara teori, tetapi bisa jadi sulit dalam kenyataan. Kita bisa melihat masih banyak pengusaha yang terlalu larut dengan bisnisnya hingga melupakan Allah. Lupa sholat, hingga lupa zakat maupun sedekah.

Padahal, kalau menggelar dagangan, tetapi membuat lupa dari Allah, lebih baik tutup saja usahanya! Sebab, toh tidak akan ada gunanya. Uang mungkin akan didapatkan, tetapi keberkahannya? Kenikmatannya? Itu yang mungkin akan hilang.

Jadi, menggabungkan dua gelar itu ke dalam diri kita, apalagi kita yang memang berprofesi sebagai pedagang atau pebisnis, bisa lebih bermanfaat daripada sekadar gelar akademis. Apalagi jika memang tidak punya gelar akademis.

Ah, banyak juga kok orang sukses yang tidak punya gelar akademis. Anda pasti tahu beberapa di antaranya ‘kan?

Semoga bermanfaat.

Waallahu ‘alam bisshawab

Baca Juga: Kisah Gadis dan Seorang Preman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here