Buat Apa sih Terlalu Banyak Dipikirkan?

0
266

Katanya, orang yang banyak pikiran itu menimbulkan efek tidak bagus. Jika orang itu masih remaja, maka biasanya akan tumbuh jerawat. Makin banyak pikiran, ya, bisa makin banyak jerawat. Pipi, kening, dagu, hidung sampai di telinga. Itu juga dialami oleh orang yang ingin sekali menikah. Hasratnya menggebu-gebu untuk dapat pasangan yang halal, tetapi apa daya, selalu saja ada aral yang cukup terjal. Entah itu perkara uang, dana, maupun yang lainnya.

Sementara bagi yang sudah menikah, banyak pikiran bisa menimbulkan stres. Depresi. Muncul pula penyakit-penyakit khas, misalnya: diabetes, asam urat, gangguan pencernaan dan lain sebagainya. Pikiran manusia itu terbatas, tidak bisa menampung banyak beban. Cobalah ketika banyak pikiran, Anda curhat saja ke Allah. Kembalikan semuanya ke Allah. Niscaya beban pikiran Anda jadi lebih berkurang.
Nah, kali ini, kita akan berbicara sedikit tentang orang yang banyak pikiran, tetapi justru menyimpang, menyangkut tauhid, lebih tepatnya tauhid asma wa shifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Cerdas Tidak Selalu Berkelakuan Pantas

Baiklah, ada memang orang yang secara kemampuan dikatakan cerdas. Dia cerdas dalam membawakan materi, membuat orang lain terkesima dengan ucapannya, bahkan yang melihat serasa tidak bergerak sedikit pun. Ketika menerbitkan karya, juga langsung meledak. Bukan meledak bukunya, melainkan isinya dikagumi plus disenangi oleh banyak orang. 
Namun, cerdas dari segi pemikiran, tidak selalu diimbangi dengan cerdasnya hati. Bahkan, yang lebih berbahagia, eh, berbahaya itu adalah merasa dirinya cerdas, otaknya cerdas, terus menjadi sombong, meremehkan orang lain, ujung-ujungnya malah menyesatkan orang lain. 
Mungkin Anda masih ingat tulisan yang lalu, tentang Wasil bin Atha. Dia adalah murid dari Hasan Al-Basri Rahimahullah. Siapa yang menyangkal bahwa Si Wasil ini cerdas luar biasa? Meskipun tidak bisa mengucapkan huruf ra, tetapi ketika disuruh pidato secara tiba-tiba, dia mampu membawakan dengan baik. Ingat, tanpa mengucapkan kata atau kalimat dengan huruf ra sama sekali, lho! 
Dia dengan cepatnya mengganti kata atau kalimat itu dengan yang sepadan. Sinonimnya. Dari situ, selain kita bisa mengetahui cerdasnya Wasil ini, ternyata zaman dulu sudah ada yang ngeprank ya? Mungkin kabar tersebut langsung viral pada saat itu, meskipun belum ada medsos. 
Akan tetapi, sekali lagi, cerdasnya pemikiran, malah membuat Wasil menyimpang dari jalan yang lurus. Dia menjadi pendiri Mu’tazilah. Andaikan dia tidak terlepas dari bimbingan dan arahan dari Hasan Al-Basri Rahimahullah, maka niscaya dia masuk tabiut tabi’in, masuk golongan yang mulia. Tiga generasi terbaik umat ini. 

Sudahlah, Begitu Mi Saja!

Ada anak muda yang bilang, sudahlah, yang sudah berlalu, biarkanlah berlalu. Biarkanlah masa lalumu itu tenggelam bersama waktu. Sepertinya dia sedang menghibur teman yang sedang sedih dan galau. Ah, buat apa sih terlalu sedih, dunia ji ini! Tidak ada yang namanya bahagia terus, begitu pula sebaliknya, tidak ada yang sedih terus. Bahagia selamanya nanti di surga, sengsara seterusnya di neraka. 
Kata “sudahlah” memang cocok untuk membahas tauhid, termasuk asma wa shifat Allah Ta’ala. Allah jelas berbeda dengan makhluk-Nya. Allah punya tangan, punya kaki, tetapi jelas sekali tangan dan kaki Allah berbeda dengan manusia, atau dengan makhluk yang lain. Para salaf, generasi terbaik dulu, tidak mengutak-atik dalil tentang nama dan sifat Allah. Dibiarkan begitu saja. Tangan Allah ya seperti itu, kaki Allah juga seperti itu. Cukuplah kita tahu bahwa Allah punya tangan dan kaki. Mengenai bentuknya, wa’allahu alam
Dalam bagian yang lain, ketika sepertiga malam, Allah turun ke langit dunia. Mengenai bagaimana turunnya Allah, terus apakah singgasana Allah di atas arsy menjadi kosong, ini termasuk perkara yang gaib. Sulit sekali dipikirkan oleh manusia. Kita berhenti saja dari membahas hal-hal seperti itu, karena cuma diketahui oleh Allah. 
Nah, ada kelompok yang jahil dalam perkara ini. Contohnya adalah Asy’ariyah. Mereka berpandangan tidak mau menyamakan Allah dengan makhluk, tetapi justru malah menyimpang. Lho, bagaimana itu? Misalnya, tangan Allah diartikan dengan kekuasaan Allah. Ini ‘kan tidak sesuai dengan makna aslinya. Apakah generasi salaf dulu memberikan makna bahwa tangan Allah itu berarti kekuasaan Allah? Tentunya tidak sama sekali! 
Kalau ada orang yang mentakwil seperti itu, berarti dia mendustakan Allah dan rasul-Nya. Dalam Al-Qur’an, ada ayat-ayat mutasyabihat yang ada kaitannya dengan nama dan sifat Allah. Ayat-ayat tersebut bisa disalahartikan oleh orang jahil untuk membodohi atau menjahili orang yang jahil juga. Waduh, jahil kuadrat ini namanya!
Ayat-ayat itulah yang sering dimainkan, diselewengkan dan ditempatkan secara tidak benar oleh orang-orang yang sejatinya mereka jahil, meskipun kelihatannya memang cerdas. Sedangkan ayat-ayat muhkam adalah ayat-ayat yang terang. Ini sudah langsung bisa dimengerti oleh kita kaum muslimin.
Sementara bagi orang yang mengingkari nama dan sifat Allah, dia bisa menjadi kufur. Meskipun yang diingkari itu adalah satu ayat saja, tetapi ancamannya tetaplah azab yang pedih dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Naudzubillah min dzalik.


Ada Udang di Balik Kerupuk

Mungkin Anda pernah mendengar kelompok-kelompok yang menisbatkan atau menganggap dirinya sebagai muslim, bahkan menamakan diri pula dengan ahlus sunnah wal jamaah. Seperti kelompok Syiah. Kelompok ini termasuk yang paling parah dalam menyerang kaum muslimin, baik dari segi pemikiran maupun pergerakannya. 
Siapa yang mendirikan Syiah? Dia adalah seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba. Pura-pura masuk Islam, lalu merusak Islam dari dalam. Atau kelompok lain yang derajat penyimpangannya tidak seekstrim Syiah, tetapi yang ini sampai menolak adanya adzab kubur. Alasannya karena dalil-dalil yang ada termasuk hadits ahad. Artinya, hadits yang dibawakan oleh seorang perawi saja.
Selanjutnya, ada pemikiran sufi yang terus mencari hakikat dari agama ini, tetapi mereka malah lupa dengan syariat. Berusaha untuk menemukan 10 juz Al-Qur’an lagi karena anggapan mereka kitab suci agama ini adalah 40 juz! Lha wong, yang 30 juz saja belum tentu mereka baca kok! Malah mau cari yang di luar akal. Yang di dunia nyata, mereka belum tentu membaca dan mengamalkan, eh, malah mau cari di dunia maya. Haduh…
Yakinlah, bahwa kelompok-kelompok menyimpang dari agama ini bisa diciptakan atau didirikan oleh orang-orang yang tidak suka dengan agama Islam yang mulia. Mereka melancarkan propaganda dan syubhat-syubhat agar kaum muslimin tergelincir, hingga aqidahnya ikut terjungkir.
Muncul juga beberapa tahun yang lalu, oknum mengatasnamakan Islam, tetapi melakukan tindakan terorisme. Tidak cuma itu, digembar-gemborkan bahwa yang berjenggot, bercelana cingkrang, berjilbab besar, bercadar dan membawa Al-Qur’an adalah kelompok teroris. Padahal, bisa jadi, yang melakukan tindakan teror itu adalah oknum. Atau orang tersebut sengaja dipasang, sebagai tameng dari musuh-musuh Islam untuk merusak Islam dan menghancurkan dari dalam.
Padahal, kalau diambil logika sebaliknya, koruptor itu rata-rata pakai setelan jas dan dasi. Nah, apakah orang yang pakai setelan jas dan dasi sekarang ini langsung dianggap sebagai koruptor? Kan jelas tidak. Jadi, jika pakaian dikaitkan dengan pemikiran atau pemahaman yang menyimpang dan jauh dari Islam, maka perlu dicek kadar pikirannya deh!
Menghadapi kelompok semacam mereka itu, andaikan kita bertemu dan mereka bertanya, kita ini ikut kelompok yang mana? Maka, jelas dan tegas jawabannya bahwa kita adalah kelompok yang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Jika sudah begini, maka biasanya mereka akan terdiam. Kecuali, bila ada serangan syubhat lagi, maka kita mesti berhati-hati. Waspadalah, waspadalah!

Wa’allahu alam bisshawab
Sumber: 
Ta’lim rutin pada Selasa, 11 Maret 2020, oleh Ustadz Akbar Jabba, S.Pd.I (Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana), dengan tema “Pembahasan Kitab Tauhid”, di Masjid An-Nur, Ponpes Al-Wahdah, Bombana. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here