Bersama Teman Sampai ke Ujung, Apakah Beruntung?

3
257

 

Teman yang Baik Bisa Membuat Ibadah Kita Juga Makin Naik

Setiap orang sebenarnya pastilah memiliki teman. Mulai dari anak kecil, remaja, dewasa sampai orang lanjut usia. Teman adalah orang yang kenal dengan kita, dekat dengan kita, menghabiskan waktu bersama dan bisa membuat hidup menjadi lebih hidup.

Teman yang notabene adalah manusia juga (kecuali ada yang berteman dengan jin), pastilah memiliki dua sisi. Kadang bisa menampakkan sisi baik, kadang pula sebaliknya. Namun, secara umum, teman kita menampilkan sisi yang cenderung bagaimana? Sifat aslinya seperti apa? Mengenai karakter teman, akan dibahas sedikit pada tulisan kali ini. Yuk, simak ya!
Kisah Abu Thalib
Masih ingat dengan nama Abu Thalib? Ya, beliau adalah paman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Menurut Anda, Abu Thalib itu meninggal dalam keadaan apa? Tentulah, mungkin di antara Anda menjawab: Meninggal dalam keadaan mata terpejam. Kalau ini sudah pasti. Namun, apakah meninggal dalam keadaan Islam atau kafir? Untuk lebih tahu secara cukup mendalam, silakan masuk DI SINI.
Menurut riwayat yang ada, Abu Thalib meninggal dalam keadaan kafir. Hal ini dipengaruhi oleh tokoh Quraisy pada saat itu, yaitu: Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Mereka adalah gembong kafir Quraisy. Nah, karena pengaruh dari teman jahiliyah semacam itu untuk tidak meninggalkan agama Abdul Muthalib, akhirnya Abu Thalib meninggal bukan dalam agama Islam. Akhirnya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Naudzubillah min dzalik Ada satu lagi yang perlu diingat, yaitu: kita tidak boleh mensholatkan jenazah orang kafir, termasuk pula mendoakannya. Terkait dengan itu, silakan meluncur KE SINI.
Penyebab kekafiran tersebut juga rasa tidak enak, kepada teman, bahkan keluarga. Meskipun tidak sedang memakan kue, tetapi kalau perasaan tidak enak muncul, maka yang ada adalah ketidaknyamanan timbul. Nanti akan dilanjutkan pada paragraf-paragraf selanjutnya ya? Tetap staytune di sini!
Lihat Teman Kita
Sejarah akan selalu berulang. Begitulah kenyataan yang ada. Kisah pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam itu dapat terjadi pada masa sekarang ini. Terjadi bila kita memilih teman yang salah. Jika mendapatkan teman perokok, suka mabuk (ini karena minuman keras, bukan naik mobil), suka berzina, maka bisa jadi kita akan ikut-ikutan. Akan terpengaruh. Padahal hidup ini sebenarnya cuma dua. Kalau kita tidak bisa mewarnai, maka kita yang akan diwarnai. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan pelajaran TK.
Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mencari teman-teman yang baik. Teman yang akhlaknya kurang baik, boleh tetap kita kenal, tetapi kita harus terus memegang prinsip keimanan. Manusia memang berbeda dengan magnet. Kalau magnet, kutub yang sama akan tolak-menolak, sedangkan manusia sifat yang sama, justru tarik-menarik. Itulah yang membuat kita ditentukan oleh siapa teman kita. Aktivis masjid yang masih muda cenderung akan bergaul dengan sesama remaja masjid. Ibu-ibu penggosip juga akan membentuk “komunitas” penggosip. Bapak-bapak pecinta sepakbola, selalu berkumpul untuk menonton bola yang diperebutkan oleh 22 orang. Dan lain sebagainya. Pertanyaannya di sini, siapakah teman kita sesungguhnya?
Jangan Baper
Kata baper ini sebenarnya mirip dengan nama jenis makanan. Anda pasti tahu itu, karena mungkin menjadi makanan kesukaan Anda di saat senggang. Baper bisa berarti: bawa perasaan. Sering dipakai oleh para remaja kita menanggapi aneka macam hal terkait dengan perasaan, biasanya seputar cinta. Ada video orang menikah, bikin baper. Video orang walimah, juga bikin baper. Ada gambar orang sudah dinyatakan secara halal hubungannya, bikin baper lagi. Ini jelas karena yang baper itu masih belum menikah alias jomblo. Marilah kita doakan agar para jomblo segera menikah. Aamiin…
Lihat Foto Ini, Jangan Sampai Baper Ya!
Dalam dakwah itu, juga jangan sampai baper. Lho, kok bisa? Jelas ini harus ditanamkan dalam setiap dai. Bahwa mengajak orang untuk ke arah kebaikan, itu perlu dan harus. Namun, sering ditemukan, ada yang mau, ada pula yang melengos alias langsung ambil langkah seribu. Wajar ‘kan kalau memang sudah begitu hasil atau keadaannya. Bagi yang mau ikut ajakan kita, Alhamdulillah. Yang belum, terus ajak dan jangan lupa pula didoakan.
Bila jangan baper ini sudah ada dalam diri da’i, maka dakwah itu menjadi nyaman. Kita sudah berusaha ajak dan hidayah memang dari Allah. Yang penting, janganlah kita berhenti untuk terus berdakwah!
Setiap da’i juga jangan merasa berjasa jika ada orang yang telah berubah atau berhijrah. Sebab, itu akan membuatnya jadi ujub atau berbangga diri. Cukuplah bersyukur kepada Allah, apabila dari usaha kita membuat orang jadi lebih dekat kepada Allah.
Jalan Bersama Teman yang Sholeh, Akhirat Dapat, Dunia Takkan Terlewat
Selain itu, sebelum tulisan ini ditutup, yuk, kita tanamkan sifat belum merasa aman di dunia ini. Kita baru bisa merasa aman jika sudah betul-betul menginjak surga. Saat di dunia ini, kita harus senantiasa berdoa memohon hidayah dan petunjuk. Hidayah bisa tiba-tiba dicabut oleh Allah. Naudzubillah min dzalik. Yuk, kita menjaga diri dengan memilih teman-teman yang baik dan sholeh. Berguna di dunia, juga sampai ke akhirat. Bukankah ujung kita adalah akhirat?
Oleh: Rizky Kurnia Rahman

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here