Beberapa Hal yang Menjadi Ujung Akhir, Kembali Lagi ke Awal!

1
189

Mungkin kita pernah mendengar ada orang yang bisa meramal hari kiamat terjadi pada tanggal di tahun sekian dan sekian. Ramalan tersebut disebarkan pula oleh orang-orang yang belum paham melalui berbagai media. Alhasil, banyak juga yang percaya. Hal itu tidak terlepas pula dari kredibilitas si peramal dalam meningkatkan karier keperamalannya.

Padahal, jika mau mencermati lebih jauh, peramal pastilah dia sudah berbuat syirik. Karena bisa memprediksi perkara gaib. Padahal, untuk urusan gaib, Allah yang lebih tahu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga tidak semua mengetahui yang gaib. Sekali lagi, peramal memang dilarang dalam Islam, sedangkan pelamar justru sangat dianjurkan. Namun, ingat ya, ketika pelamar ditolak, jangan langsung datang ke peramal ya! Masa, masih mau percaya, cinta ditolak, dukun bertindak?!

Rukun Islam, Rukun Iman, Ihsan dan Hari Kiamat

Dahulu, ketika kita masih menjadi anak-anak yang belajar di sekolah, pastilah diajarkan tentang rukun Islam dan rukun iman. Ada lima bentuk dari rukum Islam dan enam bentuk dari rukun iman tersebut. Anda masih ingat? Mungkin Anda masih ingat pula guru yang mengajar pada saat itu? Ya, karena sudah lama, ada yang sudah lupa, ada pula yang sudah tidak ingat lagi.

Pada subjudul ini, disebutkan dalam hadits kedua pada kitab yang sangat terkenal dari ulama yang sangat terkenal pula, yaitu: kitab Arbain An-Nawawiyah dengan penulis Imam Nawawi Rahimahullah. Sebuah kitab yang tidak hanya terkenal bagi kalangan penuntut ilmu syar’i, tetapi juga bagi orang awam.

Hadist yang kedua yang dimaksud sebagai berikut:


عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata:
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata, “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam!”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab,”Islam adalah engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya.” Lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, dia yang bertanya, dia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman.”
Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; para Rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang ihsan.”
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no.8]
Cukup panjang ‘kan hadistnya? Meskipun panjang, tetapi Insya Allah menjadi bagian yang sangat bermanfaat bagi kita umat Islam.

Pentingnya Hadits Ini

Pada hadits yang kedua dari kitab Arbain An-Nawawiyah ini disebutkan ummu sunnah oleh Taqiyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ al-Qusyairi al-Manfaluthi ash-Sha’idi al-Maliki asy-Syafi’i atau yang lebih dikenal dengan Imam Ibnu Daqiq al-Id Rahimahullah

Dikatakan juga oleh Abdurahman ibn Syihab al Din Ahmad ibn Rajab ibn Abd al Rahman ibn Hasan ibn Muhammad ibn Abi al Barakat Mas’ud al Hafidz Zain al Din Abu al Faraj al Baghdadiy al Dimasyqiy al Hanbaliy atau Imam Ibnu Rajab an-Hanbali Rahimahullah, apapun dasar ilmu para ulama, maka akan kembali ke hadits ini. Masya Allah.

Kaum Qadariyah

Meskipun diriwayatkan atau yang pertama dari Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu, tetapi yang mempopulerkan hadits ini adalah anaknya, yaitu: Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu


Dalam riwayat Muslim, dari Yahya bin Ya’mar, sesungguhnya ia berkata: “Orang yang pertama kali berbicara tentang al qadr di Basrah adalah, Ma’bad al Juhani.” Dia menganut paham Qadariyah. Apa itu paham Qadariyah? 
Menurut paham atau madzhab ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mentaqdirkan sesuatu dan Dia tidak mengetahuinya. Menurut paham sesat Qadariyah, Allah mengetahui setelah kejadian itu terjadi. Dari pemahaman ini, berarti ada dua kesimpulan. Pertama, ingkar terhadap ilmu Allah sebelum sesuatu itu terjadi. Kedua, berarti hamba itu terjadi dengan sendirinya, bukan dari Allah.

Mengetahui adanya orang yang sesat tersebut, Yahya bin Ya’mar berbicara kepada Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu. Jelas, anak dari sahabat besar yang dijamin masuk surga tersebut, berubah mukanya, marah. Lalu, yang dikatakan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu? Beliau dengan tegasnya mengatakan bahwa, “Abdullah bin Umar berlepas diri dari dia dan dia berlepas diri dari Abdullah bin Umar.” Artinya dalam hal ini, Ma’bad al Juhani dikafirkan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu.

Kaum Qadariyah adalah majusinya umat ini. Menurut Syekh Utsaimin Rahimahullah, mereka mirip penyembah api. Kalau orang Majusi, mereka percaya dengan dua pencipta, yaitu: cahaya dan kegelapan. Sedangkan kata kaum Qadariyah, ada dua pencipta juga, yaitu: kehendak Allah dan manusia.

Paham ini berbeda dengan Jabariyah. Menurut pengertiannya, Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah. Artinya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya.

Kesimpulan

Rukun Islam yang lima dan rukun iman yang enam memang harus diyakini oleh setiap muslim. Termasuk dalam hal ini adalah ihsan dan hari kiamat besar. Hal yang disebutkan terakhir ini jangan lagi menjadi kepercayaan bagi sebagian orang Islam tentang tanggal terjadinya. Bahkan malaikat Jibril Alaihis Salam dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dua hamba Allah yang termasuk paling dekat dengan-Nya, juga tidak tahu. Cukuplah dari dalil-dalil yang shohih tentang tanda-tandanya sebagaimana disebutkan dalam hadits yang mulia ini. 

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Apakah sudah banyak terjadi tanda-tanda hari kiamat? Sebagaimana yang pernah disebutkan dan mungkin pernah kita lihat, bahwa memang kiamat sudah dekat. Bahkan yang lebih tepatnya lagi adalah memang kiamat semakin dekat!

Wa’allahu alam bisshawab

Sumber:
1. Ta’lim rutin Arbain An-Nawawiyah oleh Ustadz Musmuliadi, S.H, di Masjid Nurul Tarbiyah SMAN 03 Bombana, Kec. Rumbia, pada tanggal 3 Rajab 1441 Hijriyah / 27 Februari 2020, antara Maghrib-Isya.
2. Situs internet: https://almanhaj.or.id/2983-mengikuti-manhaj-salaf-dalam-segala-hal.html
3. Situs internet: https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Daqiq_al-Ied
4. Situs internet: https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Rajab
5. Situs intenet: https://id.wikipedia.org/wiki/Jabariyah

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here