Antara Tampak dan Tidak Tampak Serta Kaitannya dengan Nilai Pelajaran Sekolah

0
232
antara-tampak-dan-tidak-tampak-1-cover

Pohon yang tinggi memang akan mendapatkan angin yang lebih besar. Kalau dia berbuah, juga masih akan “diserang” oleh anak-anak demi mendapatkan buahnya tersebut.

Itu adalah menjadi perumpamaan dari kehidupan manusia. Makin tinggi kedudukannya, maka godaannya juga akan makin besar.

Hal itu bisa menimpa segala tipe manusia. Seperti orang yang punya jabatan tinggi, maka peluang untuk terpelesetnya juga besar. Bahkan, kita sering dengar, jabatan tinggi, tetapi kok korupsi? Padahal dari segi penghasilan, sudah wah dan luar biasa! Apa yang masih kurang?

Bisa juga menimpa aktivis dakwah. Dia berinteraksi dengan segala jenis orang, bisa juga tergelincir untuk melakukan tindakan-tindakan yang mencoreng namanya. Apalagi jika dia dibesarkan oleh media publik, maka bisa turun juga gara-gara media publik tersebut.

Baca Juga: Sholat Seperti Naik Pesawat, kok Bisa?

Atau dalam dunia artis. Ketika orang sudah jadi artis, maka siap-siap saja wilayah privatnya menjadi konsumsi publik. Seakan-akan sudah tidak ada rahasia lagi.

Terlebih santapan media infotainment ya memang artis. Ke mana-mana si artis tersebut akan selalu menjadi berita. Tentu, kondisi tersebut sangatlah tidak nyaman, meskipun bergelimang harta. Namun, herannya, kok masih sangat banyak orang yang tergiur ingin jadi artis ya?

Dilihat dari Penampilan

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas hafidzahullah pernah mengatakan bahwa hati-hati ketika seorang bapak menerima lamaran untuk anaknya. Jangan terkecoh dengan penampilan yang seakan-akan sesuai sunnah. Berjenggot, celana di atas mata kaki, tetapi pemahamannya bisa jadi Khawarij.

Atau bisa juga, dia orang Syiah yang sedang taqiyah alias sedang menyamar agar dianggap ahlussunnah. Intinya, penampilan bisa menipu. Penampilan bisa mengecoh.

Seperti sebuah video beberapa waktu lalu yang memperlihatkan seseorang pakai cadar. Terlihat seperti perempuan tulen. Namun, setelah dibuka, Subhanallah, ternyata laki-laki! Sempat beredar isu juga tentang laki-laki yang menyamar jadi akhwat bercadar demi melakukan kejahatan. Hati-hati!

Islam memang mengajarkan bahwa penampilan itu sangatlah penting. Namun, penampilan yang seperti apa dulu? Karena penampilan itu banyak sekali jenisnya. Banyak sekali contohnya.

Sebagai orang Islam, tentu yang menjadi contoh adalah penampilan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun, tidak bisa dicontoh semuanya dan plek sama persis. Sebab, penampilan itu juga terkait dengan budaya masing-masing. Penampilan yang terbaik itu justru sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat selama tidak melanggar syariat.

Kalau di suatu tempat tersebut, sering dipakai kemeja batik, maka pakai saja batik. Atau tutup kepala dengan songkok nasional, pakai saja itu. Kain bawah tetap di atas mata kaki. Tidak masalah, karena sudah menyesuaikan dengan kebiasaan lokal di situ.

Khawatirnya, kalau penampilan yang sangat berbeda dengan kebiasaan masyarakat, ujung-ujungnya jadi “terkenal”. Tampil beda. Sangat berpeluang untuk riya atau ingin dipuji orang lain. Jadi, yang wajar-wajar saja, lah, karena syariat Islam ini sangat luwes. Asal tetap dalam koridor syariat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman sahabat radhiyallahu anhum ajma’in.

Menyasar Kepada Keislamannya

Saat ada seorang muslim maupun muslimah terbukti melakukan kesalahan, biasanya kalangan warganet langsung menyerang lewat bullian. Apalagi jika muslim maupun muslimah itu telah lama menjadi tokoh publik. Bertubi-tubi melontarkan komentar menggosok hati si tokoh tersebut. Membuatnya jadi tidur tak nyenyak, makan tak enak.

Namanya juga media sosial, yang sebagian besar memang gratis. Media ini sering memperlihatkan jempol lebih cepat bergerak daripada otak yang berpikir. Yang penting komentar, yang penting share. Perkara akibatnya atau ada konsekuensinya, itu nanti. Masih bisa dipikirkan di kemudian hari. Subhanallah.

Padahal, media sosial ini memang pedang bermata dua. Sangat bisa dipakai untuk kebaikan, untuk dakwah, tetapi di sisi lain, untuk menyerang personal lain.

Pada akhirnya, serangan itu bukan ke penampilannya, melainkan lebih jauh lagi ke keislamannya. Misalnya kalimat: “Pakai jilbab kok gitu kelakukannya?”, atau “Masa sudah terkenal rajin sholat, masih juga maksiat?”

Teman saya pernah mengatakan, “Sudah sholat saja masih korupsi ya, Mas?!” Dia mencela seorang pejabat yang terlihat sholeh, tetapi terjerumus ke dalam perbuatan korupsi dan akhirnya masuk penjara.

Celaan-celaan seperti Islam kok gitu, pada dasarnya secara langsung maupun tidak langsung, telah mencela Islam. Padahal, Islam ini agama yang benar, suci, dan akan terus terjaga. Ketika ada kesalahan, maka itu adalah sebagian pelakunya. Tidak bisa dong digeneralisir, seakan-akan orang Islam begitu semua.

Baca Juga: Lucu bin Aneh

Muslimah berjilbab melakukan kesalahan, dapat terjadi hal yang demikian. Namun, tetap harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, yang lebih besar. Ya, dia sudah berbuat salah, berbuat dosa, tetapi Alhamdulillah, masih berjilbab. Masih mau sholat, masih mau mengaji, masih mau berdakwah, masih mau tarbiyah. Itu yang juga harus dilihat.

Sebab, ada juga orang yang sudah berbuat kesalahan, lalu dia melupakan agamanya. Melupakan akhiratnya. Akhirnya semakin larut dan larut ke dalam fitnah dunia. Ujungnya, saat jiwanya hampa, diambillah tindakan yang sangat buruk. Bunuh diri. Naudzubillah min dzalik.

Ketika ada muslimah berjilbab melakukan kesalahan, maka mesti dimaafkan jika menyangkut urusan manusia. Pahamilah bahwa siapa saja bisa berbuat salah.

Nilai Pelajaran Sekolah

Hal ini yang mungkin belum disadari oleh banyak orang, karena memang sudah bukan lagi masa sekolah. Apakah itu?

Ini menyangkut dengan nilai pelajaran di sekolah. Contohnya, dalam pelajaran Matematika, seperti yang banyak ditakuti oleh murid. Apakah Anda juga seperti itu dahulu?

Dalam sebuah soal Matematika, ada sepuluh nomor. Seorang murid bisa mengerjakan dengan benar tujuh soal, tetapi salah di tiga nomornya. Kalau dari nilai, maka dia akan mendapatkan 7. Alhamdulillah, nilai yang lumayan.

Nah, mungkin saja, ada orang tua yang tidak melihat nilai 7 itu, tetapi menyasar tiga nomor yang salah.

“Kenapa kamu salah tiga nomor ini?! Seharusnya kamu benar semua!”

Anak yang diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya, jelas dia akan down. Lha wong sudah benar tujuh nomor kok, malah itu tidak diapreasiasi. Jangankan dipuji, dilirik saja tidak! Namun, ketika ada kesalahan, langsung diserang bertubi-tubi.

Hal tersebut bisa saja menimpa dalam suatu komunitas pendidikan. Saat ada murid yang berprestasi, tidak dianggap apa-apa. Akan tetapi, ketika salah, maka dia mendapatkan hukuman yang cukup berat. Hukuman yang kurang cocok. Atau hukuman yang mempermalukan. Atau hukuman yang membuatnya seperti terbenam ke dalam bumi dan tidak ingin muncul lagi.

Apalagi dalam kaidah pendidikan kita, setiap anak pasti punya potensi masing-masing. Misalnya, dalam pelajaran Matematika unggul, tetapi Bahasa Inggris melempem. Orang tua atau guru difokuskan saja ke pelajaran Matematika itu, sedangkan di Bahasa Inggris tetap diberikan perhatian, tetapi frekuensinya berbeda.

Kesimpulan

Manusia jelas bukan malaikat yang tidak pernah berbuat dosa. Manusia juga bukan setan yang tidak pernah berbuat baik. Manusia berada di tengah-tengahnya. Kadang benar, kadang salah.

Namun, manusia menghukumi hanya yang tampak. Sebab, urusan hati adalah urusan dia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tatkala luarnya masih mempunyai ciri keislaman, seperti berpenampilan syar’i, maka Insya Allah itu yang menjadi poin unggul pada dirinya.

Meskipun seorang muslim maupun muslimah tergelincir atau terpeleset ke dalam dosa, maka yakinlah bahwa Allah Maha Pengampun. Meskipun Allah juga menyediakan neraka bagi orang-orang yang berdosa, mau itu muslim maupun bukan, tetapi dalam diri seorang muslim atau muslimah, mesti ada keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pengampun dan sebaik-baik pengampun.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).

Waallahu ‘alam bisshawab

Referensi: Rumaysho.com

Baca Juga: Menjadi Muslimah yang Bersemangat Menuntut Ilmu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here