7 Hikmah dari Musibah Kecelakaan Pesawat Terbang Sriwijaya Air SJ-182

0
385
sriwijaya-air-sj-182

Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Sungguh kalimat tersebut memang pantas kita ucapkan berkaitan dengan musibah kecelakaan jatuhnya pesawat Sriwijaya di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (09/01).

Kejadian kecelakaan pesawat terbang Sriwijaya Air SJ-182 memang menjadi peristiwa yang sangat mengagetkan kita. Kemungkinan banyaknya korban jiwa membuat batin kita tersentak. Padahal, dalam berita-berita nasional, kita melihat selalu ada yang meninggal dunia karena covid-19. Namun, kok rasa-rasanya biasa saja? Rasanya seakan-akan menjadi hal yang tidak lagi jadi perhatian.

Ada yang meninggal karena covid-19, mungkin ada yang mengatakan, “Ohh, hari ini segini ya? Kemarin gak segini.” Setelah itu, biasa saja. Biasa lagi. Padahal toh nyawa orang juga. Betul tidak?

Fenomena mendengar orang meninggal karena corona yang dianggap biasa makin membuat orang jadi abai terhadap protokol kesehatan yang digaungkan pemerintah dan lembaga lainnya. Sedangkan pada kecelakaan pesawat terbang Sriwijaya Air SJ-182 menjadi buah bibir karena selama ini kita tidak pernah mendengar adanya pesawat jatuh. Terakhir kali Lion Air JT-610 jatuh pada (29/10/2008) dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang.

Hilang Kontak

Sumber: Daily Motion

Sebelum jatuh, terjadi hilang kontak hanya empat menit setelah lepas landas. Jenis pesawat maskapai Sriwijaya Air tersebut berjenis Boeing 737-500 dengan kode registrasi PK-CLC.

Beberapa fakta yang terjadi sebelum kejadian adalah pesawat tersebut mengalami delay. Menurut jadwal, lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Pontianak seharusnya pada pukul 13.25 WIB. Namun, karena alasan atau faktor cuaca, baru terbang pukul 14.36 WIB.

Isi pesawat menampung 43 penumpang dewasa, 7 penumpang anak, 3 penumpang bayi, dan 12 kru. Menjelang terjadinya hilang kontak, pilot sempat meminta naik ke ketinggian 29.000 kaki. “Pada pukul 14.37 WIB, kapten pesawat meminta naik ke ketinggian 29.000 feet (ketinggian jelajah). Dinyatakan hilang kontak pada pukul 14.40 WIB,” kata Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan.

Baca Juga: The Central of Point

Juru Bicara Menteri Perhubungan, Adita Irawati, mengatakan bahwa posisi terakhir pesawat diketahui berada di atas Kepulauan Seribu. Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Badan SAR Nasional Mayjen TNI (Mar) Bambang Suryoaji di Kantor Basarnas menuturkan, pihaknya menerima kabar hilangnya pesawat pukul 14.55 WIB.

Pencarian dilakukan bersama oleh Basarnas, TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, dan masyarakat di lokasi yang diduga sebagai titik terakhir pesawat terpantau radar mulai pukul 17.00 WIB.

Biasanya, berkaitan dengan kasus kecelakaan pesawat, sering dipertanyakan tentang kondisi pesawat, apakah memang layak terbang? Jangan-jangan keluaran lama?

Menanggapi hal tersebut, pemerhati penerbangan, Yayan Mulyana, mengatakan bahwa pesawat masih layak terbang. Teknologi pada pesawat ini dengan tenaga dua mesin CFM56-3C1 besutan CFMI, perusahaan milik bersama Safran Aircraft Engine dari Perancis dan GE Aviation dari Amerika Serikat.

“Tapi sayapnya sudah ada flip, jadi ini termasuk keluaran akhir dari Boeing 737 seri 500,” tutur Yayan Mulyana, Sabtu (9/1/2021) petang.

Menimbulkan Kesedihan

Setiap penumpang yang menjadi korban dari kecelakaan tersebut pastilah memiliki keluarga. Bisa jadi korban adalah suami, istri, anak, sepupu, paman, bibi, kakek, nenek, teman, tetangga, rekan kerja, atasan, bawahan, atau posisi lain pada seseorang.

Mungkin dia ayah dari anaknya, tetapi di sisi lain menjadi atasan di kantornya. Setiap manusia bisa menjalani peran yang beraneka macam. Anda juga begitu bukan?

Kabar duka yang sampai ke telinga pihak keluarga dapat memancing air mata ke luar tanpa bisa dibendung lagi. Dari yang sebelumnya bersama, kini sudah tidak lagi.

Kenangan indah yang pernah terjalin menjadi kenangan yang terjadi sekali saja dan terakhir kalinya pula. Hanya tangis sebagai wujud kehilangan pada hati orang-orang tercintanya.

Akan tetapi, setiap kejadian di dunia ini pastilah ada hikmahnya. Semua pastinya berjalan dengan takdir dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini ditegaskan dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk ciptaan-Nya semejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim).

Takdir di Lauhul Mahfudz memang tidak pernah berubah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui takdir tersebut, kecuali setelah terjadi.

Kalau demikian halnya, maka kejadian apapun pastilah mendatangkan hikmah. Dan, ada beberapa hikmah dari peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

1. Dimulai dari Niat yang Baik

Memulai dengan Niat yang Baik

Niat itu tempatnya memang di hati. Tidak ada yang tahu niat kita, kecuali kita sendiri dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang lain bisa tahu niat kita jika kita sendiri yang mengatakan kepadanya.

Pentingnya masalah niat tercantum dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang mulia. Umar bin Khaththab Radhiyallahu ’Anhu berkata, ”Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya’.” (HR. Bukhari & Muslim).

Perbuatan yang terlihat amalannya besar, ternyata dapat jadi kecil di hadapan Allah karena niat yang salah. Begitu pula yang terlihat remeh, justru pahalanya besar juga karena niat.

Sebelum melakukan apapun, kita cek, apakah niat kita yang sesungguhnya? Dalam bekerja misalnya, apakah bekerja hanya untuk menggugurkan kewajiban masuk kantor? Atau hanya untuk mendapatkan gaji di awal bulan? Atau berniat untuk memperoleh rezeki yang halal demi menafkahi anak dan istri?

Termasuk dalam hal ini adalah niat dalam melakukan perjalanan. Mungkin kita pernah mengetahui bahwa perjalanan atau safar itu adalah bagian dari adzab? Ternyata, itu disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar adalah sepenggal dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari nomor 1804 dan Muslim nomor 1927).

Mungkin ada yang bertanya, itu ‘kan safar zaman dahulu, jelas suatu siksaan karena menggunakan unta, kuda, bahkan berjalan kaki. Melewati padang pasir yang tandus. Kalau musim panas, panas sekali. Jika tiba musim dingin, dingin sekali.

Kalau sekarang, perjalanan sudah sangat bagus. Naik mobil saja sudah merasa nyaman. Kalau panas, tidak kehujanan. Begitu pula saat kehujanan, tidak kepanasan.

Termasuk dalam hal ini, contohnya pesawat Sriwijaya Air dan maskapai lainnya. Disediakan tempat duduk yang empuk, AC, bisa jadi dengan tambahan fasilitas makanan dan minuman yang super enak. Lalu, di mana siksaannya? Begitu tiba di tempat tujuan boleh jadi tidak tampak pula sedang bersafar.

Baca Juga: Cinta Pertama dan Terakhir Bersamamu

Ternyata, hadits tersebut masih relevan. Bukankah aturan dalam Al-Qur’an maupun hadits akan selalu relevan dengan keadaan sekarang? Nah, di mana hubungannya?

Dijelaskan dalam kitab Fathul Bari bahwa dengan safar itu sepenggal azab atau siksa karena safar akan meninggalkan segala yang dicintainya.

لِأَنَّ فِيهِ فِرَاق الْأَحْبَاب

Kata asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, ketika seseorang bersafar, sesungguhnya dia telah meninggalkan keluarganya. Kemungkinan pada waktu itu, keluarga membutuhkan kehadirannya. Keluarga yang ditinggal di rumah sedang membutuhkan bimbingan, pengarahan, pendidikannya, atau yang lainnya

Jadi, makan, minum, maupun kondisi tidur dalam perjalanan tersebut akan terasa kurang nikmat karena tidak dilakukan bersama keluarga tercinta. Apalagi jika sampai menginap di sebuah hotel. Fasilitas mewah, tetapi terasa hampa karena di dalam kamar cuma sendiri, tanpa ada istri atau anak yang menemani.

Begitu juga dengan kejadian pesawat Sriwijaya Air ini. Terpisah antara korban dengan keluarganya untuk selama-lamanya. Jelas merupakan siksaan batin yang cukup luar biasa.

2. Menghindari Hoax

Kejadian yang menguras dan mengaduk-aduk perasaan memang mempunyai tempat tersendiri di kalangan masyarakat, terutama warganet, yang sebelumnya disebut dengan istilah netizen tersebut. Kesedihan yang berlarut-larut semestinya tetap mengedepankan kewaspadaan pada informasi atau berita yang tidak benar. Kita mengenalnya dengan hoax.

Kalau tahun lalu, muncul hoax parah tentang telur rebus yang menjadi obat corona, sekarang yang muncul adalah sosok bayi yang selamat dalam kecelakaan Sriwijaya Air.

hoaks-bayi-selamat-sriwijaya

Dalam foto tersebut, tampak bayi sedang dievakuasi oleh petugas dengan seragam TNI dan dua orang lainnya. Lalu, yang benar seperti apa?

Dari hasil penelusuran Antara, bayi tersebut adalah korban selamat dari kapal KM Lestari Maju yang tenggelam di perairan Selayar, Sulawesi Selatan pada bulan Juli 2018.

Mengagetkan, yang namanya hoax bisa berulang. Seperti ada episodenya begitu. Foto bayi tersebut juga muncul dalam peristiwa kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 pada bulan Oktober 2018.

Berikut screenshot klarifikasi tentang foto bayi di atas:

Agar kita terhindar dari hoax seperti ini, maka kita serahkan saja urusan proses evakuasi kejadian musibah ini kepada pemerintah dengan jajarannya. Mereka sudah sangat berpengalaman menangani berbagai macam musibah di tanah air.

Kita juga mesti memperhatikan asal informasi yang masuk ke indra penglihatan dan pendengaran, terutama yang masuk ke layar gawai kita. Apakah dari pemerintah dengan sumber resmi atau sekadar dari share dan share? Diteruskan dari WA ke WA?

Hoax termasuk kabar bohong. Jangan sampai gara-gara kejadian ini, kita yang belum tahu bahwa itu hoax ikut menyebarkan karena baper alias bawa perasaan.

Repotnya jika kabar hoax yang kita sebar, disebarkan lagi dan entah sudah sampai di mana ujungnya? Siapa yang memulai dan ikut menyebarkan kalau bukan kita? Ya ‘kan?

3. Menghindari Asumsi Tanpa Landasan Ilmiah

Salah satu kebiasaan sebagian orang Indonesia adalah menghubungkan suatu kejadian dengan kejadian lainnya, tetapi tanpa ada kaidah ilmiah.

Istilahnya adalah memakai ilmu cocoklogi. Bisa dikaitkan dengan tanggal kejadian. Seperti kemarin, tanggal 9 Januari 2021 saat kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182, maka mungkin dikaitkan dengan angka dalam Al-Qur’an misalnya atau hal lain.

Ilmu cocoklogi tersebut bisa menjurus kepada ilmu yang lebih mengerikan lagi, yaitu: ilmu kesyirikan. Mendasarkan kejadian kepada ramalan seorang dukun yang sering disebut paratidaknormal itu. Ini yang berbahaya karena mengancam eksistensi tauhid kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sebagai makhluk berakal, semestinya kita menggunakan pikiran yang lebih jernih, tidak perlu ikut-ikutan dengan mereka yang asal saja mengaitkan sesuatu kejadian.

4. Berempati dengan Keluarga Korban

Empati memang lebih dalam daripada simpati. Kita ikut merasa sedih dengan kejadian kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182, tetapi kita perlu juga untuk menghibur mereka. Tidak membuat mereka makin bersedih. Caranya?

Lewat kuasa yang ada di jari-jari dan HP kita, mari kita jaga perasaan keluarga yang anggotanya menjadi korban untuk tidak menampilkan secara vulgar foto maupun video jenazah.

Mungkin ada jenazah yang ditemukan dalam kondisi sudah tidak berbentuk sempurna. Kondisi hancur dan sebagainya. Hal semacam itu tidak perlu kita share lewat media sosial kita. Sebab, ketika jenazah tersebut disebutkan namanya dengan kondisi mengerikan semacam itu, dan justru kita makin memperluasnya, maka kesedihan tiada tara akan menimpa keluarganya.

Mereka sudah sangat kehilangan, ditambah kondisi mengenaskan seperti itu menjadi santapan publik. Cukuplah kita tahu ada foto atau video yang menampilkan korban, tetapi mari berhenti di kita saja.

Jelas kita suka apabila ada postingan kita yang mendapatkan like, komen, dan share banyak sekali, tetapi bukan dengan cara seperti itu.

5. Mematuhi Protokol dalam Perjalanan

Selama pandemi ini, kita pasti sangat hafal dengan yang namanya protokol kesehatan. Memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, adalah bagian dari prootol tersebut.

Rupanya, protkol kesehatan berpengaruh pula ke protokol perjalanan, terlebih perjalanan udara. Diterapkannya rapid test antibody hingga rapid test antigen adalah bagian dari protokol perjalanan ini.

Jelas, adanya tes-tes semacam itu bisa menambah biaya, selain tiket. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Sudah seperti itu prosedurnya, tetap wajib diikuti. Jika tidak, pasti tidak jadi terbang, kecuali dengan transportasi lain.

Apakah dalam agama Islam kita ini ada protokolnya juga? Oh, tentu saja! Salah satu protokol yang tidak pernah berubah sampai sekarang adalah berasal dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مسيرة يوم إلا مع ذي محرم”(البخاري 1038، مسلم 1339).

Tidak diperbolehkan wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat untuk melakukan safar sejarak satu hari perjalanan tanpa disertai mahram. (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang ustadz dalam sebuah pertemuan resmi organisasinya mengungkapkan fenomena. Bahwa muslimah memang lebih peduli ketika akan berangkat safar untuk berdakwah atau mengikuti kegiatan dakwah dengan mengikutkan mahromnya. Tentu yang dimaksud di sini adalah mahrom laki-laki. Misalnya: suami, ayah, saudara maupun anak yang sudah baligh.

Saat ditemukan tidak ada mahrom untuk perjalanan suci tersebut, maka muslimah yang bersangkutan memilih untuk tidak pergi saja. Jadi, prosedurnya lebih ketat ketika perjalanan tersebut adalah perjalanan dakwah maupun menuntut ilmu.

Namun, kondisi berbeda ketika muslimah mau bersafar untuk perjalanan duniawi. Contohnya: perjalanan dinas, ikut pelatihan dengan ilmu duniawi, maupun piknik bersama teman-temannya. Mahrom dalam hal ini seakan-akan tidak dipedulikan lagi.

Dan, memang sudah banyak terjadi, bahkan bisa tiap hari. Seorang istri pergi ke luar kota, sementara suaminya tidak menemani, atau tidak menyuruh mahrom lain untuk menemani. Atau anggapan bahwa istri sudah bersama mahromnya, tetapi mahrom perempuan.

Ada sebuah kisah nyata tentang hal ini. Seorang istri diajak ibunya untuk pergi ke luar kota bersama seorang sopir. Suaminya bertanya, apakah ada mahromnya, karena waktu itu dia tidak bisa ikut. Dijawab ada. Dalam pikiran suaminya, itu adalah saudara laki-laki istri alias iparnya.

Ternyata, sebelum terlalu jauh berjalan, saudara laki-laki istri tidak jadi berangkat. Betapa kagetnya suami, istrinya bersafar tanpa mahrom. Bisa dikatakan bahwa istrinya bersafar dengan menabung dosa karena menyalahi ketentuan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Suaminya mengambil tindakan tegas, istrinya disuruh pulang kembali. Betul-betul pulang kembali, dan istri tidak jadi bersafar dengan model seperti itu.

Sang suami tersebut langsung mengambil langkah tegas karena pada dasarnya, dosa yang dilakukan istri, berimbas pula kepada suami. Istri yang tidak sholat misalnya, maka suami akan kena getahnya, kena dosanya, jika istrinya tidak dinasihati maupun ditegur.

Begitu juga bagi gadis. Dia melakukan dosa, bisa saja sang ayah kena efek negatifnya. Makanya itu, saya teringat dengan sebuah postingan tentang hari ayah. Tidak usahlah merayakan hari ayah, cukuplah tutup aurat seorang gadis, maka itu tanda cinta dan kasih sayang kepada ayahnya.

Berarti, dosa seorang gadis bisa mengalir pula kepada ayahnya ketika belum menikah, maupun suami setelah menikah. Apalagi suami yang paling berat karena ketaatan seorang istri pertama kali kepada suami, barulah orang tuanya.

Andaikan dari korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182, ada perempuan yang bersafar tanpa mahrom, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuninya. Tidak perlu disalahkan, yang utama adalah merenungi untuk keluarga kita sendiri terlebih dulu.

6. Menjaga Keluarga

Media elektronik maupun digital dalam mencari berita kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 ini sebagian akan mengambil sudut atau angle dari para korban. Andaikan ada korban yang menangis tersedu-sedu, maka itu akan diblowup habis-habisan.

Kamera akan terus menyorot korban tersebut, karena pada momen itulah berita jadi terasa lebih hidup. Langsung mengelus sisi terdalam manusia. Menembus qalbu. Menampakkan kesedihan yang bertalu-talu.

Baca Juga: Kisah Gadis dan Seorang Preman

Akan tetapi, menangis tidak bisa mengembalikan nyawa para korban. Hal yang bisa dilakukan selanjutnya adalah berdoa untuk para korban, maupun bersedekah atas nama korban. Insya Allah, sedekah semacam itu, pahalanya akan sampai juga di alam kubur sana.

Ada yang mengatakan bahwa penyesalan memang datangnya di akhir, sementara yang di depan itu namanya pendaftaran! Inti dalam poin ini adalah menjaga keluarga, sebelum terlambat. Kalau ada keluarga sudah meninggalkan kita, maka tidak akan bisa kembali.

Hal ini mengacu kepada masalah rumah tangga. Tidak ada rumah tangga di dunia ini yang tanpa masalah. Bahkan rumah tangga Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bisa muncul gejolak, apalagi rumah tangga kita yang derajatnya sangat jauh di bawah beliau.

Menghadapi masalah rumah tangga bisa dengan cara yang lembut maupun keras. Cara lembut dengan berdialog, berbicara dari hati ke hati antara suami istri, maupun melibatkan pihak ketiga yang terpercaya. Sedangkan yang dikatakan keras sampai dengan tindakan menyakiti fisik hingga memunculkan luka di badan. KDRT istilahnya.

Namun, masalah tersebut akan hilang dengan sendirinya jika antara suami istri pandai menyelesaikan. Dan, hal itu masih lebih ringan karena kita masih memiliki pasangan masing-masing.

Lalu, bagaimana dengan suami yang sudah kehilangan istri dan anak-anaknya, seperti dalam kecelakaan pesawat Sriwijaya SJ-182 tersebut? Entah apakah ada penyesalan atau tidak, semoga menjadi kebaikan bagi orang yang ditinggalkan.

Menjaga keluarga sebelum kita berpisah dengannya. Sebab, hari ke hari terus berjalan, makin mendekati ajal, baik kita maupun keluarga kita. Oleh karena itu, mari kita jaga keluarga, sayangi keluarga sebelum terpisah oleh maut dan bisa menimbulkan penyesalan, mengapa kita kurang menjaga dan menjaga keluarga waktu mereka masih hidup? Jangan sampai terjadi hal yang demikian.

7. Kekuatan pada yang Terakhir

Ada sebuah postingan di Facebook, yang kira-kira bunyinya, kita harus memperhatikan status-status kita di media sosial. Sebab, bisa jadi itu menjadi status terakhir kita.

Viral di jagat atau linimasa medsos kita tentang status terakhir dari Captain Afwan, pilot pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Bunyinya: Setinggi apapun saya terbang, tidak akan masuk surga kalau saya tinggalkan sholat lima waktu.

Masya Allah, sebuah kalimat yang menyentuh hati banyak orang. Seorang pilot yang berorientasi akhirat, mengingatkan kita tentang ibadah yang menjadi tiang agama, yaitu: sholat lima waktu.

Mengenai sholat lima waktu ini, memang sudah terlalu banyak orang yang melalaikan begitu saja. Sholat yang hanya memakan waktu sedikit saja, sekitar 5-10 menit, tidak mampu ditunaikan.

Betapa banyak orang yang ketika waktu sholat tiba, masih larut saja dengan urusan duniawi. Ada adzan berkumandang, dia masih berbicara saja dalam rapatnya. Seakan-akan tidak sedang mendengar adzan. Akhirnya, peserta rapat akan sholat merasa tidak enak karena tidak diberikan kesempatan atau dipersilakan untuk sholat.

Kita juga tahu bahwa sholat ini adalah ibadah yang akan dihisab pertama kali di akhirat kelak. Jika sholatnya baik, maka Insya Allah yang lain akan baik. Terutama kaum laki-laki, dengan penekanan untuk sholat berjamaah lima waktu di masjid.

Selain masih banyak orang lalai untuk sholat, yang mengingatkan orang untuk sholat juga terasa masih sedikit. Padahal, tinggal mengajak saja. Mengeluarkan kalimat, “Ayo, sholat!” itu sudah cukup bagus. Bila orang yang kita ajak itu belum memenuhi seruan kita, maka didoakan saja, semoga di lain kesempatan bisa ikut sholat bersama kita.

Captain Afwan yang dipersaksikan oleh banyak orang sebagai orang baik, telah mengajarkan kepada kita bahwa ajaran Islam ini tidak perlu terlalu muluk-muluk terlebih dulu. Mengajarkan orang untuk sholat itu sudah awal yang bagus. Ditambah dengan usaha untuk memperbagus bacaan Al-Qur’an. Kesaksian kebaikan pribadi Captain Afwan sudah viral di media sosial, berikut adalah contohnya:

captain-afwan-kecelakaan-pesawat-terbang-sriwijaya-air-sj-182

captain-afwan-kecelakaan-pesawat-terbang-sriwijaya-air-sj-182-2

captain-afwan-kecelakaan-pesawat-terbang-sriwijaya-air-sj-182-3

captain-afwan-kecelakaan-pesawat-terbang-sriwijaya-air-sj-182-4

Masya Allah, sosok pilot yang Insya Allah sholeh, baik dan mulia di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Melakukan dakwah kepada manusia dengan menampilkan akhlak yang sangat terpuji.

Mungkin ketika melakukan hal tersebut, tidak banyak orang tahu. Hanya beberapa gelintir orang saja. Namun, kini kita melihat bahwa Allah membuka amalan Captain Afwan rahimahullah. Semoga itu menjadi tanda bahwa amalan beliau ikhlas karena Allah dan tidak mengharapkan pujian dari manusia lainnya.

Kita bisa melihat lagi sejarah orang sholeh zaman dahulu. Mereka melakukan amalan sholeh yang tahu hanya dia dan Allah. Saking dijaganya amal tersebut, seumur hidup tidak ada orang tahu. Barulah setelah dia meninggal, Allah menunjukkannya kepada manusia agar menjadi pelajaran dan hikmah.

Kesimpulan

Marilah kita mendoakan untuk para korban musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dengan rute Jakarta-Pontianak tersebut.

Terlebih korbannya ada saudara-saudara kita yang muslim, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dosa mereka serta menerima amal kebaikan mereka. Bagi keluarga yang ditinggalkan juga semoga diberikan kesabaran dan ketabahan yang tiada tara.

Pesan yang utama dari kejadian tersebut, seperti yang viral juga di jagat medsos, mereka mengira masih hidup sampai besok, tetapi ternyata ajal datang tanpa tiba-tiba.

Mau meninggal dengan cara apapun, semoga masuk ke dalam husnul khatimah. Meninggalkan kebaikan, yang mudah-mudahan menjadi amal jariyah dengan aliran pahala tak terbatas, meskipun kita sudah tak lagi bernapas.

Apabila dalam tulisan saya ini ada kesalahan, apalagi menyangkut korban dan keluarganya, mohon dimaafkan. Kebenaran memang datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sedangkan kesalahan, kekurangan dan kekhilafan datang dari diri saya pribadi.

Waallahu ‘alam bisshawab.

Baca Juga: Sholat Seperti Naik Pesawat, kok Bisa?

Referensi:

  1. Wahdah.or.id
  2. Kompas.com
  3. Parentingnabawiyah.com
  4. Rumaysho.com
  5. Muslim.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here