3 Hikmah Kisah Ruang Hati Seorang Pencuri di Majalah Qiblati

0
193
ruang-hati-seorang-pencuri

Bagi Anda yang pernah membaca Majalah Qiblati, mungkin pernah tahu kisah seorang pencuri profesional yang menelepon sebuah stasiun radio di Jordania? Kalau belum, saya kisahkan di sini.

Sumber cerita ini ada di Majalah Qiblati Edisi 09 Tahun VII. Seorang penyiar radio mengaku kaget dan terkejut mengetahui dia ditelepon oleh seseorang yang mengaku sebagai pencuri profesional. Acara tersebut memang disiarkan secara langsung, jadi didengarkan oleh cukup banyak orang juga.

Namanya pencuri, pastilah mengincar rumah-rumah yang kira-kira mempunyai barang berharga. Dan, rumah yang seperti itu, jelas rumah mewah yang dimiliki orang kaya, meskipun ada pula pencuri yang mengambil harta orang miskin. Kalau yang ini, termasuk pencuri yang tidak berperasaan.

Lho, bukankah semua pencuri itu memang tidak punya perasaan? Ya, benar, termasuk pencuri hati yang justru sering juga disebut memainkan perasaan itu.

Bisa Masuk, Tidak Bisa Ke Luar

Mengenai subjudul di atas, bukan berarti bisa masuk angin, lalu tidak bisa ke luar rumah. Awalnya, pencuri tersebut melakukan pengincaran pada sebuah rumah di kompleks Abdun, yang berada di kawasan elit ibukota Jordania. Dia mengincarnya selama kurang lebih sebulan. Wah, sabar juga ternyata!

Baca Juga: The Central of Point

Ketika mengamati itulah, dia merasakan ada yang aneh pada rumah itu. Ada yang tidak beres. Ada yang tidak wajar. Ada yang ganjil. Apakah itu? Ada apakah gerangan? Apakah ada gorengan?

Si pencuri melihat sepasang laki-laki dan perempuan datang dengan seorang atau beberapa orang anak muda, baik itu laki-laki maupun perempuan. Seharusnya, kalau sepasang laki-laki dan perempuan itu tuan rumah, lalu beberapa orang dianggap tamu, semestinya mereka ke luar bersama-sama. Ya ‘kan? Namun, kok ini tidak ada? Lenyap tak berbekas.

Dari fakta yang disaksikannya setiap hari, pencuri itu berubah fokus. Berubah orientasi. Dari yang tadinya ingin mencuri di rumah itu, menjadi rasa penasaran, ke mana orang-orang yang datang itu? Mulailah dia melakukan sedikit investigasi.

Berbekal Pengalaman

Sebagai seorang laki-laki yang malang-melintang di dunia curi-mencuri, sudah pasti dia berhasil mendapatkan pengalaman. Salah satunya adalah mencari lubang, celah, atau semacam pintu rahasia yang menghubungkan rumah itu dengan dunia luar. Namun, anehnya, sama sekali tidak ada! Yang ada adalah jalan satu arah. Cuma dari pintu masuk itu tadi.

Penasaran dan rasa yang aneh itulah membuat si pencuri menghubungi stasiun radio. Sepertinya, bukan menghubungi untuk request, lalu kirim-kirim salam.

Si penyiar, yang mengiranya tadi penelepon iseng atau bahkan dikira prank, menyadari suasana yang memang sedang tidak beres itu. Dia pun meminta si penelepon untuk menyebutkan alamat rumah tersebut dengan lebih lengkap. Data sudah didapatkan, selanjutnya adalah menelepon polisi!

Mencengangkan!

Jika mengacu kepada kata “mencengangkan”, biasanya ada kaitannya dengan tayangan yang sering disantap oleh masyarakat kita. Tayangan yang menampilkan konflik rumah tangga yang seringnya tidak bermutu. Namanya sinetron. Walaupun ceritanya dianggap monoton, tetapi justru tidak lupa untuk ditonton.

Dari tontonan, berubah tuntunan, dan akhirnya menjadi tuntutan. Begitulah dinamika masyarakat kita dalam mencari hiburan, yang ujungnya justru menghibur para pemilik modal televisi atau produser tayangan tersebut, dengan mendatangkan pemasukan luar biasa dari para penontonnya lewat iklan.

Dalam kisah si pencuri ini, polisi berhasil menemukan kejahatan luar biasa besar, bahkan terbesar abad ini dalam sejarah kepolisian Jordania! Rumah mewah tersebut telah menyimpan “barang mewah” yang nilainya sangat fantastis. Ternyata, di dalamnya adalah kuburan massal dan penyedia organ tubuh dalam pasar gelap!

Baca Juga: Laris Sepanjang Masa

Polisi juga berhasil menangkap sepasang laki-laki dan perempuan itu – kemungkinan suami istri – yang menjadi agen pemasok organ tubuh manusia ke pasar sangat ilegal. Bagaimana cara mereka berdua mengumpulkan anak muda dan bersedia datang ke rumahnya? Ternyata, dengan iming-iming tertentu. Misalnya: dengan iming-iming pekerjaan, narkoba, bahkan seks bebas. Anak muda awam jelas tertarik dengan tawaran-tawaran seperti itu.

Pada akhir tulisan di majalah yang fokusnya dahulu itu adalah menjelaskan syubhat Syiah, dikatakan bahwa si pencuri masih ada ruang di hatinya untuk berbuat kebaikan, meskipun ruang itu sempit.

Tapi, apa sebenarnya hikmah dari kisah ini yang tidak dimuat di majalah? Berikut ini ada tiga, di antaranya:

1. Menjadi Seorang Profesional

Mungkin dalam bayangan kita, seorang profesional identik dengan pekerja kantoran. Memakai setelan jas dan berpenampilan perlente. Pakai sepatu hitam mengkilap. Berada di ruang ber-AC. Ruangan kantornya di lantai gedung tinggi. Gajinya fantastis. Gaya hidupnya pun hedonis.

Ternyata, tidak selalu seorang profesional seperti itu. Seperti yang dikatakan oleh teman saya, penjual roti yang keliling tiap hari pun bisa dikatakan seorang profesional. Kok bisa? Sebab penjual tersebut melakukan secara rutin, pada akhirnya dia pun fokus. Tidak ada pekerjaan lain.

Nah, fokus. Itulah yang menjadi salah satu tantangan terbesar di zaman sekarang atau jaman now. Untuk bisa fokus bekerja, rasanya sungguh tidak mudah. Aneka gangguan muncul dari berbagai tempat. Paling terlihat adalah dari gawai atau HP. Benar begitu ‘kan? Apakah Anda merasakannya juga?

Mengenai profesionalisme dalam pekerjaan atau usaha, kiranya kita membaca sedikit hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

Dari Aisyah radhiyallahu anha, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional.” (HR. Thabrani, nomor: 891, Baihaqi, nomor: 334).

Kalau mau profesional, memang harus fokus sejak awal. Nah, fokus memang termasuk susah, apalagi saat memilih suatu bidang usaha. Ketika kita membuka internet, aneka macam usaha bisa kita lakukan. Mau jadi reseller, bisa. Mau jadi dropshipper juga boleh. Mau pilih produk pakaian, tas, sepatu, sampai dengan kendaraan, sah-sah saja, selama semua sesuai dengan syariat Islam.

Tidak jarang kita temui, seseorang yang awalnya fokus dengan bidang usahanya, belum sampai di tengah jalan, sudah ganti jenis usaha lain, karena dianggap yang pertama tidak lagi menguntungkan. Padahal, bisnis itu butuh waktu, butuh proses. Tidak serta-merta langsung sukses atau berhasil.

Dari kisah di atas, meskipun orang yang menelepon itu seorang pencuri, tetapi dia fokus. Makanya, menjadi pencuri profesional. Pekerjaannya jelas haram, tetapi fokusnya bisa kita ambil hikmahnya di sini.

2. Kerja Sama yang Apik

Lahirnya seorang manusia di dunia ini pastilah dari hasil kerja sama. Apalagi kalau bukan kerja sama antara suami dan istri? Mereka disebut dengan orang tua kita.

Pelaku kejahatan berupa tindak mutilasi, lalu menjual organ tubuh korban, dilakukan oleh sepasang laki-laki dan perempuan. Rencana mereka sudah disusun dengan matang, lalu diaplikasikan bersama.

Bayangkan jika kerja sama laki-laki dan perempuan – dalam hal ini sebut saja suami dan istri – tidak terjadi, maka rumah tangga akan kehilangan arah. Bukankah rumah tangga itu ibaratnya sebuah kapal? Suami adalah nakhoda, sedangkan istri adalah juru kemudinya. Anak-anak tentu saja penumpang manisnya.

Dari perumpamaan tersebut, maka wajar saja jika dalam satu rumah, isinya seperti kapal pecah. Bukankah tadi perumpamaannya rumah tangga seperti kapal? Apalagi jika ada anak-anak kecilnya. Kesabaran orang tua menjadi kunci dalam hal ini.

Begitu juga kerja sama suami dan istri dalam dakwah. Ini juga perlu saling mendukung. Terutama jika suami menjadi ustadz, sedangkan istrinya ustadzah. Jika tidak ada kerja sama, bisa berantakan urusan rumah tangga. Sudah banyak mengajarkan ke orang lain, tetapi penerapannya dalam rumah sendiri belum maksimal.

Oleh karena itu, disarankan laki-laki dan perempuan yang akan menikah berada dalam organisasi, kelompok, maupun gerbong yang sama. Sebab, sudah beberapa kali terjadi, suami dan istri berbeda bendera pergerakannya. Istri pun menjadi korban, dengan dilarang suami untuk aktif di organisasi kesayangannya.

3. Menghindari Terpesona dengan Tampilan Fisik

Anak-anak muda yang ikut pasangan laki-laki dan perempuan itu dijanjikan materi. Ditambah dengan rumah mewah itu yang dari luar terlihat bagus dan mentereng.

Dijanjikan materi yang berlimpah memang sudah mampu menggelapkan mata, dan itu jelas terjadi zaman sekarang. Orang yang dirasa lebih dihormati adalah yang paling banyak hartanya. Bahkan, orang-orang kaya pamer lewat media sosial. Memamerkan mobil mewah yang harganya milyaran itu agar makin dianggap kaya.

Padahal, harta banyak yang tidak digunakan untuk kebaikan, justru bisa menjadi bumerang bagi si pemiliknya. Dan, Allah bisa cabut kenikmatan harta tersebut sewaktu-waktu, lalu membalikkan keadaan 180 derajat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada sahabatnya Hakim bin Hizam,

 « يَا حَكِيمُ ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ ، وَكَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى »

Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini indah dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan keluasan jiwanya, ia akan diberkahi pada hartanya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan berlebihan, maka perumpamaannya adalah seperti orang yang makan dan tidak pernah kenyang.” (HR Bukhari nomor: 1472, 2750, 3143, Muslim nomor: 1035)

Orang-orang yang menjadi korban dalam kisah di atas sama sekali tidak menyangka bahwa di balik rumah mewah dan megah itu, justru menjadi kuburan bagi mereka. Meskipun tidak selalu diambil maknanya sebagai kuburan sebenarnya, harta dan tampilan fisik lainnya tetap bisa menenggelamkan pemiliknya dari berharap atau bergantung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, merasa semua itu karena usaha dirinya sendiri.

Kesimpulan

Dari yang tadinya seorang pencuri, dia berbuat kejahatan terhadap para korbannya, justru membantu membongkar tindak kejahatan yang lebih serius lagi. Apakah kisah semacam itu bisa terjadi lagi? Tentu saja bisa, jika ada niat dan kesempatan. Kejahatan memang bisa terjadi tidak hanya karena niat, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah!

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu melindungi kita dari orang-orang yang ingin mencelakakan atau berbuat buruk terhadap kita. Aamiin.

Waallahu ‘alam bisshawab.

Baca Juga: Seperti Membuat Meja

Referensi:

1. Muslim.or.id

2. Islam.nu.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here