3 Contoh Ekstrim Tentang “Toleransi”

0
138
toleransi-cover

Menyedihkan sekaligus memiriskan hati sekelompok muslim yang ikut serta di gereja Nasrani.

Kelompok muslim tersebut menyajikan rebana atau kasidah dengan lagu-lagu agama. Pemandangan pun menjadi kontras. Jamaah gereja berpakaian terbuka, tidak ada yang pakai jilbab – ini sudah jelas – pakaian serba putih, ini untuk pendetanya, sementara muslim yang tampil di panggung gereja tersebut mengenakan songkok hitam, baju koko, dan sarung pula.

Katanya, mereka melakukan itu sebagai simbol toleransi. Menghormati hari raya agama lain, dalam hal ini adalah Nasrani. Mereka turut masuk ke dalam gereja dan ikut larut dalam pamerannya. Bahkan ada pula yang memberikan tumpeng kepada pendetanya. Simbol semacam itukah?

Baca Juga: Cinta Pertama dan Terakhir Bersamamu

Tentu saja pemandangan tersebut diabadikan jamaah gereja dengan gawainya. Tidak tahu mereknya, yang jelas semuanya hampir sama, layar lebar, pipih di samping, mirip dengan yang kita punya. Beberapa tampak tersenyum dan puas menyaksikan “persaudaraan” antara muslim dengan kaum Nasrani.

Sementara Itu

Namun, ada pula postingan yang kontradiktif dengan hal tersebut di atas. Tidak semuanya setuju dan suka dengan pemandangan tersebut. Mereka menuliskan di media sosial simbol kejengkelan.

Misalnya, ada yang menulis tentang sudah malas pergi ke gereja. Mereka merasa aneh melihat orang-orang dari agama lain – dalam hal ini Islam – kok mendapatkan panggung? Mereka juga merasa risih, lagu-lagu rohani Nasrani kok malah diselingi sholawatan bahkan adzan? Ada pula yang menganjurkan kepada pengurus gereja nasional untuk tidak lagi melakukan hal tersebut. Mengganggu kekhusyukan ibadah mereka. Terakhir, ada juga yang mengatakan: Agamaku bukan agamamu. Tidak usah ikut campur agamanya. Nah!

Kalau itu yang dikatakan toleransi, maka seharusnya yang benar adalah telorasin. Memang sih tidak baku, karena yang benar adalah telur, bukan telor. Namun, begitulah, itu hanya plesetan. Toleransi beragama yang kebablasan, melebihi batas, dan sangat rawan membahayakan aqidah mereka.

Seorang budayawan muslim, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, pernah mengatakan bahwa beliau memang tidak setuju dengan agama lain. Kalau setuju dengan agama lain, sudah pasti beliau akan pindah-pindah agama. Misalnya, hari ini Islam, besok masuk Kristen, lusa Katholik, berikutnya Hindu, Budha sampai dengan Khonghucu. Variasi setiap hari dengan agama yang berbeda-beda. Begitulah konsekuensi untuk menganggap agama lain benar dan menyetujuinya.

Toleransi beragama itu cukup sederhana. Mengapa harus dibuat ribet? Sepertinya juga dibuat kalau ada yang susah, mengapa harus cari yang mudah? Toleransi antaragama wujudnya adalah membiarkan mereka menjalankan ibadahnya, membiarkan mereka merayakan hari raya, dan sama sekali jangan mengganggunya. Selain itu, sangat tidak perlu mengucapkan selamat untuk hari raya mereka. Untuk apa? Bukankah kita memang tidak setuju dengan agama mereka? Kok sampai diberi selamat?

Jadi, ketika umat Nasrani berhari raya Natal, cukuplah mereka bisa menjalankan di gereja-gereja. Apalagi dengan momen tahun baru yang ternyata juga bagian dari ibadah mereka. Lebih baik dipermantapkan Islam kita agar tidak terjerumus kepada penyesatan aqidah.

Baca Juga: The Central of Point

Lalu, bagaimana perumpamaan toleransi yang kebablasan itu? Ada 3 bentuknya yang termasuk ekstrim. Dua diambil dari pendapat Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc. MA.

Pertama. Toleransi berlebihan itu ibarat suami yang toleransi kepada istrinya, lalu ikut memakai pakaian istrinya. Baik itu pakaian dalam maupun luar. Membaca status Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri Lc. MA tersebut, banyak yang merespons dengan emoticon tertawa. Ternyata, setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga.

Kalau toleransi yang dimaksud itu adalah mengikuti secara murni dan konsekuen, maka suami harus juga pakai pakaian istri. Namun, seandainya terjadi, pastilah akan muncul kekacauan dan fitnah yang sangat besar. Dari situ saja, sudah terlihat ketidakberesan cara berpikir para penganut toleransi kebablasan itu bukan?

Kedua, mengikuti orang yang buang hajat di kamar mandi. Ini juga termasuk contoh ekstrim dan kesannya luar biasa meninggalkan rasa malu. Toleransi yang benar untuk urusan buang hajat ini adalah membiarkan saja orang membuang kotorannya di kamar mandi maupun WC. Sedangkan, jika berpikir toleransi harus sama dan benar-benar ikut orang lain, maka ikut juga berada di kamar mandi.

Tentu hal tersebut akan sangat bertentangan dengan norma sosial yang ada. Apalagi sampai melihat aurat orang lain. Dari dua contoh tersebut, sudah terbayang bukan kerancuan berpikir orang yang mengagungkan toleransi berlebihan semacam itu?

Ada lagi contoh yang ketiga. Dua tadi sewaktu di dunia, yang ketiga ini di akhirat. Seandainya toleransi kebablasan itu benar-benar diterapkan, maka ketika nanti orang-orang di luar Islam masuk neraka Jahannam, pengusung toleransi mesti juga ikut. Bukankah itu hakikat toleransi harus sama-sama merasakan? Harus sama-sama mengalami?

Padahal orang nonmuslim atau orang kafir diancam dengan neraka selama-lamanya, kekal, abadi, masa harus juga ditemani dan minta sama-sama sih? Subhanallah.

Sudah Ajaran Lama

Kerukunan umat beragama di Indonesia ini sudah berlangsung lama sekali. Antara penganut Islam dengan di luar Islam sudah terjalin hubungan yang baik dan rukun. Kita bisa melihat ada daerah yang rumah ibadahnya berdampingan. Seperti di Jakarta, Masjid Istiqlal berdekatan dengan gereja Katedral. Begitu juga dengan di Jogja, Masjid Syuhada dekat juga dengan gereja besar. Kerukunan semacam itu adalah bukti kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Hal itu membuat situasi di negara ini cenderung aman dan nyaman.

Ajaran tentang toleransi tidak usahlah diajari atau ditawarkan konsep yang baru, macam ikut ibadah agama lain itu tadi. Memeluk agama termasuk hak asasi manusia dan itu memang wajib dihormati. Bukankah kita ingat sejarah Islam yang mulia tentang peperangan? Tidak boleh menghancurkan tempat ibadah agama lain. Sejak pemerintahan khalifah, rumah ibadah agama lain dilindungi. Otomatis pemeluknya juga. Yang penting mereka membayar jizyah atau pajak kepada pemerintah kaum muslimin.

Perayaan Natal memang sudah lewat. Lalu, bagaimana dengan perayaan tahun baru sendiri? Begitu juga dengan perayaan umat beragama lain? Apakah dari kaum muslimin sendiri akan berdalih toleransi yang pada akhirnya ikut perayaan ibadah agama lain?

Buat apa toleransi yang benar malah menjadi telorasin? Mari kita kembalikan konsep toleransi yang benar sesuai keadaannya. Tolong-menolong itu boleh, selama tidak berkaitan dengan pelaksanaan ibadah agama lain. Begitu juga memberi hadiah, asal tidak memberikan hari raya atau peribadatan mereka. Mari kita jaga suasana aman dan damai sesama umat beragama di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Waallahu ‘alam bisshawab.

Baca Juga: Beberapa Hal yang Menjadi Ujung Akhir, Kembali Lagi ke Awal!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here