Puisi-puisi Dakwah dalam Momen Muktamar IV Wahdah Islamiyah

0
60

Puisi-puisi di bawah ini saya tulis sejak sebelum Grand Opening Muktamar (GOM) Wahdah Islamiyah yang dilaksanakan pada Ahad (19/10/2021).

Rencananya, memang akan saya tampilkan di kolom chat ketika acara GOM. Namun, peserta yang sangat banyak dan mereka membombardir kolom chat, membuat puisi saya cepat tenggelam.

Selain itu, ada keterbatasan karakter di kolom chat Zoom. Tidak semuanya bisa ditampilkan dengan utuh. Padahal, ada beberapa yang memang cukup panjang sedikit.

Boleh Anda baca sampai selesai. Boleh juga Anda kasih komentar di bawah. Apa yang Anda rasakan setelah membaca puisi-puisi saya? Semoga bermanfaat.

Pagi Menguning

Hari Ahad ini begitu berdesing
oleh semangat kami yang melengking.
Kami sudah bangun pagi sebelum Subuh
agar bisa mengikuti acara dengan utuh.

Namun, mata kami jadi sedikit pusing
oleh background kok warna kuning?
Apakah ini sebuah tanda yang penting?
Bahwa menu siang nanti cocoknya sayur bening?

Tetaplah kita coba nikmati
aroma acara yang menggugah rasa.
Kita berharap dapat hadiahnya.
Hayo, ingin dapat apa?

Penjelasan: puisi tersebut saya tulis ketika sudah masuk Zoom dan dimasukkan ke dalam Webinar 6. Namun, layar yang ada berwarna kuning. Tidak terlalu bagus dilihat. Para peserta pun menyampaikan komplain melalui kolom chat. Saya komplainnya seperti di atas itu.

Suara Hati

Terdengar alunan mengelus hati
dari para ikhwah pelantun ayat suci.
Memeluk pagi dengan sejuta mimpi
untuk meraih pahala dari Ilahi Rabbi.

Siapa di sini yang belum sarapan?
Mungkin ada yang berpuasa dalam badan.
Yang jelas kita hadir di sini dengan senyuman
diiringi sang mentari yang kekuningan.

Sebuah Karpet

Biasanya karpet-karpet dibentangkan
oleh seksi perlengkapan.
Ikhwah melaksanakan yang sudah disuruhkan
oleh akhwat yang sedang punya hajatan.

Begitu pula pagi ini
ketika masjid itu diisi karpet warna-warni.
Aku tidak lagi di situ
sebab tempatnya berganti hasil dari usulanmu.

Memang harus ada suasana beda
jangan lagi itu-itu saja yang sama.
Namun, yang ada harus tetap ada
konsumsi enak janganlah terlupa.

Sejatinya itu adalah sebuah hal yang nyata
kuhitung dulu dengan seksama.
Satu, dua, tiga, empat, lima
bahwa kita akan selalu bersama.

Ketika Jodoh Itu

Bicara memang sangat mudah
apalagi tanpa banyak pikir yang susah.
Menusuk hati laksana duri
membuat jiwa serasa seperempat mati.

Itulah kata-kata yang meluncur darimu
kepada yang masih dipeluk pilu.
Menantikan jodoh sekian windu
sampai air mata kering dan membatu.

Sampai kapan begini?
Sementara yang lain sudah berseri-seri
bersama pasangan halal yang cocok di hati
sambil mengarungi cinta sehari-hari.

Tapi, tenang dicoba
dibuat hati woles saja.
Memilih aktif di lembaga dakwah yang ternama.
Yang kamu pasti tahu, Wahdah Islamiyah namanya.

Ketika digeluti tiap hari
dengan amanat yang berganti-ganti
tapi tetaplah dinikmati
karena suasananya sangat menarik hati.

Namun, ternyata
pertanyaan seputar jodoh masih mengemuka.
Ingin tahu, kapan akan dapat jodoh?
Apakah dijawab saja masa bodoh?
Karena diri sendiri memang tidak tahu
biarlah Allah yang menentukan waktu.

Semoga nanti didapatkan yang lebih baik
agar tak ada lagi yang terusik
oleh mereka yang selalu kepo
pada kehidupan si jomblo dari A sampai O.

Tapi kapan jodoh akan tiba?
Lebih bagus memang janganlah pusing
karena itu akan menusuk hingga pening.

Gempa Bumi

Suatu pagi menjelang siang
sebuah keterkejutan datang menerjang.
Ada getaran yang merambat dengan berat
di bawah bumi, hingga terasa sangatlah dekat.

Pada hari Selasa tanggal empat belas Desember
orang-orang berlarian dengan raut yang takut.
Meskipun hanya sekilas
dan gempa itu lewat menggilas.
Engkau merasa panik dan khawatir
apalagi info adanya tsunami yang membuat getir.

Cepat sekali engkau ingat Tuhan
padahal ingatnya mungkin ketika baca Pancasila.
Engkau sebut nama-nama Allah
Subhanahu Wa Ta’ala
mengharapkan dari-Nya keselamatan semata.

Baguslah engkau sekarang menjadi ingat
ketika nama-Nya sering dilupakan dan terlewat.
Tetaplah engkau perlu bersyukur
gempa itu tidak menelan korban yang terbawa
oleh ajal sambil menenteng banyak nyawa.

Penjelasan: puisi itu bisa muncul karena sempat ada gempa yang mengguncang Kabupaten Bombana beberapa hari yang lalu. Meskipun frekuensinya kecil, tetapi tetap membuat takut dan panik juga.

Sholat yang Cuma Lewat

Adzan menyilet, kata seorang penyair.
Suara adzan itu membawa pikir
bagi mereka yang tidak larut dalam dzikir.

Waktu yang telah lewat
tak pernah bisa lagi mencuat.
Suara adzan yang menembus setiap dinding rumah
tetapi tetap tidak tergerak hati orang yang lemah.

Engkau enak-enak saja duduk tampak sibuk
padahal yang kamu hadapi hanya kopi tubruk
dan rokok yang sebentar lagi remuk.
Engkau tertawa bersama teman-temanmu
menganggap selamanya tertawa itu di dunia.

Engkau juga memandang sinis
kepada mereka yang berpakaian necis
berusaha berpenampilan manis
karena menghadap Allah mengharap amal baik tertulis.

Kenapa engkau jadi begitu?
Padahal kupingmu tidaklah tuli
matamu juga tidak tertutupi.
Tapi hatimulah yang telah mati.
Ketika adzan untuk sholat
kau sengajakan untuk berlalu dan lewat.

Berapakah gajimu sampai engkau tinggalkan sholat?
Apakah nominalnya cukup untuk membeli akhirat?
Jangan-jangan engkau merasa sudah paling kaya sejagat?
Sementara yang pernah paling kaya raya saja tetaplah sholat.

Mari Saudaraku!
Kapan engkau akan terus menunggu?
Panggilan adzan, panggilan kasih sayang.
Dari Dzat yang nikmat-Nya selalu membuatmu kenyang.

Tinggalkan dulu pekerjaanmu yang sok sibuk
dan teman-temanmu yang mungkin buruk.
Sebentar saja kita bersujud
berbisik pada bumi, terdengar sampai ke langit.
Begitulah kita terus berharap
agar pahala sholat datang menetap
serta dosa-dosa kita pun hangus dan lenyap.

Baper dalam Dakwah

Katanya, ikut dalam dakwah itu
bagai naik dalam kapal yang melaju.
Kadang memang laut tenang
tapi kadang badai tersenyum datang.

Memang, kapal itu tidaklah sempurna
begitu juga orang-orang di dalamnya.
Kamu mungkin akan menemukan
lebih banyak kesedihan daripada kegembiraan.

Kalau begitu keadaannya
pantaskah kamu lari dan menghindar?
Demi memuaskan sebuah rasa pahit yang melilit.
Demi mewujudkan rasa panas yang menjalar
lalu kamu memilih saja untuk keluar
dan itu kamu lakukan secara sadar.

Mau kemana kamu?
Akan berlabuh di mana lagi hatimu?
Apakah ada kapal yang lebih baik daripada ini?
Padahal di sini tempat kita mengenal tauhid.
Tempat kita juga mengenal sunnah
dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
yang semoga beliau menjadi panutan kita yang dalam.

Ayolah, Kawan!
Lupakan sejenak masalahmu
karena sebenarnya masalah itu tidaklah terlalu berat
tapi pikiranmu saja yang sedang tersengat.

Maafkanlah mereka yang menyakitimu.
Mereka juga manusia biasa
yang memang tempatnya salah dan lupa.

Kita arungi lautan sangat luas ini
dengan kapal dakwah yang begini adanya
sambil berdoa kepada Allah.
Lautan ini masih kalah luas
dibandingkan surga yang akan dibayar lunas.
Ketika kita bisa istirahat
sambil menatap wajah Allah dalam jarak dekat.
Nikmat mana lagi yang akan melekat?
Selain dengan ilmu, amal, ibadah, dan dakwah yang terus tersemat.

Mari Duduk di Sini

Kamu pernah mengatakan
lebih nyaman duduk di kafe
sambil merokok dan minum kopi.

Kamu pernah mengatakan
duduk di pesta pernikahan itu lebih nikmat
sajian musik mendayu dan biduan yang merayu.

Kamu juga pernah mengatakan
duduk di game center itu lebih pinter
main game online sepuasnya
seakan kamu di dunia ini selamanya.

Perkataanmu mungkin benar
pendapatmu mungkin tepat.
Tapi benar dan tepat menurut siapa?
Kamukah yang paling hebat di dunia ini?

Janganlah begitu, Kawan
tempat dudukmu itu punya harga
yang bisa jadi tidaklah mahal.
Tapi kamu lakukan terus
sampai kamu benar-benar terbius
hingga tak terasa dompetmu pun hangus.

Marilah duduk bersamaku
duduk yang murah meriah
duduk yang sederhana
dengan orang-orang yang apa adanya
semata-mata mengharap pahala
dari Allah yang di atas sana.

Duduklah bersamaku dan kawan-kawanku
dalam nuansa ta’lim yang syahdu.
Tahukah kamu, tidak cuma kamu yang ikut
tapi malaikat Allah pun larut.
Mereka memintakan ampun berturut-turut
kepada para penuntut ilmu yang sedang hanyut
mereguk ilmu syar’i sebelum maut menjemput.

Kita nikmati duduk malam ini
antara Maghrib dan Isya
di Masjid An-Nur
Ponpes Al-Wahdah Bombana.
Sejenak kamu akan merasa
dan langsung menyesal
kenapa tidak dari dulu ikut berpadu?
Kita jadi tahu ilmu dan itu sangat perlu
untuk membuat surga Firdaus rindu menunggu.

Ahlan wa Sahlan

Bertemu hanya lewat daring
menyapa melalui layar yang berpendar.
Tetap senyum dengan lembut mengalir
kepada saudara-saudaraku yang sudah hadir.

Pada hari ini kita akan membuat sejarah
menghadirkan dari berbagai daerah.
100.000 ribu orang dalam satu tempat bukan hal yang mudah
namun tetap bisa terwujud dalam satu bingkai ukhuwah.

Kita akan menjadi saksi
sebuah pertemuan melalui Zoom ini.
Digelar untuk menyambut Muktamar
Wahdah Islamiyah yang sangat besar.

Jangan lupa ajak serta yang lain
agar kita bersama mulai menjalin
ikatan persaudaraan yang terus diungkapkan
mesti tanpa bertatap muka, apalagi berangkulan.

Yuk, kita ikuti acara ini!
Dengan niat mencari pahala ke surga.
Inilah yang perlu dijaga
sebagaimana kita bersama keluarga.

Eh, apakah antum sudah berkeluarga di bulan ini?
Jangan khawatir, jodoh masih terus menanti.
Kapan dijemput? Kapan diantar?

Hati memang perlu hanyut, jiwa pun harus sadar
bahwa pertemuan akbar
dalam Grand Opening Muktamar
akan menjadi penyala semangat agar kita berpijar untuk terus bersinar.

Terpisah Jarak

Sesuai hasil musyawarah
yang laki-laki di pondok ikhwah
yang akhwat di Masjid An-Nur yang jauh dari sawah.

Memang harus begitu
karena peserta akhwat lebih menyerbu.
Jumlah lebih banyak, semangat lebih menggebu
makanya tempatnya di masjid
bukan lagi di ruangan besar yang menjadi sempit.

Asal tidak hujan, asal tidak becek
nanti di jalan, kalau becek jadi jelek.
Bukan sebuah masalah
asalkan konsumsi terus melimpah.
Kue, roti, nasi bungkus, sampai es buah
yang segarnya Masya Allah, Alhamdulillah.

Nanti kujemput istriku
setelah acara ditutup oleh waktu
pembagian hadiah yang bikin nafsu
untuk diraih hingga bahagia di qolbu.

Selamat bagi yang mendapatkan
tidak perlu sedih bagi yang belum beruntung
karena sejatinya kita berkumpul
terlihat menawan meskipun baru mulai dari sampul.

Sejatinya kita memang satu
dalam bingkai Wahdah Islamiyah yang kita jaga
diiringi Bakti Setia untuk Indonesia Tercinta.

Rinai Hujan

Ketika orang mengeluh
karena hujan yang terus tumbuh.
Aku malah bersyukur
karena di situlah doa bisa terulur.

Teringat segala kesalahanku
kepada Allah, lalu ke semua orang.
Kesalahan yang tidak secepat itu terhapus
apalagi dengan orang yang lukanya begitu tembus.

Penyesalan memang selalu belakangan
kalau yang di depan katanya pendaftaran.
Tapi apakah mesti mendaftar untuk kemudian menyesal?
Pastilah itu membuat sedih yang sangat menggumpal.

Ucapkanlah doa saat hujan, Kawan.
Keluhkan segala masalah hingga semua tertumpah.
Tuhanmu tidak akan pernah bosan mendengar keluhanmu.
Apalagi berasal dari lisanmu yang berdzikir selalu.

Semoga diijabah
sampai hatimu menjadi indah dan merekah.
Harapanmu takkan pernah surut
karena niat perjuanganmu selalu terpaut.

Rihlah Dakwah

Roda empat sedang tersenyum dengan singkat.
Deru mesinnya mengalun mesra tanpa terhambat.
Snack, kue, minuman segar masih bisa disantap dengan nikmat.
Dan kita pun berdoa dahulu sebelum berangkat.

Ada senyum, ada tawa terbahak.
Kita melalui jalanan yang ternyata tersedak.
Oh, rupanya ada lubang yang sudah lama tercetak.
Membuat ban mobil berseru meninggalkan jejak.

Kita berjalan jauh.
Dalam sebuah rihlah dakwah.
Ya rihlah.
Ya dakwah.
Menyusuri ratusan kilometer.
Yang jelas mobilnya bukan Panther.

Seperempat jalan, ada yang mabuk.
Setengah jalan, ada yang muntah tertekuk.
Sebagian lemas, karena cairan tubuh lari lepas.
Mereka berharap melalui berpuluh ucap.
Kapankah tiba di tujuan untuk menancap?

Hey, ini masih jauh.
Kita akan lewati beberapa bukit yang tak lagi utuh.
Setelah itu kita sedikit mengusap peluh.
Ah, jaraknya masih beberapa tempuh.

Sabarlah, Kawan.
Kita bergembira dalam hati agar nyaman.
Kau, dia muntah, sedangkan aku masih tak goyah.
Alhamdulillah, aku memang suka ikut rihlah dakwah.
Kemana deru mobil ini melangkah?
Kemana lagi kalau bukan di acara Wahdah Islamiyah?
Kita tancapkan tonggak sejarah.
Agar kita tuai hasilnya nanti dengan indah.
Semoga terwujud dan kita memeluk husnul khatimah.

Menangis Saat Teriris

Betapa sepi, jika dibersamai oleh rasa sendiri.
Tak ada teman, tak tampak pula kawan.
Malam beranjak dewasa.
Rembulan pun makin gemulai menari di angkasa.

Teringat sebuah kebersamaan.
Yang hanya diselimuti oleh cinta.
Yang merentang penuh rasa sayang.
Kebersamaan yang tak sanggup dilukiskan.
Meski lewat kanvas dari timur ke barat.
Karena kebersamaan itu pastilah berat.
Hingga membekas dalam memori yang tak singkat.

Betapa indah saat jumpa denganmu.
Meski dirimu tak ada di dekatku.
Sambil menangis kutuangkan rindu.
Yang tersedu-sedu dibalut rasa syahdu.

Tatkala diriku dan dirimu.
Menghabiskan malam bersama.
Kita bercerita, tetapi bukan yang sia-sia.
Bercengkerama dengan mereguk ilmu.
Yang rasanya tak pahit seperti jamu.
Tapi manis bagaikan gula batu.

Kapankah itu akan terjadi lagi?
Hanya kini kutatap dirimu dari jauh.
Sempat tersungging rasa keluh.
Ah, apa yang harus kukeluhkan?
Jika kita bisa terus berpegangan tangan.
Dalam aroma wangi dakwah.
Lebih harum daripada parfum.
Lebih ranum, karena dihiasi dengan senyum.

Kepadamu kudoakan.
Atas semua kenangan.
Yang tersaji di hati.
Hingga kini.

Apakah Pantas Marah?

Apakah pantas marah?
Pada takdir yang sudah memelukmu sejak masih merah.
Apakah pantas marah?
Pada pasanganmu yang ternyata tak seperti inginmu.
Apakah pantas marah?
Ketika ini dan itu, terjadi begini dan begitu, lalu kamu menggerutu.

Tidak perlu, Kawan, sungguh tidak perlu.
Marahmu hanya menyakiti hati.
Lalu teriris pelan, sampai jiwamu kesakitan.

Terima saja apa yang sudah terjadi.
Karena sejatinya itulah yang terbaik untuk diri.
Apa yang kamu cari?
Apakah itu yang pasti membuat kamu bahagia selamanya?

Belum tentu, belum pasti, belum juga akan terjadi.
Allah yang lebih pandai menata setiap diri.
Tinggal kita jalani saja apa mau-Nya.
Nikmati saja setiap episode hidup.
Senyumlah dan jangan biarkan hatimu tertutup.

Ketika Layar HP Masih Melambai-lambai

Hanya tatapan wajahmu,
seuntai indah senyummu.
Dibingkai derai tawamu,
disulam barisan gigi-geligi,
yang tak lepas memuji Ilahi Robbi.

Dulu kita pernah dekat,
waktu lampau kita pernah berjabat.
Bahkan pipi kita menempel erat,
berharap ukhuwah makin lekat.
Kita duduk berdekatan,
dalam suasana ta’lim dan tarbiyah.
Tetapi kini semua berubah,
ketika Corona bersemi menjadi wabah.

Ya, Corona, ya, Covid 19.
Antum mau bacanya bagaimana?
Jika dibaca Covid nineteen,
maka dekat secara fisik belum bisa terjalin.
Bila dibilang Covid sembilan belas,
maka tangan kita tak bisa menggenggam bebas.

Kini hanya layar HP tempat antum muncul sampai selesai,
layar laptop jadi wadah rindu tertumpah.
Ana jauh, antum lebih jauh lagi.
Hanya terjalin lewat benang bernama internet,
yang kadang cepat, lebih sering lelet.

Apakah ukhuwah ini terganggu, Saudaraku?
Ana berharap tak seperti itu.
Corona memang mengubah keadaan,
hingga hanya dari layar ke layar berpendar,
yang mukanya tergantung nyawa baterai,
yang mungkin sering lobet,
hingga membuat galau terus merembet.

Lewat momen silaturahim akbar ini, Sahabat?
Kita terhubung lewat aplikasi Zoom,
semoga berbuah ukhuwah yang sangat ranum.

Banyak yang bilang aplikasi Zoom tak aman.
Namun bagiku, yang mana saja asal nyaman.
Muka-muka kita,
wajah-wajah kita,
yang masih banyak berlumur dosa.
Berharap saling menutupi,
saling mengisi.
Sampai sebelah kaki ini menginjak surga,
dan kita tersenyum bahagia.
Selamanya.

Bombana, 6 Juni 2020.

Penjelasan: Puisi di atas pernah saya ikutkan dalam lomba puisi yang diadakan oleh DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Tenggara. Kalau dari jumlah like dan share di fanpage DPW WI Sultra, mendapatkan peringkat kedua dari total tiga peserta yang lolos.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here