Kisah Cinta Terindah Sepanjang Sejarah

0
63

Biasanya, jika menyangkut kisah cinta, ada berbagai macam persepsi atau contoh. Ada yang mengambil kisah dari orang-orang barat. Ada juga yang dari dalam negeri, dari para artis misalnya.

Cerita-cerita yang katanya berbalut cinta itu dibesarkan melalui media. Disebarkan melalui buku-buku, hingga membuat banyak orang terhanyut dan larut.

Namun, hal yang tidak disadari adalah di dalamnya banyak kemaksiatan, bahkan sampai bunuh diri dengan alasan cinta yang ditolak. Ini sih namanya cinta yang konyol. Seharusnya cinta itu menghidupkan, bukan mematikan. Begitu bukan?

Kalau cinta yang indahnya abadi sepanjang masa dan selalu penuh kebaikan, tidak bisa tidak, berasal dari teladan kita, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Sejak 1.400 tahun lebih yang lalu, kisah tersebut sangat indah untuk dikenang.

Namun, tidak cuma dikenang, tetapi juga direnungkan. Dijadikan pelajaran untuk kita yang ingin menjadi umatnya sepanjang hayat kita.

Nah, kisah cinta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan cinta pertamanya, kekasih pertamanya, pendukung perjuangan yang pertama, beliau adalah Khadijah radhiyallahu anha. Kisah tersebut menjadi tema untuk ta’lim sakinah kemarin, Jum’at (26/11/2021) mulai pukul 16.10 WITA di Masjid An-Nur, Kompleks Pesantren Putri Al-Wahdah Bombana. Pematerinya adalah Ustadz Akbar Jabba, S.Pd.I (Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana).

Keturunan

Khadijah radhiyallahu anha adalah istri yang paling dicintai Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam karena dari perempuan mulia tersebut, nabi kita mendapatkan keturunan. Tentunya, keturunan ini juga menjadi alasan seseorang untuk menikah. Meneruskan perjuangan orang tuanya atau mendukung kebanggaan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang menginginkan umatnya yang sangat banyak.

Ketika belum ada agama Islam di tanah Arab, Khadijah radhiyallahu anha tetaplah menjadi wanita yang suci, di tengah lingkungan yang jahiliyah. Beliau tidak larut dengan segala macam keburukan masyarakat di kala itu.

Padahal, beliau seorang wanita juga. Keadaan wanita saat itu memang sangat memprihatinkan. Wanita bisa diperlakukan seenaknya, dijual, atau dijadikan tempat untuk melampiaskan syahwat secara tidak halal.

Contoh Wanita Produktif

Keadaan sekarang, sangat banyak kaum ibu atau istilah gaulnya, emak-emak, yang berbisnis online. Mereka berjualan melalui internet, hanya dari rumah. Sambil mengurus anak-anak atau suami, tetapi tetap berpenghasilan.

Jauh sebelum ada internet, Khadijah radhiyallahu anha sudah menunjukkan diri sebagai perempuan yang pandai berbisnis. Usahanya semakin bertambah pesat karena bekerja sama dengan banyak orang. Namun, mereka bukanlah karyawannya. Sistem yang dipakai Khadijah radhiyallahu anha adalah sistem bagi hasil. Mirip dengan sistem bisnis sekarang, yaitu: dropshipper maupun reseller.

Kalau sistem yang dipakai seperti itu, maka keuntungan berada di kedua belah pihak. Khadijah radhiyallahu anha tidak terlalu terbebani dengan menggaji karyawan yang jumlah gajinya tetap, baik saat usahanya maju atau kurang. Bagi orang yang bekerja sama dengannya, akan menjadikan motivasi atau tantangan tersendiri. Jika ingin bagi hasilnya besar, ya, harus usaha lebih giat dong!

Peluang bisnis tersebut dilirik juga oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Waktu itu, beliau belum diangkat menjadi nabi utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nabi kita ingin bekerja sama dengan Khadijah radhiyallahu anha karena memang faktor ekonomi.

Saat berbisnis itulah, Khadijah radhiyallahu anha menaruh perhatian kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Akhlak seorang laki-laki yang mulia, sopan terhadap pembeli, tidak pernah berbohong atau bersumpah palsu, jualan yang laris manis, membuat Khadijah radhiyallahu anha kesengsem.

Diutuslah Nafisah untuk menyampaikan keinginan Khadijah radhiyallahu anha kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Hingga sampailah kepada pernikahan yang megah di antara mereka berdua. Khadijah radhiyallahu anha menikah di usia 40 tahun dan menurut kaidah yang kita ketahui, nabi kita menikah pada usia 25 tahun.

Perbedaan usia yang sangat jauh sebenarnya. Namun, jangan salah! Khadijah radhiyallahu anha pada usia tersebut tidak seperti perempuan sekarang yang bisa jadi minim perawatan wajah dan tubuh ketika usia 40 tahun. Khadijah radhiyallahu anha tetaplah perempuan yang cantik, beliau termasuk bangsawan dan satu lagi, orang kaya! Sekali lagi, orang kaya!

Dukungan 100%

Ada sebuah kalimat motivasi: “Di balik suami yang hebat, ada istri yang juga hebat”. Kalimat itu sangat terbukti pada kisah rumah tangga antara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Khadijah radhiyallahu anha. Istri nabi kita mendukung 100% dakwah suaminya. Bahkan kalau bisa 200% hingga 1.000% pun akan diberikan.

Dari yang tadinya perempuan kaya, berubah 180 derajat. Sebab, mereka berdua sudah tidak sempat lagi mengurus bisnis atau perniagaan lagi. Semuanya diarahkan untuk dakwah, menuju kepada tegaknya Islam.

Khadijah radhiyallahu anha sempat membawa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ke Waraqah bin Naufal. Beliau adalah seorang pendeta. Katanya, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam didatangi Malaikat Jibril alaihissalam untuk menerima wahyu pertama kali, Waraqah mengatakan bahwa itu adalah namus (malaikat) yang juga turun kepada Nabi Musa alaihissalam.

Waraqah menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam nantinya akan diusir dan dibenci oleh kaumnya sendiri. Dan, benar, perjuangan nabi kita dalam menegakkan tauhid luar biasa berat. Bahkan, beliau dan kabilahnya, Bani Hasyim, pernah diboikot oleh kaum kafir Quraisy. Keadaan tersebut membuat pasokan makanan dan minuman sangatlah kurang.

Ujian yang berat menimpa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dari kaumnya bertambah berat tatkala Khadijah radhiyallahu anha meninggal dunia. Beliau tentu saja sangat bersedih. Akan tetapi, dakwah beliau tetap tidak bisa berhenti, bahkan semakin menunjukkan peningkatan dan perkembangan. Alhamdulillah, puncak perjuangan beliau sampai juga menjadikan Islam berkuasa penuh di jazirah Arab, sampai ke berbagai daerah yang jauh.

Hikmah dari Kisah Ini

Ada satu hikmah penting dari kisah cinta antara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Khadijah radhiyallahu anha yang juga menjadi perempuan penghulu surga ini. Hikmah tersebut adalah dukungan dari suami atau istri kepada pasangannya yang menjadi dai atau daiyah.

Sudah menjadi konsekuensi, ketika kita mempunyai pasangan seorang ustadz atau ustadzah, maka ada amanah atau beban dakwah yang melekat di pundak mereka. Waktu untuk keluarga pun menjadi berkurang, harus berbagi untuk mengurus umat.

Akan menjadi hal yang aneh, saat seseorang mengharapkan menikah dengan akhwat dari sekolah Islam, seperti STIBA Makassar, atau aktif di lembaga dakwah, seperti Wahdah Islamiyah, tetapi membatasi sang istri untuk keluar rumah demi menjalankan peran-peran dakwah dan tarbiyah.

Kaidah istri memang di rumah, tetapi hal itu seharusnya tidak boleh menjadi alasan atau penghalang tatkala istri ingin meniti jenjang menyebarkan ilmu syar’i atau mengajak orang lain ke dalam kebaikan Islam ini.

Kita melihat bukti dukungan Khadijah radhiyallahu anha kepada suami terakhirnya tersebut, meskipun beliau belum sempat melihat hasilnya. Namun, yakin dan pasti, beliau tetap akan mendapatkan bagian amal jariyah yang sangat besar karena beliau adalah penganut awal Islam.

Sesi Diskusi

Dalam ta’lim sakinah oleh Ustadz Akbar ini diberikan kesempatan hadirin untuk bertanya atau mungkin juga mengungkapkan keluh-kesahnya selama berumah tangga. Curhat begitu istilahnya. Bukankah itu yang sering terjadi ketika ada acara ta’lim sakinah?

Pertanyaan pertama tentang kiat menjadi suami idaman. Ustadz Akbar menjawab ada banyak hal untuk menjadikan suami idaman. Salah satunya harus selalu sabar menghadapi istri. Sebab, pada dasarnya istri itu sebagai perempuan yang punya sifat cerewet dan banyak omong. Diberikan saja haknya untuk bicara banyak kepada suami.

Selain itu, jangan menjadi suami yang menang sendiri. Ini juga penting karena suami bukan lagi orang yang jomblo, melainkan sudah punya istri. Makanya, yang benar adalah menang bersama, bukan menang sendiri.

Bagaimana dengan pendapatan yang dimiliki oleh suami? Apakah harus istri yang memegangnya? Ternyata, tidak harus seperti itu. Suami tetap bisa memegang uangnya sendiri, asalkan jangan kikir. Jika diberikan ke istri semua uang, lalu menyebabkan istri jadi boros dan tidak bisa mengontrol keuangan, maka sebaiknya suami yang tetap memegang uang.

Sedangkan, saat istri sudah memiliki penghasilan sendiri, alangkah baiknya, ketika membelanjakannya izin kepada suami. Hal itu demi menghindari kecurigaan. Tindakan tersebut juga dapat menjadi simbol keterbukaan komunikasi antara suami dan istri.

Pertanyaan juga ada kaitannya dengan yang viral-viral. Bagaimana dengan perempuan yang melamar laki-laki seperti yang viral itu? Ustadz Akbar menjawab boleh saja uang pernikahan dari perempuan, tetapi tetap syarat sah menikah itu dengan mahar dari laki-laki. Meskipun mahar tersebut bukan sesuatu yang mahal, mewah, dan wah! Cukup dengan cincin besi, itu sudah cukup jadi mahar. Atau seperti yang dikatakan oleh seorang ustadz di Kendari, cincin sumur pun boleh menjadi mahar!

Pertanyaan terakhir datang justru bukan dari orang yang sudah menikah. Ini juga hal yang bagus karena sebelum menikah saja sudah rajin mengikuti ta’lim sakinah, apalagi nanti ketika sudah ada jodohnya. Ta’lim semacam itu memang akan menjadi bekal dalam berumah tangga. Tujuan lainnya adalah memperbaharui ilmu yang selama ini mungkin dilupakan dalam hubungan cinta suami istri.

Bagaimana hubungannya antara lingkungan dengan diri kita? Sang penanya mengungkapkan bahwa tadi Khadijah radhiyallahu anha tidak terpengaruh lingkungan, lalu bagaimana dengan hijrah ke lingkungan yang lebih baik?

Ustadz yang berasal dari Kabupaten Bone ini menjawab bahwa jika kita mampu bertahan di lingkungan yang buruk dan tetap istiqomah, maka itu menjadi nilai plus. Namun, jika tidak sanggup, maka berhijrah adalah jalan terbaik.

Ibarat yang dikatakan ustadz lain bahwa sejatinya hidup ini mirip dengan pelajaran anak TK. Kalau kita tidak mewarnai, maka kita yang akan diwarnai. Nah, menghadapi lingkungan di sekitar kita, apakah kita yang bisa mewarnai atau justru kita yang dipengaruhi alias diwarnai? Kitalah yang dapat menjawabnya.

Tentunya, dalam menjawab membutuhkan penguatan dan pengokohan. Dua hal itu akan didapatkan pada diri pasangan kita yang sholeh atau sholihah. Hidup kita jadi tenteram, rumah juga jadi adem ayem, dakwah pun akan dijalankan dengan rasa suka dan tidak terlalu terbebani. Sejuklah mereka yang sudah menikah. Anda sendiri bagaimana? Sudah menikah juga?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here