Kegiatan Silatnas: Momen Pas untuk Terus Tumbuh Bertunas

0
111

Jauh dekat Rp5.000,00. Apakah Anda pernah mendengarnya? Jika Anda pengguna angkutan umum, seperti mobil pete-pete di Kendari, maka Anda akan paham.

Kendaraan umum dengan mobil jenis L300 itu bisa dinaiki siapa saja. Tujuannya kalau di Kendari, ada tiga. Yang strip hitam menuju ke arah kota, yang strip pink ke arah Baruga. Ada juga strip hitam ke arah Puuwatu.

Mobil tersebut menuju rute atau trayek yang telah ditetapkan. Jadi, di manapun Anda naik sesuai tujuan dari si mobil, tetap akan bayar lima ribu rupiah. Bahkan, meskipun Anda salah tujuan, naik mobil cuma lima menit, terus turun lagi, tetap 5.000 rupiah!

Lalu, apa hubungannya dengan berita kali ini? Ternyata, memang ada hubungan yang bisa dikaitkan. Kita tahu bahwa kendaraan umum bukanlah tujuan utama, melainkan sarana atau wasilah saja. Nah, sama dengan organisasi. Namun, tidak sembarang organisasi yang dibahas kali ini, lebih khusus dan utama lagi adalah organisasi bernama Wahdah Islamiyah (WI).

Jauh dekat lokasi semua kader WI terkumpul menjadi satu dalam momen Silaturahmi Nasional (Silatnas) pada hari ini, Ahad (14/11/2021). Melalui media Zoom, berhasil dikumpulkan sampai 50.000 orang lebih, baik itu ikhwan maupun akhwat! Dan, yang terkumpul tersebut adalah betul-betul real orang. Bukan seperti orang yang mengaku punya followers banyak, tetapi ternyata sebagian besar akun palsu.

Kader yang berada di Aceh, Lampung, Jakarta, Jogja, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, sampai yang ada di luar negeri, tumplek bleg dalam keakraban Silatnas. Acara yang berlangsung dalam situasi pandemi covid-19 ini memang baru pertama terjadi. Mengumpulkan sampai 50.000 orang lebih dalam satu waktu, satu tempat, sangatlah tidak mudah secara offline. Berkat teknologi, semuanya jadi lebih mudah.

Para Petinggi

Dalam sebuah organisasi, pastilah ada orang-orang yang ditokohkan, dituakan, dan sangat dihormati. Biasanya, mereka adalah para pendiri organisasi atau yang memulainya. Sama dengan di WI, hadir para ustadz yang telah mengorbankan waktu, ilmu, harta, dan tenaga demi mengembangkan organisasi yang lahir pertama kali di Makassar ini.

Hadir Ustadz Ikhwan Abdul Jalil. Ustadz yang pernah menjadi wakil Ketua Umum WI ini telah memberikan apresiasi kepada para kader, utamanya kalangan akhwat. Mereka telah membantu dan berlelah-lelah bekerja dalam dakwah.

Ustadz Muhammad Ikhwan Abdul Jalil

“Apa yang paling menarik dari para akhwat kita? Ternyata adalah tangan-tangan mereka yang siap menggandeng tangan kita ke surga.” Kata ustadz lulusan Madinah ini.

Bagian organisasi dari WI yang bernama Dewan Syuro dikatakan oleh Ustadz Ikhwan, “Dewan Syuro ini kerjanya memang tidak kelihatan sebab mengawasi dan merancang program strategis.”

Sementara itu, menurut Ustadz Muhammad Yusran Anshar tentang pencapaian WI, “Kita sudah memiliki aplikasi Tabik Ustadz. Kita juga membuka konsultasi Dewan Syariah dari Senin sampai Jum’at. Kita sudah menerbitkan buku panduan ibadah ketika covid. Buku soal jawab masalah dari 500 pertanyaan yang masuk dan akan diterbitkan nanti Insya Allah.”

Satu lagi tokoh WI, yaitu: Ustadz Rahmat Abdurrahman. “Saat ini Wahdah Islamiyah sudah ada di 215 kabupaten/kota dari target sebanyak 412. Jadi sudah lebih dari 50%. Sekolah Wahdah Islamiyah juga sudah ada di seluruh wilayah Indonesia.”

Beliau menambahkan, “Wahdah Islamiyah sekarang sedang menuju puncak, tidak tahu puncaknya di mana? Harapannya, Wahdah Islamiyah untuk Indonesia, Wahdah Islamiyah untuk umat Islam.”

Menggetarkan Hati

Salah seorang peserta mengatakan di kolom komentar kurang lebih begini, “Saya ada suatu perasaan yang tidak bisa dilukiskan.”

Ternyata, memang ada perasaan yang susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Yang pertama selain karena terkumpulnya para kader dengan jumlah yang luar biasa, juga mendengar lantunan kalam Ilahi yang dilantunkan dua orang secara bergantian. Momen ini juga langka karena biasanya hanya satu orang yang membaca Al-Qur’an di depan hadirin.

Suasana Nobar (Nonton Bareng) Silatnas di DPC Kabaena Barat

Dua orang tersebut adalah Fawas, murid SD IT Al-Wahdah Makassar dan Fathur Rijal, imam Masjid bin Baz, Makassar juga. Mereka membacakan Surah Ar-Rahman. Ketika mendengar ayat-ayat yang mulia tersebut, bergetar hati para peserta. Meresapi maknanya tentang surga yang luar biasa. Kerinduan untuk memasukinya, kerinduan pula untuk berkumpul dengan orang-orang yang sekarang sedang berkumpul.

Getaran hati tambah bergetar lagi ketika Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, bergabung di ruang zoom. Meskipun sedang dalam kendaraan, beliau tetap memberikan wejangan.

“Pada bulan Agustus yang lalu, kita memperingati kemerdekaan. Namun, merdeka bukanlah sekadar merdeka, tetapi menuju kemerdekaan yang hakiki. Kemerdekaan bukan hanya untuk menggulung kolonialisme, tetapi juga menggelar keadilan sosial.”

Ketika Anies Baswedan berbicara memang sangat banyak komentar yang masuk melalui kolom chat. Ada yang mendukung Anies menjadi presiden RI nanti di tahun 2024. Mendoakan Anies agar tetap amanah. Mengucapkan “Masya Allah” berkali-kali. Meskipun, ada pula yang berkomentar dan meragukan sedikit negatif tentang pemimpin yang lahir dari demokrasi. Subhanallah.

Anies mengutarakan nasihat berikutnya, “Suku yang ada di Indonesia ini untuk mencapai tujuan bersama. Seperti air yang terdiri dari hidrogen dan oksigen. Ketika sudah menjadi air, maka air itu tidak bisa disebut hidrogen, tidak bisa juga disebut oksigen. Air adalah entitas baru dari penggabungan hidrogen dan oksigen.

“Sama dengan keluarga yang terbentuk dari laki-laki dan perempuan. Ketika sudah terbentuk keluarga, maka tidak bisa disebut keluarga itu hanya laki-laki atau hanya perempuan. Indonesia juga begitu. Lahir sebagai entitas baru dari berbagai suku yang ada.”

Terkait dengan waktu, Anies mencontohkan fenomena orang melamar pekerjaan, “Jika kita baru saja lulus dari perguruan tinggi, melamar pekerjaan terus ditanya pengalamannya apa? Maka jawab saja, saya memang tidak punya pengalaman pak, karena yang saya tawarkan adalah masa depan. Kalau bapak mencari pengalaman, maka carilah orang tua karena mereka banyak pengalaman, tetapi orientasinya masa lalu.”

Dari situ, Anies melihat WI ini sebagai organisasi yang masih muda, tetapi berorientasi masa depan dan mampu melakukan berbagai kegiatan. Anies mengingatkan, meskipun masih muda, tetapi jangan bergerak sendiri. Panggil para ahli untuk bekerja sama.

Suasana Nobar di DPC Poleang

Anies terlihat terharu menyaksikan perjuangan para kader dalam mengikuti Silatnas. Bahkan, ada rombongan muslimah yang harus menyeberang pulau demi mendapatkan sinyal internet berkualitas guna menghadiri Silatnas secara daring ini. Anies memang berharap suatu saat nanti sinyal internet di semua wilayah Indonesia akan bagus. Meskipun pada akhirnya, gambar para muslimah tersebut diklarifikasi tidak ada kaitannya dengan Silatnas 2021 kali ini. Waallahu ‘alam.

Tidak hanya itu, Anies memberikan kalimat seperti ini, “Jarak lokasi memang jauh, tetapi jarak antarhati kita dekat.”

Suasana Lokal

Suasana Nonton Bareng (Nobar) Silatnas 2021 di Masjid An-Nur (1)

Tempat mengikuti Silatnas bagi kader di bawah DPD Wahdah Islamiyah Bombana adalah di Masjid An-Nur, Ponpes Putri Al-Wahdah Bombana. Ini khusus untuk ikhwan. Sedangkan untuk yang akhwat, berada di asrama lama santri putri.

Alhamdulillah, tempat yang nyaman memang berada di masjid. Para peserta menyaksikan dari layar besar, disorot dengan infocus, ditambah dengan hidangan yang sangat menggugah selera. Mulai dari kue-kue kecil, air mineral, dipadu dengan es buah yang bisa diambil sepuasnya, ditutup setelah Dzuhur dengan nasi bungkus sebagai makan siang.

Suasana Nonton Bareng (Nobar) Silatnas 2021 di Masjid An-Nur (2)

Kebersamaan tersebut tidaklah setiap hari, sehingga sangat terasa suasananya. Kondisi berbeda dirasakan oleh kader akhwat. Ruangan yang sebenarnya cukup luas menjadi sesak karena kehadiran peserta yang sangat banyak. Subhanallah. Kalau untuk kehadiran yang lebih banyak dalam acara apapun, akhwat memang susah untuk dikalahkan ikhwan.

Kegiatan Silatnas ini bisa diibaratkan pemanasan menjelang Muktamar IV WI pada bulan Desember nanti di Makassar. Melihat antusiasme para peserta, rasanya memang WI ini akan semakin membesar dan menanamkan akarnya yang kokoh di tengah masyarakat Indonesia.

Jumlah yang besar seharusnya bukan menjadi kebanggaan yang semu. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Yusran Anshar, “Penambahan kader tujuannya bukan untuk menjadikan kita berbangga dengan nama lembaga kita. Namun, penambahan kader harusnya menjadikan kita bersyukur bahwa semakin banyak orang yang mentauhidkan Allah, semakin banyak yang mengenal sunnah, dan semakin banyak wanita yang memakai hijab.”

Suasana Nonton Bareng (Nobar) Silatnas 2021 di Masjid An-Nur (3)

Acara Silatnas pada bagian akhir, dilakukan pembagian doorprize bagi peserta yang beruntung. Mereka adalah yang pertama kali hadir di ruang Zoom. Link dibuka sebelum Subuh. Begitu pula di Masjid An-Nur. Ada satu orang yang beruntung karena hadir pertama kali. Selamat bagi yang beruntung.

Semoga ke depannya ada pertemuan seperti ini lagi. Sebagai sarana untuk lebih mengakrabkan antarkader, selain itu untuk menambah semangat dalam berdakwah melalui wasilah organisasi WI.

Bagaimanapun, melalui WI, setiap yang terlibat di dalamnya ibarat sedang menanam pohon. Buah dari pohon itu akan dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Menjadi suatu amal jariyah. Lebih luas lagi untuk bangsa dan negara sesuai motto acara ini, “Bakti dan Setia untuk Indonesia Tercinta.” Insya Allah. Waallahu ‘alam bisshowab.

Sesi Foto Bersama Ketua DPD WI Bombana, Ketua Departemen/Lembaga di Bawah DPD WI Bombana, Ustadz, Dai, dan para kader WI Bombana (1)
Sesi Foto Bersama Ketua DPD WI Bombana, Ketua Departemen/Lembaga di Bawah DPD WI Bombana, Ustadz, Dai, dan para kader WI Bombana (2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here