6 Kiat Jika Ingin Berubah [NGOPI #4 di Kafe De Ran Bombana]

0
118

Kata “berubah” bisa muncul dalam berbagai situasi. Salah satunya, ada kaitan dengan kenangan masa kecil. Seperti apa?

Ya, benar! Kata “berubah” identik dengan pahlawan super idola anak-anak zaman dahulu, termasuk sekarang juga sih. Biasanya, tayangan film kartun tersebut muncul di hari Ahad dari pagi sampai agak siang pada era tahun 1990-an.

Berubah yang dipahami anak-anak, dari manusia biasa menjadi wujud tokoh dengan kostum khusus untuk melawan kejahatan. Ketika berubah itulah, punya kekuatan yang luar biasa, sampai akhirnya kebaikan selalu mengalahkan kejahatan.

Mengenai tokoh-tokoh kartun tersebut, saya (penulis) teringat dengan perkataan Ustadz Syaiful Yusuf, Lc, MA. Beliau pernah berujar bahwa biasanya tokoh-tokoh tersebut berasal dari negara Barat.

Tokoh-tokoh yang dikenal dengan superhero itu cuma fiktif. Tidak nyata. Tidak ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Apa yang mendasari orang Barat membuat itu? Ustadz yang bermukim di Kendari tersebut mengatakan bahwa negara Barat memang tidak punya pahlawan yang dapat dibanggakan.

Makanya, mereka merancang tokoh-tokoh khayal agar seolah-olah dunia Barat punya pahlawan. Kita bandingkan saja dengan dunia Islam. Memiliki pahlawan super yang nyata, berjuang untuk agama ini, pengorbanan yang tidak diragukan lagi, dan menjadi pujaan di dunia, bahkan beberapa di antaranya dijamin masuk surga yang abadi. Kurang apalagi coba?

Semestinya tokoh-tokoh pejuang Islam, seperti: khulafaur rasyidin, menjadi idola yang benar-benar idola bagi anak-anak kita. Begitu bukan?

Dimulai dari Apa?

Membahas perubahan ini erat kaitannya dengan kondisi yang tidak menyenangkan berubah menjadi menyenangkan. Dari yang kurang baik menjadi baik. Bagaimana kiat-kiatnya?

Pembahasan lengkapnya ada di NGOPI alias NGObrol Perkara Iman yang keempat kalinya. Lagi dan lagi berlangsung di Kafe De Ran, Kelurahan Lampopala, Kecamatan Rumbia. Dimulai dari sekitar pukul 20.00 WITA, biasa, dan berakhir sampai dengan 21.30, juga biasa.

Kali ini, narasumbernya baru. Meskipun beliau pernah tinggal lama di Bombana dan menjalankan amanah dakwah di sini, tetapi untuk pertama kalinya mengisi acara NGOPI.

Ustadz Darlan Bakri, S.H, adalah orang yang dimaksud pada malam Ahad ini, Sabtu (13/11/2021). Beliau yang merupakan alumnus Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar memberikan 6 kiat agar berubah kita itu tidak sekadar berubah.

Pertama, perlu adanya niat yang ikhlas dan tekad yang kuat. Niatnya mesti karena Allah, bukan mencari rida manusia. Atau, dalam hal lain, ketika ada tren banyak orang berhijrah, maka ikut-ikutan berhijrah.

Mari kita lihat perkataan seorang ulama. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم

“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”

Para ulama juga memiliki istilah lain,

ما كان لله يبقى

“Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.”

Jika seseorang yang mau berubah tanpa niat dan tekad, maka akan berefek nantinya akan lemah. Misalnya, berubah dari segi penampilannya yang sesuai sunnah. Pada fase awal, mungkin saja dia akan takut pulang ke rumah!

“Waduh, apa nanti kata orang tuaku ya?”

“Kira-kira kalau saya nanti ketahuan berpenampilan begini, apakah orang tuaku akan mengusirku?”

Kecemasan semacam itu memang wajar, apalagi menghadapi orang tua yang mungkin masih awam atau belum mengenal sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Bukankah dalam buku-buku motivasi disebutkan bahwa sesuatu yang belum kita kenal, maka cenderung akan dianggap negatif? Ya ‘kan?

Jika memang terjadi ketakutan di depan orang tua seperti itu, solusi yang terbaik adalah tunjukkan saja perubahan kita dari segi akhlak dan perlakuan kepada mereka. Misalnya, lebih rajin membersihkan rumah. Lebih rajin membantu orang tua. Lebih ramah dan rajin senyum kepada mereka.

Boleh juga ditambah dengan menampilkan dakwah kita. Saat ada kesempatan untuk menjadi khotib Jum’at, sambar saja! Tampilkan diri kita di depan orang banyak dalam rangka menuntut ilmu, berdakwah, dan mengenalkan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ketika orang menganggap khutbah kita bagus, Alhamdulillah, semoga tidak sampai riya’ dan ujub, maka orang tua kemungkinan tidak akan melihat kita dengan sebelah mata lagi. Namun, wujud dari hasil belajar kita, hasil mengaji kita, tercermin dalam perilaku, akhlak, dan tidak lupa, kualitas ilmu kita.

Orang tua mana sih yang tidak bangga dengan anaknya? Apalagi saat anak mempunyai ilmu agama yang menjadi bekal kebahagiaan dunia dan akhirat.

Seperti Kompas

Kiat kedua bila mau berubah menjadi lebih baik adalah dengan ilmu. Hal yang dimaksud di sini tentu saja adalah ilmu syar’i.

Orang yang mau berubah harus memiliki ilmu, orang bisa berubah karena semakin berilmu dan memiliki ilmu. Dahulu tidak tahu setelah tahu, maka berubah. Dahulu bodoh setelah pintar dan berilmu, akan berubah lebih baik.

Ibarat kompas, ilmu agama akan memandu kita dalam kehidupan. Contoh saja, doa yang diucapkan setelah sholat Subuh. Silakan cek dan baca, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengajarkan doa mulia tersebut, lebih mendahulukan ilmu atau menyebutkan ilmu di kesempatan yang pertama.

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata,

النَّاسُ إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ لِأَنَّ الرَّجُلَ يَحْتَاجُ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي الْيَوْمِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ وَحَاجَتُهُ إِلَى الْعِلْمِ بِعَدَدِ أَنْفَاسِهِ

“Manusia lebih butuh kepada ilmu dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman, karena seseorang butuh makan dan minum dalam sehari hanya satu atau dua kali, sedang kebutuhannya terhadap ilmu adalah sebanyak hembusan nafasnya.”

Pada kiat ketiga, jangan lupakan untuk berteman dengan orang-orang yang sholeh. Bukankah kita punya kecenderungan dalam hati untuk berteman dengan orang sholeh daripada orang salah?

Ambil contoh, tatkala ada di antara kita yang ingin terbebas dari minuman keras. Yang dimaksud minuman keras di sini bukanlah es batu, melainkan benar-benar minuman yang memabukkan.

Orang yang ingin berhenti mabuk, harus hati-hati jika masih berteman terus dengan pemabuk. Jika masih berteman dengan mereka, dia akan susah berubah dari pemabuk menjadi orang yang tidak suka mabuk. Jadi, solusinya adalah meninggalkan teman-teman yang buruk, lalu diganti dengan teman-teman yang shalih atau shalihah agar bisa berubah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545).

Pengalaman adalah Guru yang Berharga

Pernah mendengar kalimat dalam subjudul di atas? Yang dimaksud pengalaman adalah guru yang berharga, bisa pengalaman sendiri, tetapi boleh juga pengalaman orang lain. Meneropong pengalaman pribadi, bukanlah untuk meratapi masa lalu melainkan sebagai sarana evaluasi dan usaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Masih kaitannya dengan masa lalu, ada perumpamaan rusa yang dikejar oleh macan. Ketika macan mengejar rusa, maka si rusa akan mudah tertangkap. Menurut Ustadz Darlan, hal itu karena rusa sering menengok ke belakang. Dikatakan bahwa rusa menengok ke belakang karena tidak punya spion! Bukankah daripada terlalu sering menengok ke belakang, akan lebih baik bila kita sering menengok orang sakit? Betul atau betul?

Melihat kembali ke masa yang telah lewat, belajar dari pengalaman sendiri maupun orang lain menjadi poin keempat kiat berubah menjadi lebih baik.

Orang bijak mengatakan,

السَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ

“Orang berbahagia adalah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain.”

Bagaimana dengan poin kelima dan keenam? Mari kita simak yang selanjutnya!

Tanda Makhluk yang Lemah

Dalam tips kelima, kita memang harus menyadari bahwa kita adalah makhluk yang lemah, bahkan sangat lemah. Mungkin kita merasa kuat karena masih muda atau karena belum menikah. Meskipun kadang ya, perasaan yang berbicara, kita jadi tidak kuat menerima kenyataan belum mendapatkan pasangan yang halal, padahal teman-teman kita sudah memiliki. Dilombai lagi, demikian istilahnya.

Kelemahan kita sebagai manusia dicari jalan keluarnya dengan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saat punya tekad, “Aku ingin berubah”, maka berdoa memohon hidayah dan istiqomah sangat perlu untuk dilakukan.

Jalan untuk meraih hidayah tidaklah ringan. Namun, untuk bisa selalu istiqomah di atas hidayah tersebut juga berat dan membutuhkan perjuangan. Jadi, doa sangatlah diperlukan karena menjadi senjata orang mukmin.

Ditegaskan lagi bahwa orang kalau ingin berubah, maka harus berani berdoa untuk berubah. Para perokok hanya ngomong ingin berubah, tetapi tidak pernah berdoa kepada Allah agar bisa untuk berubah. Sebuah doa yang sangat indah berkaitan dengan poin kelima ini:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Kiat yang keenam atau terakhir adalah melihat chas HP kita. Lho, maksudnya? HP yang sering kita pegang itu akan bertambah baterainya jika dichas.

Begitu juga iman kita. Harus rajin-rajin dichas. Caranya? Eksis hadir di majelis-majelis ilmu.

Ustadz Darlan mengatakan, “Ketika masa pandemi yang lalu, saya merasakan bahwa iman terasa turun. Sebab saya tidak bisa hadir di majelis-majelis ilmu secara langsung.”

Hadir di majelis ilmu dan bertemu teman-teman sesama muslim akan membangkitkan semangat keimanan kita. Manusia memang berbeda dengan magnet. Kalau magnet, kutub yang sama akan tolak-menolak. Sedangkan manusia, kutub yang sama justru akan tarik-menarik!

Ketika punya keinginan untuk berubah yang sama, ingin mendapatkan pahala yang sama, dan berharap masuk surga yang sama, maka di situlah frekuensi ketertarikan itu akan lebih meningkat. Maka, mari kita jaga ketika punya teman-teman yang aktif hadir di majelis-majelis ilmu.

Cara Menjauhi dan Menghindari

Saat tiba sesi diskusi, ada yang menanyakan cara menjauhi teman yang buruk? Ustadz Darlan menjawab, “Kita perlu mengenali tempat berkumpulnya. Setelah tahu, maka hindarilah!”

Teman-teman yang buruk biasanya punya tempat bertengger yang tetap. Nah, misalnya kita tahu, mereka suka nongkrong di bawah jembatan, atau di dekat selokan, atau di pojokan jalan, maka jangan lewat situ. Ini jelas bukan berarti membangun jalan sendiri, melainkan menghindari pertemuan dengan mereka yang ujungnya adalah ajakan kepada keburukan dari mereka juga.

Dunia ini ibaratnya pelajaran anak TK. Kalau tidak kita yang mewarnai, maka yakinlah, kita yang akan diwarnai.

Pertanyaan selanjutnya adalah menghindari fitnah perempuan dalam pergaulan. Solusi yang jitu untuk masalah ini tidak lain dan tidak bukan adalah dengan jalan menikah. Namun, karena yang hadir di acara NGOPI ini sebagian besar anak-anak muda yang masih SMA dan sederajat atau baru saja lulus SMA, maka jalan menikah tidak menjadi solusi satu-satunya.

Lalu, apa dong? Bisa dengan mencari kesibukan yang positif atau berkumpul dengan teman-teman yang sholeh. Selain itu, menurut Ustadz Darlan, dengan memakai baju muslim ke mana-mana. Saat memakai baju koko, maka keinginan untuk berbuat yang tidak benar akan bisa direduksi. Ah, masa pakai baju begini, kok kelakuan begitu?

Kalau merasa sudah siap, lahir dan batin, maka menikah saja. Ada sebuah kisah tentang anak muda yang rajin belajar ilmu agama. Dia banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku atau hal lain, pokoknya belajar memahami agama ini.

Tibalah waktunya dia untuk menikah. Keinginan menggebu-gebu itu disampaikan kepada ustadznya. Oleh sang ustadz dikatakan, “Jangan dulu menikah! Nanti setengah waktumu akan tersita!”

Apa jawaban anak muda tersebut? Dia mengatakan dengan cukup jelas, “Tidak apa-apa, Ustadz, separuh waktuku tersita. Yang penting separuh agamaku bisa sempurna!”

Semoga bermanfaat. Wa’allahu alam bisshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here