Menjemput Hidayah dengan Indah

0
188

Indonesia dikenal sebagai surganya makanan. Aneka jenis kuliner ada di negeri yang kita cintai ini.

Menurut persepsi, makanan-makanan itu akan lebih enak disantap jika berada di daerahnya langsung. Bisa jadi kita menyantap bukan di daerah asal, rasanya akan berbeda.

Itu dilihat dari segi makanan yang mengenyangkan badan kita. Bagaimana pula dengan jiwa? Bagaimana cara membuatnya kenyang?

Memenuhi jiwa dengan gizi tinggi bisa lewat ilmu. Tentu bukan sembarang ilmu, lebih tepatnya adalah ilmu syar’i.

Ilmu yang dapat memasukkan kita ke surga dan menghindarkan dari neraka tersebut akan lebih terasa kita reguk jika berada di pusatnya, yaitu: di kota Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Kota Madinah di negara Arab Saudi.

Kita memang merindukan untuk datang ke sana suatu saat nanti. Untuk beribadah melalui haji dan umrah, maupun menuntut ilmu di Masjid Nabawi misalnya.

Kapan hal itu akan terjadi? Kita berdoa dan berharap saja kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nah, sebelum hal itu menjadi kenyataan, ada cara lebih mudahnya, melalui orang yang sudah belajar di sana.

Alhamdulillah, hal itu benar-benar terjadi tadi malam, Sabtu (06/11/2011) melalui acara NGOPI atau Ngobrol Perkara Iman.

Narasumber atau pemateri adalah Ustadz Ilyas Amiruddin, Lc, MA, alumnus S1 dan S2 Universitas Islam Madinah. Alhamdulillah.

Membedakan Keduanya

Masih berlokasi yang sama di Kafe De’ran, Kelurahan Lampopala, Kecamatan Rumbia. Dimulai kurang lebih pukul 20.10 WITA.

Pematerinya spesial, pembawa acaranya juga spesial. Biasanya adalah Ustadz Muhammad Syarwan, alumnus STIBA Makassar yang belum menikah. Sekarang adalah Ustadz Amiruddin yang sudah berkeluarga.

Ustadz Ilyas memulai pembahasan materi “Saatnya Menyapa Hidayah” dengan memberikan persepsi dua hal yang berbeda, antara menyapa hidayah dengan hidayah menyapa.

Kalau menyapa hidayah, maka kita sendiri yang menjemputnya, menggapainya, atau melakukan usaha untuk mendapatkannya. Sementara hidayah menyapa tatkala hidayah itu memang betul-betul datang ke diri kita.

Persoalan hidayah memang sangatlah penting, karena banyak orang yang awalnya mendapatkan, lalu menjadi futur. Menjadi lemah.

Ada dua faktor kata Ustadz Ilyas. Satu adalah faktor internal, dari hawa nafsu kita. Satunya lagi faktor eksternal, berasal dari pengaruh lingkungan.

Dari situ, Ustadz Ilyas memberikan pesan, “Jangan sekali-kali berteman dengan orang jahat jika tidak bisa mengajaknya kepada kebaikan. Karena bisa jadi kitalah yang diwarnai dan dipengaruhinya.”

Ustadz yang fokus untuk belajar Sejarah Islam ini memberikan cukup banyak kisah orang terdahulu agar dapat dijadikan pelajaran. Seperti kisah Ubaidullah bin Jasm yang hijrah bersama Ummu Habibah ke Habasyah. Ternyata, di negeri itu, dia menjadi murtad, masuk agama Nasrani.

Begitu juga kisah dua sahabat terkenal, Salman al Farisi dan Abu Dzar al Ghifari yang menempuh perjalanan jauh untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Kisah mantan ulama juga diceritakan oleh beliau. Misalnya, cerita tentang Abdullah bin Qasim. Dulunya membela Islam dari serangan Syiah. Ternyata di akhir hidupnya menjadi murtad atau atheis karena terkena syubhat masalah takdir.

Memang Sangat Mahal

Ada sebuah video tentang orang yang terlihat memamerkan mobil barunya. Mobil tersebut memang bermerek terkenal. Pasti tidak setiap orang mampu membeli, apalagi memilikinya.

Kebanggaan mempunyai mobil mewah semacam itu, justru mengantarkan kepada ajalnya sendiri. Sesuatu yang dia banggakan dalam hatinya, malah merenggut nyawa dengan kejadian yang cukup mengenaskan. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun.

Secara manusiawi, sesuatu atau hal yang didapatkan dengan biaya atau pengorbanan yang mahal akan selalu dijaga. Seperti mobil, rumah, perhiasan, sampai dengan HP, tidak diperlakukan dengan semena-mena.

Begitu juga dengan istri yang didapatkan dengan biaya tidak murah. Menabung bertahun-tahun, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, berusaha menambah pendapatan, di tengah bullyan “jomblo” dari teman sendiri.

Pada akhirnya biaya sangat besar tersebut yang berhasil dikumpulkan, habis dalam waktu satu hari atau satu malam saja. Acara pernikahan yang cukup meriah. Masya Allah.

Kalau untuk sesuatu yang kaitannya dengan dunia saja, kita harus menjaganya, apalagi hidayah. Sebab, hidayah ini berkaitan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Mahalnya hidayah sama sekali tidak bisa dinilai dengan uang, sebanyak apapun itu. Jika bisa dinilai dengan uang, maka orang kaya akan berlomba-lomba untuk membelinya.

Kita bisa melihat contoh nyata. Abu Thalib adalah paman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Banyak membantu perjuangan nabi kita yang mulia tersebut.

Bagaimana dengan akhir hidupnya? Subhanallah, beliau meninggal dalam keadaan kafir. Tetap setia kepada agama bapaknya, Abdul Muthalib, yang menyembah berhala.

Kurang apalagi beliau? Dekat dengan nabi, banyak berkorban untuk nabi, melindungi nabi, tetapi hanya untuk mengucapkan kalimat sesuai yang dituntunkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sama sekali tidak bisa.

Bahkan, setelah Abu Thalib meninggal, Allah pun melarang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mendoakan beliau. Tambah miris untuk dirasakan memang.

Sesi Diskusi

Agar lebih menghangatkan suasana, di tengah sebagian hadirin yang memesan kopi hitam atau kopi susu hangat, diberikan waktu diskusi. Ada kesempatan untuk tanya jawab.

Ada yang menanyakan tentang generasi tua yang sudah luntur imannya. Tentang hal tersebut, Ustadz Ilyas menjawab,

“Orang tua perlu mentarbiyah dirinya sendiri dulu. Setelah itu, mendidik anaknya di rumah, sebelum anaknya bergaul ke luar sebab pendidikan di sekolah memang terbatas.”

Hadirin yang lain menanyakan tentang takdir. Katanya, manusia itu berubah karena usahanya sendiri, sedangkan Allah yang menetapkan segala sesuatunya, bagaimana memadukan kedua hal tersebut?

Menurut Ustadz Ilyas, Allah memang menetapkan takdir sebelum menciptakan bumi atau dunia ini. Sementara usaha dan doa manusia itu juga bagian dari takdir.

Beliau mencontohkan perkataan Umar bin Khattab yang menghindari takdir satu menuju takdir yang lainnya. Bukankah hal tersebut membutuhkan usaha juga?

Pertanyaan terakhir, berkaitan dengan kelompok-kelompok Islam yang ada saat ini. Ada yang masuk ormas ini, ormas itu, kelompok ini, kelompok itu, bagaimana hubungannya dengan hidayah?

Ustadz Ilyas menjawab bahwa hidayah itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan organisasi atau kelompok. Orang yang mendapatkan hidayah itu bisa saja masuk ke organisasi Islam yang beraneka ragam sekarang ini.

Hal yang penting adalah organisasi itu cuma wasilah, cuma sarana untuk menjalankan agama Islam ini, bukan sebagai tujuan utama.

Mau apapun organisasinya, selama agama, ibadah, dan akhlaknya bagus, maka itu sudah termasuk ahlussunnah atau mengamalkan ajaran salaf.

Sesi diskusi ini memang terbatas waktunya. Sementara yang datang adalah para pemuda dengan wajah baru.

Ketika diberikan kesempatan bertanya, bisa jadi mereka merasa malu atau kurang PD. Apalagi berbicara langsung dengan mikropon.

Oleh karena itu, perlu dipikirkan sarana untuk bertanya dengan cara menyediakan kertas dan pulpen. Mereka dapat menuliskan pertanyaan tanpa harus menyebutkan nama, tanpa harus mengeluarkan suara dari mulut.

Acara sudah ditutup, masih ada diskusi kecil-kecilan dengan Ustadz Ilyas. Beliau memang benar-benar dimanfaatkan keluasan ilmunya semaksimal mungkin. Bisa jadi, untuk kesempatan berikutnya, beliau tidak mengisi lagi.

Beliau membahas tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Al-Albani, semoga keduanya dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sekaligus membela keduanya dari celaan orang-orang yang membenci. Masya Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here