Rindu yang Satu Ini Memang Berat, Tak Semua Orang Kuat (NGOPI #2 di Kafe The Ran Bombana)

0
159

Kita pasti mengenal, di setiap pertemuan, selalu ada perpisahan. Pertemuan yang didasari oleh rasa cinta dan sayang, saat berpisah dapat memunculkan rindu. Ada yang mengatakan bahwa rindu itu berat, cukup dia saja yang mengalami. Nyatanya, rindu itu bisa berada dalam dua sisi, secara teoritis, maupun aplikatif.

Seorang suami yang rindu dengan istrinya di tempat jauh, mungkin akan sering menelepon. Chat melalui Whatsapp maupun Telegram. Bisa juga dengan video call melalui kedua aplikasi tersebut. Nah, ketika keperluannya sudah selesai, suami akan pulang kembali ke rumah. Saat itulah, rasa rindu menjadi lebih terpuaskan. Yah, namanya juga suami istri.

Ada pula rindu yang didasari oleh rasa cinta tanpa hubungan pernikahan maupun keluarga. Seperti rindu yang dialami oleh para NGOPIERS alias para laki-laki muslim yang pekan lalu mengikuti acara NGOPI di Kafe The Ran, Bombana. Mereka rindu untuk berkumpul kembali, belajar Islam lagi, menikmati gorengan dan kopi, serta sebagian menghibur hati yang sedang sepi.

Pada Sabtu (23/10/2021), tadi malam mulai pukul 20.30 WITA, dilangsungkan untuk kedua kalinya NGOPI alias Ngobrol Perkara Iman. Kali ini memang benar-benar langsung karena disiarkan melalui fanpage Wahdah TV Bombana.

Tema yang diangkat dan dilambungkan adalah “Untukmu yang Merindukan Surga”. Ada kata “rindu” di situ, seperti apa penjelasannya? Mari kita simak tulisan ini sampai selesai!

Cita-cita Tertinggi

Pembicara NGOPI kali ini masih tetap Ustadz Akbar Jabba, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana. Pembawa acara juga masih sama dengan pekan lalu, Ustadz Muhammad Syarwan. Keduanya adalah alumnus STIBA Makassar. Hanya bedanya, Ustadz Akbar sudah menikah ketika kuliah. Sementara itu, Ustadz Syarwan, panggilan akrabnya, setelah lulus kuliah, sampai sekarang masih seperti itulah.

Ustadz Akbar mengatakan dalam pembahasan awal tentang tema ini, “Masuk surga adalah keinginan kita. Yang tidak mau masuk surga cuma orang yang tidak berakal saja.”

Dari situ, tercetuslah cita-cita tertinggi seorang muslim sejatinya adalah masuk surga. Perbandingan surga dengan dunia ini sangatlah jauh berbeda. Jauh lebih berharga surga dibandingkan dunia.

“Satu pasirnya saja lebih baik daripada dunia dan seisinya. Bagaimana dengan istananya, airnya, pakaiannya, dan kenikmatan lainnya. Surga belum pernah dilihat oleh manusia, didengar oleh telinga, dan terbetik di hati manusia.” Ulas Ustadz Akbar.

Ketika muncul cita-cita tertinggi adalah surga, lalu apa faktor yang mendasarinya? Mengapa kita harus berusaha untuk masuk surga? Menurut Ustadz Akbar, motivasi menjadi penghuni surga bagi laki-laki muslim adalah demi mendapatkan bidadari.

“Di dunia ini, fitnah terbesar bagi laki-laki adalah perempuan. Jangan mengira bahwa orang yang sering tampil di depan itu aman. Justru, makin besar godaannya. Apalagi jika jarang ketemu perempuan. Baru ketemu wanita yang tua saja, bisa langsung terfitnah.”

Begitulah Ustadz Akbar menjelaskan tentang besarnya fitnah wanita. Makanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyiapkan bidadari untuk para laki-laki. Cuma ada bidadari, tidak ada bidadara. Perempuan sudah ditakdirkan untuk dipoligami, bahkan di dalam surga. Namun, tenang saja, iri, dengki, cemburu, sudah tidak ada lagi di tempat paling mulia tersebut.

Kalau bidadari sedemikian cantiknya, sebegitu wanginya, dan sangat mempesona, bagaimana dengan wanita muslimah di dunia ini? Ustadz Akbar mengatakan, “Perempuan di dunia ini nantinya akan jadi ratunya bidadari.”

Jangan Tanggung

Meskipun kita sudah banyak dosa, bahkan mungkin terlalu banyak dosa, tetapi tetap saja kita meminta kepada Allah berupa surga Firdaus. Surga yang paling tinggi tersebut mestinya menjadi dambaan kita. Jangan merasa kurang percaya diri (PD) dengan meminta, “Ya Allah, minta surga, meskipun cuma di emper-empernya saja.”

Hal seperti itu dapat saja berbahaya. Jika kita minta surga Firdaus, ternyata nanti di akhirat tidak bisa mencapainya, boleh jadi kita dapat surga di bawahnya. Namun, kalau mintanya emperan surga, bila tidak bisa mencapainya? Anda sudah pasti tahu jawabannya!

Motivasi untuk mendapatkan yang tertinggi ibaratnya seperti di sekolah. Pada waktu lalu, ada perangkingan di dalam kelas. Rangking 1, 2, 3 biasanya diperebutkan oleh para murid. Meskipun begitu, ada juga yang motivasinya sekadar naik kelas. Atau, dalam bentuk lainnya, “Tidak apa-apa tidak rangking 1, 2, 3, yang penting saya masuk 40 besar!” Itu ‘kan cara pandang murid yang kacau plus galau.

Agar bersemangat mencari surga, kita bisa mencontoh para pendahulu. Utamanya dari generasi sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Ambil contoh, kisah yang menawan dan mengesankan dari pribadi Mus’ab bin Umair radhiyallahu anhu.

Sebelum masuk Islam, Mus’ab adalah pemuda yang tampan, rupawan, paling wangi parfumnya, dan anak orang kaya raya. Ketika dia lewat, bau parfumnya masih tercium. Pesona seperti itu jelas dikagumi oleh para gadis di masanya.

Akan tetapi, ketika Mus’ab memutuskan untuk masuk Islam, segalanya berubah 180 derajat! Mus’ab diboikot oleh keluarganya, diusir, segala kekayaan dan kemewahan hidupnya dipreteli. Mus’ab berubah menjadi pemuda yang miskin dan serba kekurangan.

Itu dari sudut pandang manusia. Sejatinya, beliau adalah orang yang sangat kaya, terutama kaya hati, kaya iman. Buktinya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengutus beliau ke Madinah untuk berdakwah. Sendirian pula. Jelas Rasulullah melihat potensi luar biasa yang ada pada diri Mus’ab. Bukan pemuda yang sembarangan. Jauh melesat dibandingkan pemuda sekarang yang sebagian adalah pemuda kaleng-kaleng. Entah, apakah itu maksudnya kaleng susu ataukah kaleng biskuit?

Berkat dakwah dari Mus’ab, ditambah tentu dengan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, perkembangan Islam di Madinah berkembang drastis. Kota tersebut menjadi tujuan hijrah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau yang mulia. Peradaban Islam dibangun di sana. Sampai sekarang kita bisa merasakan keberkahan dari kota tersebut. Masya Allah.

Masih mau lagi mendengar cerita tentang pemuda Islam yang luar biasa? Kalau tadi Mus’ab yang cuma seorang, kini ada dua pemuda yang tidak kalah nama harumnya. Mereka adalah Muadz bin Amr bin Jamuh yang masih berusia 14 tahun. Yang kedua adalah Muawwidz bin Afra’ dengan usia 13 tahun.

Sebelumnya, mereka bertanya kepada Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu, yang manakah Abu Jahal? Sahabat senior tersebut merasa heran, kok ada anak muda yang mengincar Abu Jahal? Alasannya, mereka mengetahui bahwa Abu Jahal sering mencela Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka, mereka berlomba untuk membunuhnya.

Abdurrahman pun kagum. Beliau memberitahu mereka. Ketika kedua anak muda itu tahu sosok Abu Jahal, mereka berusaha untuk menyerbu orang yang juga dikenal sebagai Fir’aun umat ini. Meskipun Abu Jahal dijaga sangat ketat, mereka berhasil juga menumbangkan tokoh kemusyrikan tersebut.

Keduanya melapor kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam telah membunuh Abu Jahal. Nabi melihat kedua pedang pahlawan cilik tersebut yang masih terlumuri darah Abu Jahal. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan bahwa mereka telah membunuh musuh Islam tersebut.

Dari situlah, kedua anak muda itu termasuk dalam pahlawan yang heroik membela Islam. Mereka sangat bersemangat untuk membela Islam, membela Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Jelas bukan termasuk anak kemarin sore. Walaupun, kalau ada anak lahir kemarin sore, tidak langsung besar dan langsung menjadi remaja bukan?

Jalan Menuju Surga

Kalau sudah merasa rindu kepada surga, lalu bagaimana memuaskan rindu tersebut? Bagaimana caranya menuju ke sana? Bukankah rindu itu bisa dihilangkan dengan bertemu sesuatu yang dirindukan?

Ustadz Akbar menjelaskan, jalan menuju surga adalah dengan menuntut ilmu. Apakah sembarang ilmu? Oh, tentu tidak! Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i atau ilmu agama Islam.

Dari persepsi tentang ilmu tersebut, berkembang menjadi tempat pembelajaran yang kita kenal selama ini sebagai pesantren. Ternyata, sudah banyak pesantren yang melenceng dari orientasi ilmu syar’i yang lurus. Contohnya: penggunaan bahasa Arab yang tidak sama lagi dengan kaidahnya yang murni.

Selain itu, ada juga pesantren yang terpengaruh dengan konsep Islam yang salah, seperti: Islam Nusantara. Paradigma Islam jenis ini dibedakan dengan Islam Arab atau Islam Timur Tengah yang dianggap ekstrim.

Ustadz Akbar membantah bahwa Islam yang benar itu cuma satu jalan, yaitu: Al-Jamaah. Golongan itulah tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya berdiri. Jika kita ingin selamat, maka harus mengikuti jalan tersebut.

Peluang yang Bisa Diambil

Potensi acara NGOPI ini sangatlah besar. Meskipun sekarang yang datang masih sedikit, tetapi ada rasa optimisme bahwa acara tiap malam Ahad ini akan terus melesat. Tempatnya nyaman, santai, beda atau lain daripada yang lain. Biasanya belajar Islam cuma di masjid, tidak ada gorengan maupun kopi. Sedangkan NGOPI di kafe The Ran Bombana mendatangkan sensasi yang menyenangkan, seperti kata Ustadz Syarwan sebagai MC.

Acara yang masih didukung oleh WIZ Gerai Bombana tersebut membuka peluang atau kesempatan bagi Anda untuk berpartisipasi sebagai sponsor. Insya Allah, keterlibatan Anda menjadi sponsor tersebut akan mendapatkan pahala yang besar. Bagaimana tidak, karena yang dibahas adalah ilmu-ilmu syar’i. Ilmu-ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sesuai dengan pemahaman para sahabat beliau.

Minuman dan makanan yang dikonsumsi oleh yang hadir mampu mendatangkan pahala juga, ketika tubuh-tubuh mereka dipakai untuk beribadah kepada Allah. Bukankah amal yang terbaik itu adalah amal jariyah? Bukankah kita mengenal bahwa salah satu amal jariyah itu adalah ilmu yang bermanfaat? Nah, tunggu apalagi, kesempatan untuk menuju ke sana, peluang untuk merindukan surga, terbuka selebar-lebarnya.

Bagi Anda yang ingin memberikan donasi atau sponsor acara NGOPI, dapat menghubungi Ketua WIZ Gerai Bombana, Riski Rizal, dengan mengeklik link DAFTAR DONASI NGOPI KAFE THE RAN BOMBANA. 

Insya Allah, nantikan acara NGOPI selanjutnya. Tentunya dengan tema yang menarik dan menambah pengetahuan dan pemahaman kita tentang agama yang mulia dan kita cintai ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here