NGOPI yang Tidak Sekadar Ngopi (Belajar Islam di Kafe The Ran Bombana)

0
251

Persepsi orang tentang kafe biasanya identik dengan tempat orang nongkrong dan nangkring. Kumpul-kumpul dengan menikmati sajian makanan, minuman, bahkan live musik. Meskipun, yah, tetap, mereka kumpul tetapi sibuk dengan gadget masing-masing. Secara fisik bertemu dan berjumpa, tetapi sejatinya dunia maya yang lebih terasa.

Dari persepsi yang dirasa kurang bagus tersebut, kok kurang tepat bila anak muda yang dekat dengan masjid, malah sering nongkrong di situ. Seharusnya, dia menjaga pergaulan agar tidak tercemari dengan hal-hal lain di luar agama. Namun, eits, tunggu dulu! Tidak semuanya seperti itu. Tidak selamanya akan begitu. Dan, tidak seterusnya sama seiring waktu.

Seperti yang dibuktikan tadi malam, Sabtu (16/10/2021). Sebuah gebrakan dan inovasi dakwah dari DPD Wahdah Islamiyah Bombana yang didukung penuh oleh WIZ Gerai Bombana. Mungkin ini bukan yang pertama kalinya, melainkan untuk tempat adalah yang perdana. Mengambil lokasi di Kafe The Ran, Kelurahan Lampopala, Kecamatan Rumbia, dilangsungkan ta’lim atau yang lebih tepatnya adalah NGOPI alias Ngobrol Perkara Islam.

Berbicara Tentang Dosa dan Kesalahan Manusia

Sekitar pukul 20.30 WITA, acara dimulai. Dibuka oleh MC seorang anak muda lulusan STIBA Makassar yang belum menikah, Ustadz Muhammad Syarwan, S.H. MC langsung menggebrak dengan fenomena anak muda yang terkait dengan media sosial. Fokus di situ adalah pada anak mudanya. Golongan masyarakat ini memang perlu untuk ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya, terutama dalam pemahaman agama Islam.

Pemaparan dari Ustadz Akbar Jabba, S.Pd.I, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana, menyebutkan bahwa manusia memang tempatnya salah dan dosa.

“Apakah ada yang hadir di sini tidak punya dosa sama sekali? Saya rasa tidak ada, ya!” Ujar Ustadz Akbar sambil tersenyum.

Beliau mengapresiasi kehadiran para ABG di situ, membandingkan usia beliau yang 39 tahun dengan audiens anak muda, sebagian dari SMA Negeri 03 Bombana dengan usia 16-17 tahun. Orang yang lebih tua usia mungkin saja dosanya lebih banyak. Sedangkan yang masih remaja itu kesalahannya lebih kecil dan peluang untuk berbuat baik malah lebih banyak.

Ketika manusia adalah tempatnya salah dan dosa, lalu mengapa Allah menetapkan seperti itu? Bukankah Allah tidak suka dengan perbuatan dosa?

Ustadz Akbar menegaskan bahwa Allah memang tidak suka dengan perbuatan dosa, tetapi bukan membenci orangnya. Manusia yang lemah dan mudah tergoda hawa nafsu, saat berbuat dosa, maka dia berada dalam level yang rendah. Namun, saat dia bertaubat dan kembali kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya, ditambah dengan mengangkatnya ke derajat yang lebih tinggi. Masya Allah.

Dosa yang Tidak Diampuni dan Dosa Kecil

Bagaimana dengan dosa yang tidak diampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Bukankah kita mengenal bahwa dosa syirik termasuk di dalamnya?

Kata Ustadz Akbar, “Dosa yang tidak diampuni, yaitu: dosa syirik itu nanti berlakunya di hari kiamat atau ketika meninggal dalam keadaan syirik.”

Hal tersebut dapat diartikan bahwa pelaku syirik yang memang nyata dosa besar, masih bisa diampuni oleh Allah sebelum si pelaku tersebut meninggal dunia.

Mungkin sebagian dari kita jarang melakukan dosa besar. Ustadz Akbar bertanya kepada audiens seraya tertawa ringan, “Adakah di sini yang pernah membunuh orang? Membunuh orang itu termasuk dosa besar lho!”

Dosa besar, Insya Allah, dapat kita hindari. Namun, Ustadz Akbar menyebutkan ada dosa yang susah untuk dihindari, yaitu: dosa kecil. Inilah yang bisa tanpa sadar atau tidak disengaja kita lakukan. Apalagi jika dosa kecil tersebut sudah dijadikan kebiasaan sehari-hari, terlebih ketika bertemu dengan orang lain.

Ketika nanti di hari kiamat, semua dosa manusia akan ditampakkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak ada yang terluput dan tidak ada yang disembunyikan. Nah, lalu kaitannya dengan orang yang bertaubat bagaimana? Kalau sudah bertaubat, kok masih ditampakkan?

“Semua dosa akan diperlihatkan di hari kiamat. Lalu, setelah itu, bisa saja dihapuskan semua dengan taubat dan istiqfar kita.” Tambah ustadz yang juga alumnus STIBA Makassar ini.

Sesi Diskusi dan Pertanyaan

MC membuka kesempatan bagi yang hadir untuk mengajukan pertanyaan. Seseorang bertanya tentang hukum dari jilatan anjing pada bejana. Apakah air dalam bejana itu tidak bisa dipakai lagi?

“Allahu ‘alam. Yang jelas jika bejana dijilat anjing, maka cukup dibersihkan di luarnya saja. Untuk najis anjing ini memang spesial, cara mensucikannya adalah membersihkan dengan enam kali tanah dan satunya pakai air.” Jawab Ustadz Akbar.

Pertanyaan selanjutnya tentang kunci istiqomah. Pemateri satu-satunya tersebut menanggapi pertanyaan dengan tiga tips, antara lain: Pertama, mencari ilmu syar’i. Kedua adalah berteman dengan orang-orang yang saleh, sebab agama kita sesuai dengan siapa teman kita. Dan, yang ketiga adalah berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, memohon agar kita selalu istiqomah.

Acara tersebut berakhir sekitar pukul 21.30 WITA. Dilihat dari raut muka audiens, mereka merasa puas. Apalagi dengan suasana baru, ta’lim, kajian, atau belajar Islam, ternyata bisa juga di dalam kafe.

Meskipun yang datang semuanya laki-laki, tetapi boleh juga jika mengajak perempuan. Nantinya, tempat akan disesuaikan atau disetting semaksimal mungkin.

Sesuai format yang ada, NGOPI ini dibuka untuk umum. Siapa saja boleh ikut, siapa saja boleh hadir. Sebab, pada dasarnya semua orang berhak atas hidayah, berhak atas ilmu. Ustadz Akbar pun mencontohkan di Arab Saudi sana, ada seorang pemuda yang suka berdakwah masuk ke kafe-kafe. Dia meminta untuk dimatikan musiknya terlebih dahulu, lalu berdakwah. Hasilnya, Masya Allah, luar biasa.

Dari NGOPI yang dilaksanakan di kafe, siapa tahu yang datang berikutnya nanti dapat lebih mengenal keutamaan sholat, misalnya. Atau yang belum berjilbab secara sempurna alias buka tutup, dapat lebih istiqomah. Siapa tahu bukan? Bukankah yang berhak memberi hidayah itu adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Tugas kita hanyalah mengajak, persoalan istiqomah atau tidak, kita serahkan kepada Allah.

Untuk pekan berikutnya, Insya Allah akan dilaksanakan lagi di tempat yang sama. NGOPI menjadi menarik karena berbagai sajian yang diberikan, seperti: gorengan, es jeruk, kopi susu, kopi tanpa susu, dan lain sebagainya. Sajian yang manis, tetapi yang lebih manis lagi adalah sajian ilmu agama Islam. Kapan lagi ada acara seperti itu bukan?

Tidak lupa, acara NGOPI disponsori oleh WIZ Gerai Bombana. Hadirin digratiskan makanan dan minuman. Alhamdulillah. Kenikmatan yang juga tidak bisa dikatakan sepele. Nantikan info selanjutnya untuk acara NGOPI dan kegiatan-kegiatan di bawah DPD Wahdah Islamiyah Bombana lainnya ya…!

Sebelum tulisan ini betul-betul selesai, silakan dilihat dokumentasinya yang juga berupa video:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here